Marley And Me

Marley And Me Marley And Me

Crank:High Voltage

Crank:High Voltage Crank:High Voltage

WATCHMEN - The Movie

WATCHMEN - The Movie WATCHMEN - The Movie

Bedtime Stories

Bedtime Stories Bedtime Stories
Latest News

Video Shooting dengan Multi Kamera

Posted by dutabayu on 12 Januari 2010 , under | komentar (0)



Jika suatu produksi dibagi berdasarkan kamera yang digunakan, maka ada dua jenis, pertama produksi acara televisi menggunakan satu kamera atau singlecam system, kedua jika produksi menggunakan lebih dari satu kamera, multicam system. Terdapat banyak perbedaan di antara ke dua sistem ini, baik dari sisi peralatan yang digunakan maupun dari proses kerjanya. Kalau suatu produksi acara televisi bisa dibuat dengan sistem singlecam, mengapa harus ada multicam ?

Multicamera adalah format shooting dengan menggunakan lebih dari satu kamera, dihubungkan melalui satu sistem yang terintegrasi. Jadi, kalaupun menggunakan lebih dari satu kamera ketika tidak terintegrasi satu sama lain maka format tersebut belum bisa dikategorikan sebagai multicam system. Sedangnkan dari segi penayangannya bisa disiarkan secara langsung (live) atau tayang tunda (live on tape). Jenis acara televisi yang menggunakan multicamera di antaranya : talkshow, sitkom, game show, music show, quiz, magazine, variety show.

Tidak seperti pada sistem singlecam, peralatan yang digunakan pada multicam jauh lebih kompleks, banyak peralatan yang dipergunakan. Paling tidak peralatan di bawah ini yang digunakan pada shooting dengan sistim multikamera.

* Kamera
* CCU/ Camera Control Unit
* Vision Mixer/Switcher
* Monitor
* Video Tape Recoder
* Character Generator
* Waveform
* Talkback
* Teleprompter
* Audio Mixer
* Audio Set/(Clip On, Boom Mic,etc.)

Semua peralatan di atas terbagi atas dua tempat, yakni di studio atau dilapangan serta di Master Control Room/MCR.

Kamera

Secara umum ada tiga jenis kamera yang digunakan untuk produksi televisi, yakni kamera ENG atau Electonic News Gathering. Kamera ENG sesuai namanya biasanya digunakan untuk liputan di lapangan atau outdoor. Yang ke dua adalah jenis kamera EFP atau Electronic Field Production, yaitu jenis kamera yang dipeuntukan produksi baik untuk keperluan indoor maupun outdoor. Dan yang ke tiga adalah kamera studio, yakni jenis kamera yang memang di desain untuk keperluan studio yang biasanya digunakan dengan lokasi indoor.

Lalu kamera mana yang digunakan dalam multicam system? Sebenarnya hampir semua jenis kamera bisa digunakan dalam produksi dengan sitem multikamera. Namun, yang paling umum digunakan tentu saja adalah kamera studio atau paling tidak kamera EFP. Karena ke dua jenis kamera di atas terutama kamera studio memiliki fasilitas lengkap yang bisa diintegrasikan satu sama lain.

CCU/Camera Control Unit

Ini merupakan satu alat yang bisa mengontrol beberapa fungsi yang ada di kamera. Yang bisa dikontrol atau digantikan fungsinya melalui alat ini diantaranya adalah pengaturan pencahayaan (brightness contrast) , temperatur warna (color temperature), kecepatan (shutter speed), white balance, serta warna hue (red, green, blue). Jumlah CCU yang digunakan sama persis dengan jumlah kamera yang digunakan karena masing-masing kamera dikontrol oleh satu CCU.

Vision Mixer

Satu alat untuk mengatur pemilihan gambar lengkap dengan berbagai jenis transisi. Banyak jenis vision mixer, dari yang paling sederhana yang hanya memiliki tiga source input dengan satu source ouput sampai yang paling lengkap dengan source input dan output puluhan. Alat ini berbentuk keyboard dengan banyak tombol dengan masing-masing fungsi.

Monitor

Berfungsi untuk melihat tampilan visual yang dihasilkan dari kamera. Banyaknya monitor yang digunakan tentu saja tergantung dari berapa kamera yang digunakan. Ada monitor dari berbagai source kamera, monitor preview, serta monitor hasil akhir.

VTR/Video Tape Recorder

VTR/Video Tape Recorder atau biasa juga disebut VCR/Video Cassette Recorder digunakan untuk merekam hasil shooting. Ada dua jenis VTR yang digunakan yakni VTR yang digunakan untuk merekam dan VTR yang digunakan untuk menayangkan source video/play back yang sebelumnya sudah dibuat, biasa juga dikenal dengan sebutan VT.

Character Generator

Biasa juga disebut dengan CG atau Chargen , ini adalah untuk membuat serta menampilkan title,sub title. Serta graphic yang dibutuhkan dalam tayangan produksi acara televisi. Ada yang berbentuk keyboard yang dihugungkan langsung ke vision mixer, ada juga beerbentuk satu unit komputer yang berdiri sendiri yang bisa dihubungkan ke vision mixer.

Waveform

Alat ini digunakan untuk mengukur kualitas video yang dihasilkan oleh masing-masing kamera serta dari VT. Juga bisa digunakan untuk mengukur audio. Waveform menampilkan graphic yang menjadi parameter atau acuan yang bisa digunakan apakan kualitas video dan audio sudah sesuai harapan atau belum.

Talkback

Untuk sarana komunikasi antar kru yang terlibat dalam sebuah produksi televisi dengan multikamera diperlukan alat komunikasi. Alat vital ini dinamakan talkback. Tidak seperti pada kamera ENG, dalam kamera EFP dan kamera studio, talkback bisa diintegrasikan langsung di kamera tersebut. Talkback terdiri atas microphone serta headset.

Teleprompter

Tidak semua produksi multikamera memerlukan alat ini, sangat tergantung dari jenis acara yang diproduksi. Ini merupakan alat bantu bagi anchor atau pembawa acara untuk menyampaikan informasi tertentu. Satu set alat ini terdiri dari monitor yang diintegrasikan pada kamera serta satu unit komputer di MCR.

Audio Mixer

Pengaturan suara dilakukan menggunakan audio mixer, yang tidak hanya mengatur volume tinggi rendahnya suara yang dihasilkan tapi meliputi berbagai kepentingan audio secara keseluruhan.

Bagaimana Peralatan Ini Terintegrasi ?

Seperti dijelaskan di atas bahwa salah satu syarat sebuah produksi dikatan menggunakan system multicamera, ketika masing-masing alat tersebut terintegrasi satu sama lain. Secara skematik sederhana adalah sebagai berikut : Kamera terhubung dengan CCU, dari CCU masuk source input ke Vision Mixer, dari Vision Mixer dikeluarkan melalui VTR.

Dapatkan DOMAIN

Posted by dutabayu on 15 Desember 2009 , under | komentar (0)



Dapatkan segera !!! Ingat saya tidak memaksa anda

SEBELUM ANDA MENGIKUTINYA SEBAIKNYA ANDA BACA KETENTUAN DAN LAYANAN MEREKA ATAU BACA " F A Q "


caranya :

1. Daftarkan dirimu secara lengkap disini http://www.freedomainsbox.com/signup.php

2. Setelah daftar, aktivasikan account kamu lewat email

3. Setelah account kamu telah teraktivasi klik "refer other people" pada control panel kamu

4. nah sekarang bagi-bagikan/sebarluaskan ke teman2 kamu lewat blog kek, lewat facebook kek terserah anda deh

5. dan anda akan mendapatkan domain setelah anda mendapatkan point

untuk domain dengan akhiran .com anda harus mempunyai 7 point yg terkumpulkan, untuk .net 7 point, .info 10 point, .org , .bis , .us , .name , masing-masing 7 point, untuk .mobi diperlukan 10 point

selesai !!!

Template Monster Flash Templates Pack #4 By WMForce Team

Posted by dutabayu on 13 Desember 2009 , under | komentar (0)



50 Flash & XML Flash Templates | 865 Mb

Series 7000 [1]:7912
Series 13000 [1]:13357
Series 14000 [1]:14310
Series 15000 [1]:15441
Series 20000 [3]:20348, 20534, 20671
Series 22000 [2]:22017, 22614
Series 23000 [2]:23161, 23894
Series 24000 [3]:24063, 24789, 24864
Series 26000 [36]:26064, 26074, 26078, 26082, 26109, 26121, 26126, 26154, 26155, 26187, 26251, 26278, 26313, 26366, 26367, 26388, 26389, 26390, 26401, 26418, 26429, 26433, 26461, 26462, 26464, 26485, 26506, 26520, 26529, 26536, 26537, 26561, 26562, 26568, 26600, 26605

perihal:

"50 Flash & XML Flash Templates | 865 Mb Series 7000 [1]:7912 Series 13000 [1]:13357 Series 14000 [1]:14310 Series 15000 [1]:15441 Series 20000 [3]:20348, 20534, 20671 Series 22000 [2]:22017, 22614 Series 23000 [2]:23161, 23894 Series 24000 [3]:24063, 24789, 24864 Series 26000 [36]:26064, 26074, 26078, 26082, 26109, 26121, 26126, 26154, 26155, 26187, 26251, 26278, 26313, 26366, 26367, 26388, 26389, 26390, 26401, 26418, 26429, 26433, 26461, 26462, 26464, 26485, 26506, 26520, 26529, 26536, 26537, 26561, 26562, 26568, 26600, 26605"
- desain gratiz (lihat di Google Wikipinggir)

Backtrack 4 Pre Release

Posted by dutabayu on 15 November 2009 , under | komentar (0)



Image

Remote Exploit baru2 ini merilis Backtrack 4 Pre Final,, bagi yang berminat silakan downlload...

Description: DVD Image
Name:: bt4-pre-final.iso
Size: 1390 MB
MD5: b0485da6194d75b30cda282ceb629654

http://mirror.switch.ch/ftp/mirror/backtrack/bt4-pre-final.iso


Tutor dalam bentuk PDF
http://www.offensive-security.com/backtrack4-guide-tutorial.pdf

Video tutornya
http://www.offensive-security.com/videos/backtrack-security-training-video/up-and-running-backtrack.html

Membuat Skenario

Posted by dutabayu on 14 November 2009 , under | komentar (0)



Skenario adalah unsur yang paling penting dalam sebuah produksi film (televisi) karena merupakan unsur yang dibutuhkan paling awal sebagai rancangan untuk membuat film. Dengan sebuah skenario yang baik, sebuah film telah selesai dibuat dalam bentuk tertulis.
 
Cerita Dasar
Sebelum membuat skenario, kita harus tahu apa yang akan kita tulis. Jangan tergesa untuk segera menuliskan adegan pertama. Yang pertama kita butuhkan adalah cerita dasar (basic story), sebuah penjelasan tentang siapa, kapan, kenapa, dimana dan bagaimana dari hal yang ingin kita buat skenarionya. Cerita dasar, boleh juga kita  istilahkan sebagai sinopsis umum atau sinopsis global.
 
Karakter
Dalam skenario yang akan kita buat, akan muncul tokoh-tokoh. Kita harus membuat dan mengenalinya lebih dalam. Gunanya banyak. Kita akan tahu bagaimana tokoh tersebut berdialog, berpikir dan bertindak. Kita akan tahu bagaimana si tokoh akan memecahkan masalah. Juga bagaimana koflik antara satu tokoh dengan tokoh lain.
Pada tahap pencarian pemain (casting), penjelasan karakter juga sangat membantu untuk menemukan pemain yang cocok untuk memerankan tokoh yang dibuat. Selanjutnya, bagi pemain itu sendiri akan lebih mudah untuk memahami karakter tokoh yang harus dimainkannya.
Untuk mengembangkan karakter tokoh, kita bisa melakukannya dengan memberikan data mengenai : nama lengkap dan panggilan, agama, umur, hubungan keluarga dan pertemanan, kegemaran (ilmu pengetahuan, film, musik, olahraga, bacaan, makanan), ciri-ciri fisik, intelejensia, gaya busana, cara berbicara, sifat, tempat tinggal, dan lain-lain.
 
Set / Lokasi
Untuk membuat adegan, kita harus menentukan set dan lokasi (tempat adegan berlangsung) terlebih dahulu. Ini akan memudahkan kita untuk menentukan adegan. Sedang apa, posisinya dimana, dari mana, menuju kemana, melihat apa atau memandang ke arah mana.
Tempat kejadian berlangsung itu bisa berupa set yang dibangun di studio, misalnya ruang-ruang dalam rumah seperti teras, ruang tamu, ruang tengah, kamar, dapur atau kita menggunakan bagian dari bangunan rumah yang sebenarnya. Yang dimaksud set tidak selalu harus rumah, tapi juga jalan atau tempat lain.
Penjelasan set ini, selain berguna bagi kita ketika membuat skenario, juga berguna sebagai petunjuk bagi set builder untuk membangun set di studio atau bagi unit produksi untuk mencarikan bagunan yang akan dijadikan sebagai set yang sesuai dengan tuntutan skenario.
 
Sinopsis
Sebelum menulis skenario, kita harus pastikan cerita yang akan diskenariokan. Jangan sampai mereka-reka cerita ketika skenarionya dibuat. Cerita tersebut kita bisa buat secara ringkas, namun memuat unsur-unsur tokoh, waktu dan tempat kejadian, permasalahan, perkembangan masalah dan penyelesaiannya. Itulah sinopsis.
 
Alur Cerita (storyline)
Apabila sinopsis yang sudah kita buat akan dikembangkan menjadi skenario untuk tayangan televisi dengan durasi 24 menit, kita uraikan lagi sinopsis itu menjadi sebuah alur cerita (storyline) yang terbagi menjadi 4 babak (ACT) dengan perhitungan bahwa dalam penayangannya akan diselingi jeda iklan sebanyak 3 kali.
Tujuan dari pembuatan alur cerita ini adalah untuk menciptakan perkembangan persoalan dan unsur dramatik yang bisa selesai dalam satu fase di setiap babaknya sehingga penggalan iklan menjadi tidak terlalu mengganggu dan menciptakan adegan di bagian akhir yang membuat penonton ingin tahu kelanjutannya.

Tekhnis Pengambilan Gambar

Posted by dutabayu on , under | komentar (0)



Pembuatan film murah :
Yang penting kamera dulu, kalau perlu 2 kamera, baru pemain dan lokasi. Lampu minimalis, pakai yang murah yaitu sinar matahari, hati-hati dengan hard light dari matahari, lampu siap 1 saja, yang soft light. Sedikit lampu gambar lebih normal, lampu banyak karena lebih aman. Untuk ambil outdoor di hard light matahari pakai butterfly (kain 6×6) dari kain atau resin paper. Cobalah untuk scenario pengambilan gambar siang malam seimbang, untuk menurunkan cost terutama akomodasi. Daripada lighting dan sound kurang, mending common sense dulu.
Feature film :
2 kamera dan lighting (4 lampu).
Untuk lighting watt tergantung lensa dan ruangan yang sedang dipakai.
Watt besar menjadikan temperature cahaya konstan, tidak lebih flicker, minimal 2KW untuk 1 ruang (halogen 3200 kelvin)(ingat f number dan irish lampu).
Untuk lensa yang penting focus distance dan terang gelap cahaya, semakin tertutup ruang focus semakin dalam, cahaya lebih terang ruang tajam mengecil, makin gelap ruang focus makin lebar (depth of field). Lighting untuk kamera film lebih sukar dari kamera video. Hindari shot langit kalau tak mau ketahuan kapan pengambilan shot.
Temperatur cahaya makin malam makin biru. Pakai shadow crust kalau mau mengambil kesan malam (semua ditutupi kain hitam), back lighting juga dibuat hard.
Film hampir sama dengan fotografi, kesamaan di diafragma dan shutter, yang ada di film adalah shutter angle. Still foto juga berguna karena dipakai untuk promo dokumentasi dll.
Komposisi ; kamera video untuk close up hati-hati karena dipindah kelayar yang lebih lebar, view findernya kecil, jangan extreme close up, kamera jangan dipegang, tripod saja, movenya kelihatan kalau sdh dipindah kelayar yang lebih lebar. Kecuali kalau mau  mendramatisasi movement langkah (shake handheld).
180” rule dalam cinematography
Sangat tidak boleh arah pengambilan kamera bersilangan, karena akan menimbulkan disorientasi penonton, harus 180” (satu busur derajat), walaupun  ada Over Shoulder tapi tetap 180” rule dipakai.
Kalau mau ambil slo speed ? lebih baik dihindari (kamera Panasonic Varicam yang punya 60fps).
Untuk standard Broadcast pakai DV (diluar dianggap Videophone & Amatir Video), Sony BFW PPW = VPW transit, signal turun, apalagi edit s/d 3X, kalau digital nggak ada losting ratio, cuma perlu dikalibrasi.
Untuk film pendek selalu tentukan dulu ending, cara paling mudah untuk mencari opening.
Proses kreatif dimulai dengan What if? (How ‘bout?).
Contoh visualisasi frustasi adalah dengan hujan-hujan. Tugas sutradara adalah untuk mencari visualisasi (bahasa gambar, bukan dialog).
Art
Art untuk film adalah personal preferences dari tiap sutradara. Walaupun semua film adalah Producer’s cut kecuali yang bertuliskan Director’s cut. Harus tahu apa maksud penulis scenario dulu (banyak berdiskusi), imagenya apa, akibatnya apa, fieldnya apa, dan yang terpenting adalah fieldnya apa/ basis yang mudah dipelajari adalah dari music video director, karena pengambilan sangat dinamis, juga belum ada field yang pakem, yang terpenting kedua adalah Rasa. Untuk penunjukan lokasi ambil establish shot walaupun sebentar. Berikan informasi segera, kecuali sesuatu yang memang disamarkan. Yang paling mudah :
1. Intro (film tentang apa?)
2. Problem (pengembangan konflik)
3. Problem solving

Mudah secara visual juga secara narasi. Rule 180” bisa diakali, contoh Matrix, tanpa penonton disorientasi. Yang paling sulit untuk art adalah munculnya orang baru ditengah film. Yang penting untuk handycam : krn handycam lebih brightness dari kamera lain maka harus disetel ke progressive mode, jangan ke immense, agar tampilan jadi lebih mirip kekamera film, lebih soft.
Untuk Art, cerita harus menarik, film berbeda dengan televisi :
Film (FTV) selalu tentang satu hal (orang, plot)
Sinetron selalu tentang banyak hal (orang, plot)
Walau sinetron multi plot tetapi tetap ada major plot. Untuk film ada Ensemble cast yaitu pemain banyak tapi mengarah ke satu plot, contohnya cinta, tapi banyak sutradara yang tidak berani mencoba Ensemble cast.
Proses dalam alur film :
1. Proses inductive: jarang dipakai karena kemungkinan besar tidak laku, karena flow cerita berdasarkan maunya pemeran utama (biography). Yang sukses adalah Forest Gump.
2. Proses Deductive : Pertama mencari tahu dulu, kemudian approach dengan stimulus.Hampir semua film memakai cara ini.
Jawaban mudah untuk kuliah di perfilman tanpa masuk ke fakultas film adalah tonton film sebanyak mungkin tanpa memilih film dan tonton bahasa gambarnya, jangan ceritanya. Pertanyaannya adalah tentang apa dan kenapa visualnya begitu?
Summary untuk shot :
1. Jangan close up terlalu banyak dan lama.
2. Jangan pegang handycam, pakailah tripod.
3. Jangan sekalipun nge Zoom, karena zoom identik dengan documenter televisi. Coba fast zooming, maka hasilnya tidak akan applicable. Dalam Art of cinematography Zoom tidak ada definisinya. Bisa zoom in tapi track out, contohnya film horror, angle view mengecil tapi field melebar. Bisa dipakai  untuk menunjukkan kondisi ekstrim, contoh mata buta atau linangan air mata. Jangan ngezoom, mending cut lalu CU. Lebih baik kamera yang maju, zoom angle view mengecil (hukum CU : kamera diletakkan sejangkauan tangan, karena orang selalu menepis secara reflek apa yang mendekati mukanya, kecuali intimate move yaitu mau kiss).
Lighting :
Jangan pakai hi lighting contrast, kalau bisa low contrast, matahari disiasati dengan kertas kalkir/ resin paper biar soft. Kalau perlu pantulkan dulu baru dipakai (kalau mau efek dijalan baru di opo sehwash out).
Untuk handycam tread pertama adalah lighting, reflector paling bagus adalah Styrofoam karena tidak menambah kelvin, silver paper akan menurunkan kelvin. Untuk handycam dalam ruangan paling bagus pakai satu lampu yang 800 s/d 2KW. Tembak ke ceiling baru di bounce. Wide shower nggak masalah. Baru setelah CU ada shadow tapi bisa dipakai Styrofoam. Lampu kino flow ada 2 yaitu 3200 kelvin dan 5500 kelvin. Kalau neon dan mercuri mengeluarkan efek magenta (agak merah) kalau perlu buat script light characteristic. Iklan banyak yang memakai hi light. Karena harus ada penekanan pada adegan. Neon rumah lebih kearah green sedang mercuri merah (HMI/HMD untuk film) tapi kalor mencukupi. Ingat temperature cahaya juga sangat mempengaruhi membalans apa yang warna putih, harus color baru kelihatan. ALL equipment added color. Maka untuk ke computer dikalibrasi dulu.
Efek light dimalam hari : lampu haris diletakkan ketempat yang sangat tinggi dan smoke gun dipakai tipis. Karena makin tinggi titik cahaya makin hilang. Lensa juga berpengaruh untuk paste. Pakai lensa yang wide (80mm-150mm), karena efek lensa wide dekat semakin dekat, jauh semakin jauh.
Untuk tips slo mo atau penegasan perlu diulang-ulang atau dengan pengambilan beberapa shot dengan trick 30” lalu di edit.
Untuk make up alas bedak harus minimal 5X baru dirias biar lebih soft dan tidak kelihatan tebal.
Untuk ruang juga lebih baik di smoke gun agar low lightnya kelihatan.
Kenapa harus Blue screen karena warna blue adalah satu-satunya warna yang berada dibawah garis, QC pada vector scope, lainnya diatas semua (memakai blue screen removal). Tapi sekarang setelah era digital berubah menjadi Green screen karena warna light green lebih mudah dihapus.
Hi contrast > bandwith kecil
Lo contrast > bandwith besar
Standard broadcast Indonesia memakai Betacam SP Analog dengan standard transfer untuk durasi 30” (24”).
Selalu ingat punch ending untuk film pendek, sampaikan informasi secepatnya.
Hati-hati jika ada satu ide selalu diekspos, maka penonton menjadi resisten.
Paling bebas adalah music video director karena mempunyai art form tersendiri. Pendekatan music video lebih kepada bagaimana membangun suasana.
Untuk editing, yang mendamping adalah producer, semua harus belajar (dissolve) :
1. Menyambung gambar lebih smooth
2. Compression technology, lebih ke offline dan online.
Fungsi sinetron diperpanjang karena agar penonton yang sudah menonton bisa cerita kepenonton yang lain akan alur cerita yang sudah mulai, maka pengambilan shot sampai detail. Dan juga terjadi conspiracy theory.
Kamera murah terbaik karena contrast ratio s/d 250% adalah Panasonic DVX.
Sound > coba dapetin silent untuk ambience (harus ext mic) kemudian dari ambience ruang itu dimultitrack > tambah NR.

Jenis-Jenis Shot, Sudut, dan Gerakan Kamera

Posted by dutabayu on , under | komentar (0)



JENIS-JENIS SHOT
CU (Close Up)
Shot yang menampilkan dari batas bahu sampai atas kepala.
MCU (Medium Close Up)
Shot yang menampilkan sebatas dada sampai atas kepala.
BCU (Big Close Up)
Shot yang menampilkan bagian tubuh atau benda tertentu sehingga tampak besar. Misal : wajah manusia sebatas dagu sampai dahi.
ECU (Extrime Close Up)
Shot yang menampilkan detail obyek. Misalnya mata, hidung, atau telinga.
MS (Medium Shot)
Shot yang menampilkan sebatas pinggang sampai atas kepala.
TS (Total Shot)
Shot yang menampilkan keseluruhan obyek.
ES (Establish Shot)
Shot yang menampilkan keseluruhan pemandangan atau suatu tempat untuk memberi orientasi tempat di mana peristiwa atau adegan itu terjadi.
Two Shot
Shot yang menampilkan dua orang.
OSS (Over Shoulder Shot)
Pengambilan gambar di mana kamera berada di belakang bahu salah satu pelaku, dan bahu si pelaku tampak atau kelihatan dalam frame. Obyek utama tampak menghadap kamera dengan latar depan bahu lawan main.
 

SUDUT PENGAMBILAN KAMERA
High Angle (Bird eye view)
Posisi kamera lebih tinggi dari obyek yang diambil.
Normal Angle
Posisi kamera sejajar dengan ketinggian mata obyek yang diambil.
Low Angle (Frog eye view)
Posisi kamera lebih rendah dari obyek yang diambil.
Obyektive Kamera
Tehnik pengambilan di mana kamera menyajikan sesuai dengan kenyataannya.
Subyektive Kamera
Tehnik pengambilan di mana kamera berusaha melibatkan penonton dalam peristiwa. Seolah-olah lensa kamera sebagai mata si penonton atau salah satu pelaku dalam adegan.
 

GERAKAN KAMERA
Panning
Panning adalah gerakan kamera secara horizontal (posisi kamera tetap di tempat) dari kiri ke kanan atau sebaliknya.
Pan right : gerak kamera mendatar dari kiri ke kanan.
Pan left : gerak kamera mendatar dari kanan ke kiri.
Tilting
Tilting adalah gerakan kamera secara vertikal (posisi kamera tetap di tempat) dari atas ke bawah atau sebaliknya.
Tilt up : gerak kamera secara vertikal dari bawah ke atas.
Tilt down : gerak kamera secara vertikal dari atas ke bawah.
Tracking
Track adalah gerakan kamera mendekati atau menjauhi obyek.
Track in : gerak kamera mendekati obyek
Track out : gerak kamera menjauhi obyek

Istilah-istilah dalam Produksi Film dan Acara TV (Glossary)

Posted by dutabayu on , under | komentar (0)



Acting :
Sebuah proses pemahaman dan penciptaan tentang perilaku dan karakter pribadi dari seseorang yang diperankan
Addes Scenes :
Adegan yang ditambahkan kedalam konsep asli, biasanya diambil setelah film diselesaikan
Agent (Agent Model) :
Seseorang yang dipekerjakan oleh satu atau lebih talent agency atau serikat pekerja untuk mewakili keanggotaan mereka dalam berbegosiasi kontrak individual yang termasuk gaji, kondisi kerja, dan keuntungan khusus yangtidak termasuk dalam standard guilds atau kontrak serikat kerja. Orang ini diharapkan oleh para aktor/aktris untuk mencarikan mereka pekerjaan dan membangun karir mereka
Anamorphic :
Lensa yang digunakan dalam fotografi untuk memperkecil gambar widescreen ke ukuran 35mm. Proses ini dibalik ketika memproyeksikan hasil akhir film, memunculkan gambar kembali ke ukuran normal pada layarlebar.
Answer Print :
Married Print pertama dari film yang dibuat oleh lab pemroses film, dan kemudian akan digunakan untuk menetapkan standar kualitas film yang akan diedarkan kepada publik.
Apple Box :
Digunakan untuk meninggikan seorang aktor/aktris serta suatu obyek sesuai dengan ketinggian yang tepat untuk pengambilan gambar.
Art Departement :
Bagian artistik. Bertanggung jawab terhadap perancang set film. Seringkali bertanggung jawab untuk keseluruhan desain priduksi. Tugasnya biasanya dilaksanakan dengan kerjasama yang erat dengan sutradara.
Ascpect Ratio :
Perbandingan antara lebar dan tinggi bingkai gambar (frame)
Rasio untuk tayangan televisi adalah 1,33:1 yang artinya lebar frame yang muncul di televisi adalah 1,33 kali dari tinggi.
Art Director :
Seorang asisten sutradara film yang memperhatikan administrasi, hal yang penting sehingga departemen produksi selalumengetahui perkembangan terbaru proses pengambilan film. Ia bertanggung jawab akan kehadiran aktor/aktris pada saat dan tempat yang tepat, dan juga untuk melaksanakan instruksi sutradara.
Available Lighting :
Pengambilan gambar tanpa tambahan cahaya buatan manusia
Audio Visual :
Sebutan untuk perangkat yang menggunakan unsur suara dan gambar
Art Director :
Pengarah artistik dari sebuah produksi
Asisten Produser :
Seorang yang membantu produser dalam menjalankan tugasnya
Audio Mixing :
Proses penyatuan dan penyelarasan suara dari berbagai macam jenis dan bentuk suara.
Angle :
Sudut pengambilan gambar
Animator :
Sebutan bagi seorang yang berprofesi sebagai pembuat animasi
Audio Effect :
Efek suara
Ambience :
Suara natural dari obyek gambar
Broadcaster :
Sebutan untuk seseorang yang bekerja dalam industri penyiaran
Background :
Latar belakang
Barn Doors :
Pintu berengsel yang dipasangkan di depan lampu studio yang dapat dibuka atau ditutup untuk memunculkan cahaya pada area tertentu di set.
Barney :
Bungkus kain pada pelindung yang dapat dipakaikan pada kamera film atau blimped kamera film, untuk mengurangi siara mekanisme. Ada juga heated barney yang digunakan dalam suhu dingin.
Best Boy :
Asisten Gaffer atau asisten Key Grip.
Blank :
Selongsong senapan atau pistol yang berisi peluru buatan untuk menggantikan peluru yang sesungguhnya. Blank dipergunakan dalam film untuk mencegah terjadinya kecelakaan, walaupun sesungguhnya peluru kosong itu sendiri masih berbahaya jika ditembakan dan mengenai orang dalam jarak dekat.
Blimp :
Ruangan kedap suara yang mengelilingi kamera film untuk mencekah ikutn terekamnya bunyi mekanisme kamera kedalam alat perekam suara.
Blow Up :
Perbesaran ukuran film dari 16mm ke 35mm yang dilakukan di laboratorium untuk diputar di bioskop. Istilah ini juga dipergunakan dalam fotografi untuk memperbesar foto guna keperluan display atau promosi.
Body Frame, Body Pod :
Digunakan untuk menunjang hand held camera di lapangan.
Boom Man :
Individu yang mengoperasikan mikrofon boom.
Booth Man :
Operator proyektor film. Orang yang bekerja dalam ruang proyeksi.
Breakaway :
Sebuah set atau hand property, misalnya botol atau kursi yang dirancang untuk rusak dengan cara-cara tertentu sesuai aba-aba.
Breakdown :
Biasanya merujuk pada jumlah spesifik rincian pengeluaran dalam sebuah produksi film. Dapat juga berarti pengaturan atau perencanaan berbagai adegan beserta urutan pengambilannya.
Budget :
Pengeluaran keseluruhan dari produksi film.
Blocking :
Penempatan obyek yang sesuai dengan kebutuhan gambar
Bridging Scene :
Adegan perantara di antara adegan-adegan lainnya
Back Light :
Penempatan lampu dasar dari sudut belakang obyek
Breakdown Shot :
Penentuan gambar yang sesuai dengan naskah atau urutan acara
Bumper In :
Penanda bahwa program acara tv dimulai kembali setelah iklan
Bumper Out :
Penanda bahwa program acara tv akan berhenti sejenak untuk iklan
Call :
Waktu yang diharapkan dari seorang individu anggota staf perusahaan, pemain, atau kru untuk berada di set. Jadwal biasanya didaftarkan pada call sheet yang menjadi tanggung jawab asisten sutradara dan manajer produksi.
Camera :
Sistem perangkat mekanik atau elektronik yang mengontrol pergerakan dari film yang belum diekspos di belakang lensa dan shutter dan yang menentukan gambar serta tingkatan cahaya yang masuk kedalam film. Mekanisme ini mungkin memiliki kontrol kecepatan.
Camera Boom :
Tempat kamera yang dapat berpindah, biasanya berukuran besar, tempat kamera dapat diproyeksikan keluar set dan atau dinaikan di atasnya.
Camera Departement :
Bertanggung jawab untuk memperoleh dan merawat semua peralatan kamera yang dibutuhkan untuk memfilmkan sebuah motion picture. Juga bertanggung jawab untuk penanganan film, pengisian film, dan berhubungan dengan laboratorium pemrosesan.
Cameraman :
- First Cameraman sering disebut sebagai Penata Fotografi (Director of Photography) atau kepala kameramen, bertanggung jawab terhadap pergerakan dan penempatan kamera dan juga pencahayaan dalam suatu adegan. Kecuali dalam unit produksi yang kecil, Penata Fotografi tidak melakukan pengoperasian kamera selama syuting yang sesungguhnya.
- Second Cameraman sering disebut sebagai asisten kameramen atau operator kamera, bertindak sesuai instruksi dari kameramen utama dan melakukan penyesuaian pada kamera atau mengoperasikan kamera selama syuting.
- First Assistant Cameramen sering disebut Kepala Asisten untuk pada operator kamera. Seringkali bertanggung jawab untuk mengatur fokus kamera (untuk kamera film)
- Second Assistant Cameraman, menjadi asisten operator kamera.
Camera Noise :
Bunyi Kamera. panggilan dari bagian tata suara (Sound Departement) di set untuk mereangkan bahwa ia menerima bunyi dari kamera sehingga harus digunakan kamera lain, melakukan perbaikan kamera atau diperlukan penghalusan tambahan terhadap kamera dengan menggunakan barney atau selimut.
Camera Report :
Salinan yang disimpan dalam tiap magazine film tempat asisten kameramen mencatat panjang pengambilan tiap adegan, nomer adegan, dan perintah untuk mencetak atau tidak. Laporan kamera diberikan ke laboratorium proses, bagian kamera, dan bagian produksi.
“Camera Right”, “Camera Left” :
Petunjuk bagi seorang aktor/aktris untuk berputar atau bergerak. Petunjuk ini berdasarkan sudut pandang sutradara atau kamera dan dibalik sesuai dengan keadaan aktor. Ketika menghadap lensa maka bagian kanan aktor adalah bagian kiri kamera dan juga sebaliknya.
Camera Tracks :
Lintasan Kamera yang terbuat dari metal atau lembaran kayu lapis ukuran 4 x 8 yang diletakkan dilantai untuk membawa dolly atau camera boom. Lintasan digunakan untuk menjamin kehalusan gerakan kamera.
Can :
Tempat/wadah untuk film.
Canned Music :
Musik yang belum ditulis untuk film tertentu namun telah direkam dan dikatalogkan menurut gayanya dalam perpustakaan sehingga dapat dibeli dan dipergunakan.
Casting Director :
Orang yang memimpin pemilihan dan pengontrakan aktor/aktris untuk memenuhi bagian yang dibutuhkan dalam sebuah naskah.
Century Stand :
Digunakan untuk menahan berbagai jenis bendera yang diperlukan untuk mengurangi intensitas cahaya atau untuk menghalangi sejumlah cahaya tertentu. Juga digunakan untuk menahan atau mendukung ranting daun atau efek lain yang berhubungan dengan pencahayaan.
Changing Bag :
Tas kedap cahaya dengan ritsleting ganda tempat magazines film dapat diletakkan untuk memindahkan film yang telah diekspose dan mengisi ulang magazine. Juga dibuat sehingga memungkinkan asisten kamera memasukkan tangan dan lengannya tanpa membiarkan film terkena cahaya. Biasanya digunakan jauh dari studio kaerna di studio, magazine diisi ulang diruang gelap di bagian kamera.
Character Man or Woman :
Pada saat-saat tertentu seorang aktor/aktris bermain karakter, biasanya istilah ini merujuk pada aktor/aktris yang paling sesuai secara fisik untuk peran-peran selain pemain utama romantis, peran remaja atau peran sederhana.
Cinema :
Merujuk pada Motion Picture. Berasal dari kata Yunani Kinema yang berarti gambar.
Cinema Scope :
Nama dagang untuk tujuan pemrosesan fotografi dan proyeksi yang mengikutsertakan kamera dengan lensa anamorfik atau proyektor dan ayar berlekuk ekstra panjang. Memungkinkan proyeksi dari gambar yang jauh lebih besar dari ukuran biasanya. Banyak film epic dibuat dalam Cinema Scope karena pengaruh dari ukuran terhadap penonton.

Cinematographer (Sinematografer) :

Penata Fotografi. Orang yang melaksanakan aspek teknis dari pencahayaan dan fotografi adegan. Sinematografer yang kreatif juga akan membantu sutradara dalam memilih sudut, penyusunan, dan rasa dari pencahayaan dan kamera.
Cinemobile :
Nama dagang untuk unit lokasi pembuatan film yang lengkap dan dapt berpindah-pindah, membawa peralatan dan petugasnya dan memiliki banyak ukuran mulai dari van peralatan kecil sampai dengan bus besar.
Clapper Boards :
Sepasang papan berengsel yang diketukkan saat syuting dialog ketika kamera gambar dan alat rekam suara berputar dalam kecepatan yang sinkron. frame pertama ketika papan bersentuhan kemudian disinkronkan dalam ruang pemotongan dengan bunyi “bang”, memantapkan sync antara alur suara dan alur gambar. Pada banyak tipe sistem penanda elektronik dipasangkan sisi kamera.

Commercial :

Iklan. Film pendek yang umumnya berdurasi 60, 30, atau 15 detik yang dibuat khusus untuk menjual suatu produk.
Composite Print :
Film yang telah diedit termasuk semua gambar, suara, dan musik yang telah dicetak ke dalam sebuah film.
Contact Glass :
Alat bantu penglihatan terbuat dari kaca berwarna gelap berbentuk seperti monacle yang dipakaikan ke salah satu mata Penata Fotografi selama pencahayaan set untuk memeriksa tingkatan kontras dari pencahayaan tersebut.
Cook, Cookie :
Dapat berupa kain dengan bingkai kawat atau lembaran kayu lapis atau plastik yang diberi pola daun ranting atau bunga untukmemunculkan bayangan pada permukaan datar. kadang buram atau tembus cahaya seperi sebuah scrim. berasal dari bahasa Yunani kukaloris yang berarti memecah cahaya.
Copter Mount :
Copter kamera untuk penggunaan dalam pengambilan gambar aerial helikopter yang berfungsi menjaga kamera dari vibrasi helikopter. Nama dagangnya adalah Tyler Mount.
Costume Designer :
Orang yang merancang dan memastikan produksi kostum secara sementara maupun permanen untuk sebuah film.
Coverage :
Keseluruhan koleksi hasil pengambilan gambar individual, sudut, dan set yang terdiri dari segala kebutuhan film untuk membuat sebuah cerita lengkap.
Cover Set :
Set yang digunakan untuk syuting bila adegan eksterior yang diusahakan ternyata terganggu oleh kondisi cuaca yang tidak mendukung.
Cover Shot :
Bagian dari pengambilan film untuk menyediakan materi transisi dari satu bagian adegan ke bagian adegan lain dalam sebuah adegan yang sama. Bisa juga digunakan sebagai gamabr tambahan atau cadangan kalau perekaman pertama tidak berhasil. Juga disebut sebagai “insurance”.
Cue :
Tanda bagi aktor/aktris dalam film untuk memunculkan bagiannya dalam dialog atau tindakan. Isyarat ini dapat berupa tindakan aktor/aktris lainnya, bagian akhir dari sebuah dialog, tanda dari sutradara atau isyarat cahaya.
Cue Light :
Bola lampu kecil yang dapat dinyalakan atau dimatikan oleh sutradara atau asisten sutradara dan diletakkan diluar jangkauan pandang kamera tetapi dalam jangkauan pandang aktor untuk memberi isyarat. Isyarat cahaya ini menghindari isyarat secara verbal yang dimunculkan oleh aktor.
Cut and Hold :
Perintah dari sutadara agar adegan diberhentikan namun aktor/aktris tetap berada dalam posisinya. Sutradara mungkin ingin memeriksa pencahayaan, posisi, atau mengatur adegan lain yang saling bersinggungan.
Cut Back :
Mengubah gambar dalam film secara cepat dari adegan saat ini ke adegan lain yang telah dilihat sebelumnya. Pemotongan ini Dilakukan tanpa ada transisi.
Cutting on The Action :
Menggunakan sebuah tindakan besar dari seorang aktor/aktris sebagai titik untuk masuk lebih dekat atau lebih jauh dari orang tersebut.
Cutting Room :
Tempat peralatan seorang editor film berada, misalnya moviola dan lain sebagainya dan tempat film akan digabungkan sesuai cerita yang berkesinambungan. Ruang ini biasanya ada dalam sebuah studio namun dapat saja berada pada lokasi tersendiri dan terpisah dari daerah studio.
Cut to :
Secara cepat mengubah gambar dalam film dari adegan masa kini ke adegan lainnya tanpa adanya transisi.
Credit Title :
Urutan nama-nama tim produksi dan pendukung acara
Chroma Key :
Sebuah metode elektronis yang melakukan penggabungan antara
gambar video yang satu dengan gambar video lainnya dimana dalam
prosesnya digunakan teknik Key Colour yang dapat diubah sesuai
kebutuhan foreground dan background
Cutting on Beat :
Teknik pemotongan gambar berdasarkan tempo
Clip Hanger :
Sebutan bagi adegan atau gambar yang akan mengundang rasa ingin
tahu penonton tentang kelanjutan acara, namun harus ditunda karena
ada jeda iklan komersial
Cut :
Pemotongan gambar
Cutting :
Proses pemotongan gambar
Camera Blocking :
Penempatan posisi kamera yang sesuai dengan kebutuhan gambar
Clear-Com :
Sebutan bagi penggunaan headset audio yang dihubungkan dengan
Master Control
Channel :
Saluran
Crazy Shot :
Gambar yang direkam melalui kamera yang tidak beraturan
Composition :
Komposisi
Continuity :
Kesinambungan
Cross Blocking :
Penempatan posisi obyek secara silang sesuai dengan kebutuhan
Crane :
Alat khusus/katrol untuk kamera dan penata kamera yang dapat
bergerak keatas dan kebawah
Clip On :
Mikrofon khusus yang dipasang pada obyek tanpa terlihat
Casting :
Proses pemilihan pemain sesuai dengan karakter dan peran yang
akan diberikan
Close Up :
Pengambilan gambar dari jarak dekat
Dailies :
Hasil cetakan positif, dikirimkan setiap hari dari laboratorium berasal dari negatif film yang dipergunakan di hari sebelumnya.
Depth of Focus :
Area tempat berbagai benda yang diletakkan dengan berbagai ukuran jarak di depan lensa akan tetap memperoleh fokus yang tajam.
Dialogue Coach or Dialogue Director :
Orang dalam set yang bertanggung jawab membantu para aktor/aktris dalam mempelajari kalimat mereka selama pembuatan film. Mungkin juga membantu pengaturan dialog saat pre-syuting.
Diffusers :
Potongan materi difusi diletakkan di depan lampu studio untuk memperhalus.
Director :
Orang yang mengontrol tindakan dan dialog di depan kamera dan bertanggung jawab untuk merealisasikan apa yang dimaksud oleh naskah dan produser.
Documentary :
Film yang menyajikan cerita nyata, dilakukan pada lokasi yang sesungguhnya. Juga sebuah gaya dalam memfilmkan dengan efek realitas yang diciptakan dengan cara penggunaan kamera, sound, dan lokasi.
Dolly :
Kendaraan/alat beroda untuk membawa kamera dan operator kamera selama pengambilan gambar. Dolly biasanya dapat didorong dan diarahkan oleh satu orang yang disebut Dolly Grip.
Dollying :
Pergerakan kamera selama pengambilan gambar dengan menggunakan kendaraan/alat beroda yang mengakomodasikan kamera dan operator kamera. Kadang disebut juga tracking atau trucking.
Double :
Bisa diartikan pemain tambahan yang menggantikan aktor/aktris selama pengaturan cahaya atau dapat berarti stunt yang menggantikan aktor/aktris dalam adegan berbahaya.
Dress The Set :
Perintah untuk menempatkan banyak benda (misal lampu, asbak, bunga, atau lukisan) di set untuk memunculkan realitas.
Drift :
Ketika seorang aktor/aktris hampir tidak disadari bergerak keluar dari posisinya. Dapat juga berupa petunjuk untuk menghilang dengan suatu cara tertentu, dengan arti melakukan perlahan dan bertahap.
Dual Role :
Pemutaran lebih dari satu bagian peran seorang aktor/aktris dalam sebuah film yang sama.
Dubbing :
Perekaman suara manusia secara sinkron dengan gambar film. Suaranya mungkin atau mungkin tidak berasal dari aktor/aktris yang sesungguhnya serta bisa juga bahasa yang digunakan ketika film tersebut dibuat.
Dubbing biasanya diselesaikan dengan menggunakan Film Loops – bagian pendek dari sebuah gambar beserta dialognya dalam bentuk married print. Aktor/aktris menggunakan gambar dan soundtrack playback sebagai panduan untuk mensinkronkan gerakan bibir dalam gambar dengan perekaman suara terbaru. Umumnya digunakan untuk memperbaiki perekaman asli yang buruk., performa artistik yang tidak dapat diterima atau kemungkinan kesalahan dalam dialognya. Juga digunakan untuk perekaman lagu dan versi bahasa lain setelah proses pemfilman.
Dulling Spray :
Sebuah penyemprot aerosol yang menyisakan lapisan yang tidak mengkilat pada permukaan apapun dan tidak mengakibatkan penyilauan pada lensa kamera.
Durasi :
Waktu yang diberikan atau dijalankan
Dimmer :
Digunakan untuk mengontrol naik turunnya intensitas cahaya
Dissolve :
Teknik penumpukan gambar pada editing maupun syuting multi kamera
Depth of Field :
Area dimana seluruh obyek yang duterima oleh lensa dan kamera
muncul dengan fokus yang tepat. Biasanya hal ini dipengaruhi oleh
jarak antara obyek dan kamera, focal length dari lensa dan f-stop
Dramatic Emotion :
Emosi gambar secara dramatis
Editing :
Proses pemotongan gambar
Editor :
Sebutan bagi seseorang yang berprofesi sebagai ahli pemotongan
gambar video dan audio.
Editorial Departement :
Divisi dimana semua potongan film yang telah dihasilkan digabungkan sehingga membentuk urutan yang koheren, kadang dengan bantuan asisten sutradara atau produser.
Electric Departement :
Bertanggung jawab terhadap penjagaan dan penyediaan segala alat elektrik. (misalnya: lampu, kabel, dan lain sebagainya) untuk kebutuhan film.
Electrician :
Orang yang bertanggung jawab terhadap penempatan dan penyesuaian cahaya serta menyediakan listrik sesuai kebutuhan tiap alat.
Exclusive Contract :
Kontrak yang menyatakan bahwa seseorang dapat bekerja hanya untuk orang atau perusahaan tertentu yang mengontraknya.
Exhibitor :
- Orang atau perusahaan yang memiliki bioskop atau drive-in atau rantai lain yang memungkinkan ditontonnya sebuah film.
- Teater atau drive-in yang mempertunjukkan sebuah film.
Exposed :
Bahan baku film yang telah dipakai untuk merekam gambar. Kata “exposed” wajib dicantumkan pada setiap can film yang telah dipakai.
Ext. :
Eksterior. Bagian manapun dari film yang direkam di luar ruangan; jalanan kota, stadium, gurun, hutan, atau puncak gunung, beberapa lokasi dapat dibuat ulang di sounstage studio namun tetap dinamakan eksterior dalam naskah.
Extra :
Orang yang dipekerjakan sebagai pemain latar, misalnya sebagai salah satu orang dalam kerumunan dalam adegan di jalan.
Engineering :
Sebutan dalam pengerjaan dan pembagian kerja dalam masalah
teknis penyiaran
Establish Shot :
Gambar yang natural dan wajar

Extreme Close Up :

Pengambilan gambar dari jarak dekat
Fade Out, Fade In :
Efek berupa gamabr yang perlahan hilang dan menjadi gelap (fade out) atau gambar yang muncul dari kegelapan (fade in). Digunakan untuk menekankan berlalunya waktu atau akhir dari adegan atau cerita.
False Move :
Gerakan yang tidak terencana oleh aktor/aktris sebelum melakukan gerakan yang telah direncanakan. False Move yang dilakukan aktor dapat memunculkan masalah dengan mengatur Dolly Grip untuk bergerak bersama dolly dan kamera karena ia berpikir bahwa gerakan aktor adalah isyarat untuk menggerakan kamera.
Fast Motion :
Melakukan pemfilman dengan kecepatan dibawah standar kemudian memproyeksikan dengan kecepatan standar untuk membuat tindakan terlihat lebih cepat dari normal. Juga menciptakan efek masa lalu dan film bisu.
Feature Part :
Peran yang tidak terlalu penting untuk seorang bintang, tapi cukup besar untuk memunculkan perhatian khusus. Biasanya dilakukan oleh aktor/aktris yang telah dikenal baik oleh penonton. Saat ini lebih dikenal dengan Cameo.
Fifty-fifty :
Biasanya sudut kamera atau pengambilan gamabr ketika dua orang aktor/aktris saling berhadapan, berbagi lensa dengan adil. Juga disebut sebagai a two shot atau a two.
Fill Light :
Set pencahayaan umum yang digunakan untuk memperhalus kontras dari key lighting.
Film :
Media untuk merekam gambar yang menggunakan selluloid sebagai bahan dasarnya. Memiliki berbagai macam ukuran lebar pita seperti 16mm dan 35mm.
Film Clip :
Bagian pendek dari sebuah film.
Film Loader :
Pengisi Film. Anggota tim kamera kadang adalah asisten kameramen yang mengisi film yang belum diekspose ke dalam magazine dan mengeluarkan film yang telah diekspose ke dalam can.
First Run :
Pertama kali sebuah film dilepas ke bioskop untuk ditonton. Saat ini lebih dikenal dengan premiere.
Fishpole Boom :
Sebuah tiang ringan yang dapat digenggam dan dapat dipindahkan untuk digunakan meletakkan mikrofon di lokasi yang sulit selama pemfilman.
Flag :
Miniatur Gobo dari kayu lapis atau kain pada bingkai metal yang diletakkan pada century stand.
Flare :
Ketika suatu obyek atau cahaya dari set memantulkan cahaya yang tidak diinginkan scara langsung pada lensa.
Flashback :
Bagian dari cerita film yang mengisahkan waktu periode awal, tergantung dari cerita.
Flub :
Ketika aktor/aktris melakukan kesalahan dalam pengucapan dialog – flubbed his line
Fluid Head :
Landasan pada tripod kamera yang memberikan gerakan halus untuk kamera melalui penggunaan flywheel yang diletakkan dalam wadah berisi minyak dalam landasan itu sendiri.
Focus :
Penyelarasan gambar secara detail, tajam, dan jernih hingga mendekati
obyek aslinya
Fog Maker :
Menggunakan cairan khusus sehingga fog maker dapat memunculkan efek kabut, asap, efek kabur (blur), dan kelembaban. Dengan menggunakan cairan jenis lain maka dapat digunakan untuk menghilangkan kabur yang tidak diinginkan. Alat ini dapat berukuran kecil, mesin yang dapat digenggam atau mesin besar yang diletakkan di kereta.
Follow Focus :
Perubahan fokus kamera selama adegan untuk mempertahankan fokus pada aktor/aktris yang bergerak mendekati atau menjahui kamera. Biasanya menjadi tugas first assistant cameraman.

Follow Shots :

Pengambilan gambar dengan kamera bergerak memutar untuk mengikuti pergerakan pemeran dalam adegan.
Final Editing :
Proses pemotongan gambar secara menyeluruh
Floor Director :
Seseorang yang bertanggungjawab membantu mengkomunikasikan
keinginan sutradara dari master control ke studio produksi
Footage :
Gambar-gambar yang tersedia dan dapat digunakan
Footage Counter :
Alat penghitung yang berada pada kamera untuk tetap dapat mengikuti jumlah film yang telah diekspose.
Four Walled Set :
Sebuah set yang memiliki 4 dinding bukan 3 seperti biasanya. Keempat dinding menutup area aksi secara sempurna namun mungkin dapat dipindahkan untuk memungkinkan pergerakan cahaya dan kamera selama melakukan pengambilan gambar.
Frame :
- Suatu gambar dari banyak gambar pada gulungan film yang telah diekspose, ukuran frame bervariasi sesuai format yang akan diambil gambarnya.
- Menyesuaikan kamera dan lensa sehingga gambar yang akan diambil memiliki batasan yang diinginkan.
Frame per Second (fps) :
Sebuah film 35mm berputar dalam kamera dengan kecepatan normal menghasilkan 24 frame perdetiknya sehingga bila banyak frame yang diputar tiap detiknya aksi dari subyek akan diperlambat ketika diproyeksikan dalam kecepatan normal. Bila lebih sedikit dari 24 frame yang diputar maka aksi tampat dipercepat bila diproyeksikan dengan kecepatan normal.
Freelancer :
Orang yang tidak terikat kontrak dengan produser atau perusahaan manapun.
Freeze :
Perintah bagi aktor/aktris untuk menghentikan aksi namun mempertahankan posisinya. Dalam film yang aktor/aktris atau obyek lain muncul dengan tiba-tiba misalnya “pop in” pada layar maka aktor/aktris dalam adegan akan diminta untuk diam. Orang atau obyek kemudian ditempatkan di posisinya kemudian perintah untuk “action” diberikan dan adegan dilanjutkan. Dalam pemotongan film di bagian tengah dari masuknya aktor/aktris atau penempatan obyek akan dihilangkan.
Gaffer :
Pemimpin electrician yang bertanggung jawab di bawah Director of Photography mengenai pencahayaan set.
Geared Head :
Unit dimana kamera dipasangkan yang dapat dihubungkan pada dolly atau crane dan panned (gerakan secara horisontal) atau tilted (gerakan secara vertikal) memungkinkan kamera untuk mengikuti gerakan.
Gen :
Truk generator yang digunakan untuk menyediakan tenaga listrik ketika unit film berada di lokasi atau tambahan penyediaan tenaga di studio. Juga disebut sebagai genset.
Gobo :
Layar kayu yang dicat hitam. Digunakan untuk menghalangi cahaya dari sati atau lebih pencahayaan lampu studio, suatu set peralatan yang digunakan untuk mecegah jatuhnya cahaya yang tidak diinginkan ke lensa kamera atau area set. Biasanya diletakkan pada sanggahan yang dapat disesuaikan. Gobo tersedia dalam berbagai bentuk dan ukuran.
Green Departement :
Bertanggungjawab untuk menyediakan pepohonan, semak, bunga, rumput, dan benda-benda hidup lainnya baik yang asli maupun buatan.
Grip :
Orang yang berwenang memindahkan dan mengatur trek atau jalannya kamera – apapun yang membutuhkan cengkeraman yang kuat – di set.
Grip Chain :
Rantai ringan yang digunakan untuk berbagai keperluan yang dilakukan oleh bagian grip. pada set biasanya digunakan pada sekitar kaki kursi atau sofa yang ditempati pemain untuk mencegahnya bergerak.

Hairdresser :

Spesialis penata rambut untuk film. Seorang hairdresser mungkin bekerja dengan penata rambut laki-laki maupun perempuan.
Hairdresser Departement :
Bertanggungjawab atas kebutuhan rambut asli maupun wig untuk para aktor dan aktris.
Hand Cue :
biasanya diberikan oleh sutradara atau asistennya untuk menunjukan waktu masuk seorang aktor/aktris atau bagian khusus dari suatu adegan.
Hand Held :
Mengambil gambar dengan kamera ringan seperti handycam, jenis yang dapat ditahan oleh operator kamera dengan tangannya selagi mengambil gambar, berlawanan dengan meletakkannya pada gear head atau tripod. Memberikan fleksibilitas yang lebih. Teknik penggunaan kamera dengan tangan tanpa tripod
Headroom :
Ruangan bagian atas suatu obyek dalam gambar dengan bagian atas frame.
High Head :
Tripod logam kecil dengan ketinggian tertentu yang dapat dipasangkan ke lantai untuk mempertahankan posisinya. Digunakan untuk menahan kamera saat pengambilan gambar dengan sudut rendah.

Hot Set :

Suatu set yang telah diisi barang dan dekor untuk syuting. Penggambaran ini biasanya mengindikasikan bahwa set tersebut tidak boleh dimasuki atau digunakan.

Hot Spot :

Area dalam set yang memiliki pencahayaan yang sangat terang.

Hunting Location :

Proses pencarian dan penggunaan lokasi yang tepat dan terbaik
untuk syuting.
Idiot Cards :
Kartu besar tempat dialog dituliskan untuk aktor yang tidak dapat mengingat kalimatnya. Dapat juga berarti sebuah bagian mesin elektronik yang mahal disebut Tele-Prompter, dimana sebuah gulungan kertas ditempatkan di depan atau dekat dengan kamera dan dituliskan dialognya dengan huruf yang besar sehingga mudah untuk dibaca. Bisa juga disebut dengan Cue cards.
Independent :
Seseorang yang membuat film tanpa dipekerjakan oleh sebuah studio besar.
Insert Shot :
Suatu obyek biasanya yang dicetak seperti surat kabar atau sebuah jam, dan dimasukkan ke dalam rangkaian untuk menjelaskan tindakan.
Int. :
Interior. Bagian dari film yang diambil didalam ruangan. Interior dapat berupa set yang dibentuk di studio atau diluar studio. Lebih dikenal sekarang ini sebagai location interiors.
Intercut :
Mengubah urutan tindakan dari belakang ke depan dari sebuah adegan ke adegan lain, biasanya dilakukan dengan kecepatan cukup tinggi.

Iris :

bagian yang terbuka dari sebuah lensa atau bagian belakang yang mengatur masuknya cahaya kdalam film. ukuran Iris dapat dikontrol oleh operator kamera.
Jell :
Gelatin atau materi plastik berwarna yang digunakan di depan sebuah lampu untuk mengubah warna cahaya dari lampu tersebut. Bisa juga disebut dengan Gel.
Jumping Shot :
Proses pengambilan gambar secara tidak berurutan
Jimmy Jib :
Katrol kamera otomatis yang digerakan dengan remote

Key Grip :

Orang yang memimpin para pekerja grip.
Key Light :
Cahaya utama yang digunakan untuk menerangi subyek tertentu.
Lab :
Secara umum disebut sebagai suatu tempat untuk memproses exposed film pada tahap akhir.
Lens (Lensa) :
Konstruksi dari berbagai macam potongan kaca yang dipasang sesuai kebutuhan dan dimasukkan kedalam tube metal. Beberapa jenis lensa bersifat tetap dalam arti tidak dapat diubah-ubah panjangnya.

Light Meter :

Instrumen kecil dan dapat dipegang dengan tangan yang digunakan untuk mengukur intensitas cahaya.
Lining Up :
Membatasi adegan. Operator kamera atau sutradara mengatur penempatan kamera sehingga mencakup ruang pengelihatan yang diinginkan. Dapat juga berarti framing.
Limbo :
Melakukan pengambilan gambar pada area atau set yang tidak dapat dijelaskan sebagai suatu lokasi khusus. Dapat digunakan untuk adegan close-up, insert, dan lain sebagainya.
Lip-Sync :
Sesi perekaman saat seoarang aktor/aktris menyesuaikan suaranya dengan gerakan bibir dari gambar.
Location Departement :
Bertanggung jawab untuk mendapatkan lokasi khusus yang dibutuhkan untuk syuting film serta membuat penagturan agar seluruh kru dan peralatan dapat mencapai lokasi tersebut.
Long Focus Lens :
Istilah yang relatif digunakan untuk menggambarkan lensa yang lebih panjang dari ukuran fokus normal (telephoto) dan memberikan perbesaran image.
Looks :
Arah khusus yang diminta pada aktor/aktris untuk menagrahkan matanya dengan tujuan untuk menyesuaikan tindakan pada gambar sebelumnya. Bisa juga untuk mengindikasikan lokasi seseorang atau benda yang tidak ada dalam gambar, misalnya diluar kamera.
Long Shot :
Gambar direkam dari jarak jauh. Biasanya digunakan dengan cara
pengambilan gambar dari sudut panjang dan lebar.
Magazine :
Wadah film yang membentuk bagian dari suatu kamera atau proyektor. Magazine bersifat tahan cahaya serta tidak memungkinkan cahaya untuk masuk ke film yang belum atau sudah exposed didalam magazine.
Magnetic Recorder :
Alat perekam pita magnetik.
Make-Up Call :
Waktu untuk aktor/aktris berada pada bagian make-up atau ruang rias sebelum dimulainya syuting.
Make-Up Departement :
bagian yang bertanggung jawab terhadap penampilan aktor/aktris agar sesuai dengan kebutuhan skenario pada saat syuting.
Mark It :
Perintah terhadap asisten kamera untuk melepaskan clapper stick pada slate board untuk memberikan tanda suara pada adegan ketika kamera sedang berjalan pada kecepatan fotografi.
Marks :
Digunakan untuk memberikan referensi pada aktor/aktris atau dolly mengenai posisi tertentu dalam suatu adegan. Tanda ini dapat dibuat ditanah atau lantai dengan menggunakan kapur, kertas perekat, tees atau segitiga dari kayu serta metal.
Married Print :
Gabungan antara track gambar dan suara setelah film tersebut selesai diedit. Istilah ini tidak dikenal dalam produksi dengan menggunakan format video.
Match :
Menghasilkan ulang suatu tindakan yang dilakukan dalam adegan lain sehingga keduanya dapat dipotong sehingga menghasilkan posisi yg dapat disesuaikan.
Matching Directions :
Penyesuaian adegan dalam film seperi masuk dari kiri ke kanan sehingga orang atau alat transportasi dalam film tidak memiliki arah yang terbalik ketika pengambilan gambar lain dimasukkan.
Matte :
Sebuah cut-out atau penutup sebagian yang diletakkan didepan lensa untuk mencegah ekspose dari bagian film. Misalnya sepasang kembar identik sedang berbicara, padahal hanya satu aktor/aktris yang memerankan peran tersebut.
Matte Box :
Sebuah frame yang dipasang didepan lensa kamera dan didesain untuk menahan matte kamera yang digunakan pada suatu efek khusus. Matte Box biasanya dikombinasikan dengan sunshade.

Measuring Tape :

Alat ukur yang digunakan untuk mengukur jarak dari lensa ke subyek dengan tujuan untuk menentukan fokus secara tepat.
Microphone Shadow :
Munculnya bayangan dari mikrofon pada bagian set yang masuk pada area pandang kamera. Bila muncul pada gambar maka it’s a no-no (gambar tidak terpakai)
Mock-Up :
Tiruan suatu benda yang dibuat seperti asli tapi hanya berupa bagian tertentu saja menurut kebutuhan.

Montage :

Urutan gambar yang mengalir, menyatu, atau kadang dipotong dari yang satu ke yang lainnya. Digunakan untuk memperlihatkan peningkatan atau pembalikan waktu terhadap perubahan lokasi.
M.O.S. :
Porsi gamabr dari sebuah adegan yang diambil tanpa merekam suaranya. Inisial ini awalnya muncul dari sutradara Eropa yang tidak dapat mengucapkan WS dan mengatakan Mit Out Sound.
Moving Shot :
Teknik pengambilan gambar dari obyek yang bergerak.
Music Departement :
Bertanggungjawab dalam pengaturan atau menyediakan musik yang akan digunakan dalam film.
Master Control :
Perangkat teknis utama penyiaran untuk mengontrol proses distribusi audio dan video dari berbagai input pada suatu produksi acara
Medium Close Up :
Pengambilan gambar dari jarak yang cukup dekat
Medium Shot :
Gambar diambil dari jarak dekat
Medium Long Shot :
Gambar diambil dari jarak yang panjang dan jauh
Middle Close Up :
Pengambilan gambar dari jarak sedang
Master Shot :
Gambar pilihan utama dari sebuah adegan yang kemudian dijadikan referensi atau rujukan pada saat melakukan proses editing.
N.G. :
No Good (tidak baik) Istilah ini dipakai sebagai komentar terhadap pengambilan gambar yang tidak baik pada laporan kamera dan suara, misalnya N.G. Sound, N.G. Action
NTSC (National Television Standards Committee)
Sistem warna televisi yang dipergunakan di negara Amerika Serikat dan beberapa negara lainnya, NTSC terdiri dari 525 garis pemindaian yang berada pada rate 30 frame perdetiknya.
Non-Exclusive Contract :
Kesepakatan dimana sesorang dijamin untuk ikut dalam sejumlah produksi namun diperbolehkan untuk bekerja pada produksi lainnya.
Non-Theatrical Film :
Film yang tidak dipertontonkan di bioskop melainkan untuk film pelatihan.
O.S. :
Off Screen (tidak tampak pada layar)

Outs, Out Takes :

Bagian gambar yang tidak masuk pada versi lengkap dari sebuah film.
Overlap :
Perintah untuk aktor/aktris agar memulai dialog tanpa harus menunggu pemeran lainnya menyelesaikan dialognya.
Opening Scene :
Adegan yang dirancang khusus untuk membuka acara atau cerita.
Biasanya adegan ini dikemas secara kreatif dan menarik untuk
mendapatkan perhatian dari penonton
PAL (Phase Alternation by Line) :
Sistem warna televisi yang pertama kali dibuat di Jerman, dan digunakan di Eropa dan beberapa negara lain termasuk Indonesia. PAL terdiri dari 625 garis pemindaian berada pada rate 25 frame perdetiknya.
Plot :
Alur cerita dari sebuah naskah.
P.O.V. :
Point of View (Sudut Pandang).
Practical :
Deskripsi dari sesuatu dalam sebuah set film seperti pada kehidupan nyata. Misalnya kompor gas, bak cuci, pintu terbuka, pencahayaan lampu.
Print :
Perintah ketika pengambilan gambar telah lengkap dan dikirim ke laboratorium untuk dikembangkan.
Producer :
Sebutan ini untuk orang yang memproduksi sebuah film tetapi bukan dalam arti membiayai atau menanamkan investasi dalam sebuah produksi. Tugas seorang produser adalah memimpin seluruh tim produksi agar sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan bersama, baik dalam aspek kreatif maupun manajemen produksi dengan anggaran yang telah disetujui oleh executive producer.
Production Departement :
Bagian yang menentukan batasan biaya dan menangani persiapan dan pelaksanaan atas segala keperluan dalam sebuah produksi.
Production Assistant :
Bertanggung jawab atas segala hal yang terjadi dilapangan selama proses produksi.

Production Manager :

Orang yang bertanggung jawab atas detail produksi dari awal sampai produksi itu selesai.
Production Unit :
Terdiri dari sutradara, kru kamera, kru tata suara, bagian listrik dan semua orang yang diperlukan dalam suatu produksi.
Prop Box (Kotak Properti) :
Tersedia dalam berbagai bentuk dan ukuran serta memiliki roda yang gunanya sebagai tempat penyimpanan barang-barang kebutuhan suatu produksi.
Prop Man :
Bertugas untuk memastikan bahwa properti ada ditempat yang seharusnya pada saat dibutuhkan untuk suatu produksi.

Power Pack :

Tempat khusus untuk pembagian arus listrik
Panning :
Pergerakan horisontal kamera dari kiri kekanan maupun sebaliknya
Rain Cluster :
Sebuah perangkat sprinkler yang dapat digantung diatas kepala untuk memberikan simulasi efek dari hujan. Di sini sering memakai semburan dari mobil pemadam kebakaran.
Raw Stock :
Film yang belum diekspose.
Reaction Shot :
Pengambilan gambar yang dimasukkan dalam sebuah adegan untuk menunjukkan efek kalimat atau tindakan terhadap partisipan lain dalam adegan tersebut.
Reel of Film :
Jumlah film yang akan diproyeksikan dalam waktu 10 menit. 900 feet untuk ukuran 35mm atau 360 feet untuk ukuran 16mm. Gulungan standar dapat menampung film sepanjang 1000 feet untuk 35mm dan 400 feet untuk 16mm.
Reflector :
Pemantul yang permukaannya berlapis perak digunakan untuk memantulkan cahaya. Untuk pengambilan film eksterior reflektor sering digunakan untuk mengarahkan sinar matahari ke bagian dalam suatu adegan.
Release Print :
Married Print yang dibuat untuk didistribusikan ke bioskop setelah answer print (telah disetujui)

Re-Load :

Penanda dari departemen kamera atau tata suara ketika mereka telah kehabisan persediaan untuk merekam.
Remake :
Produksi suatu film yang sebelumnya telah diproduksi.
Re-Run :
Memutar ulang suatu film atau acara televisi.
Research Departement :
bagian riset yang terdiri dari orang-orang yang menilai otentisitas artikel, benda, kostum, dan peristiwa dalam sebuah film sebelum produksi film tersebut dijalankan.
Resolution, Resolving Power :
Kemampuan lensa atau film untuk menangkap serta menunjukkan detail yang halus.

Re-Take :

Pengulangan sebuah adegan dalam syuting.

Reverse, Reverse Angle :

Lawan dari sudut kamera dari adegan yang baru saja diselsaikan untuk memperlihatkan sisi lain dari gambar.

Rigging :

Sebuah rangka pondasi untuk penyangga lampu penerangan pada suatu set. Sering disebut juga dengan Scaffolding.

Roll, Rool ‘em :

Perintah yang biasanya diberikan oleh asisten sutradara ketika sutradara merasa adegan telah siap untuk pengambilan gambar dengan memfungsikan kamera film dan peralatan rekam lainnya.

Rough Cut :

Penggabungan dari berbagai adegan film menurut suatu cerita yang komprehensip, biasanya sudah dengan dialog dan soundtrack.
Running Shot :
Menggerakkan kamera untuk menyesuaikan dengan aktor/aktris ketika mereka menyeberangi set atau lokasi.
Rushes :
Cetakan dari hasil pengambilan gambar hari itu yang diproses pada hari yang sama sehingga dapat dilihat pada besoknya.
Rundown :
Susunan isi dan alur cerita dari program acara yang dibatasi oleh
durasi, segmentasi, dan bahasa naskah
Run Through :
Latihan akhir bagi seluruh pendukung acara yang disesuaikan dengan
urutan acara dalam rundown
Retake :
Pengambilan ulang suatu gambar/adegan

Sandbag :

Tas/bungkusan berisi pasir untuk pemberat.
Scouting :
Mencari lokasi untuk produksi atau bisa juga mencari orang yang berbakat.
Screen Play :
Naskah lengkap yang menjadi bahan untuk melakukan produksi film.
Screen Test :
Sebuah adegan yang memberikan kesempatan bagi aktor/aktris untuk memperlihatkan kemampuannya. Adegan ini biasanya diambil dari film untuk mempertimbangkan seorang aktor/aktris diambil lengkap dengan menggunakan kostum, set, dan riasan.
Scrim :
Sebuah bendera yang dibuat dari materi tembus cahaya. Kegunaannya adalah sebagian untuk mengurangi dan mendifusikan sumber cahaya. Berada ditengah antara sebuah gobo dan sebuah diffuser.
Script Supervisor, Script Clerk :
Bertanggungjawab untuk mencatat seluruh adegan dan pengambilan gambar yang diproduksi. termasuk semua informasi yang diperlukan seperti durasi, arah gerakan, penagrahan mimik wajah, penempatan aktor/aktris dan properti, serta gerakan fisik yang harus disesuaikan aktor/aktris dalam semua cakupan yang berurutan untuk kemungkinan pengambilan gamabr ulang. Semua informasi ini dimasukkan dalam salinan naskah milik supervisi naskah dan digunakan oleh editor ketika tahap editing. Dalam salinan ini juga dimasukkan catatan dari sutradara untuk editor.
Sequence :
Sebuah rangkaian adegan.
Shutter :
Mekanisme kamera yang mencegah cahaya masuk ke film diantara pengukuran frame segingga serial foto yang terpisah memiliki jarak walaupun gulungan film tetap diputar dalam kamera.
Sneak, Sneak Preview :
Pemutaran film di bioskop tanpa pemberitahuan sehingga pembuat film dapat memperoleh tanggapan dari penonton sebelum didistribusikan secara umum. Seringkali tanggapan dari penonton untuk membuat perubahan dalam film yang menurut produser akan membuat film tersebut lebih berhasil dipasaran.
Soft Focus :
pengambilan gambar dengan lensa yang diatur sedikit out of focus sehingga subyek tampak agak buram. seringkali digunakan ketika memfoto seorang aktor.aktris yang mulai terlihat berkerut.
Soft Light :
Pencahayaan lampu yang memungkinkan tidak menghasilkan bayangan dan berpendar secara keseluruhan.

Sound Camera :

Kamera yang beroperasi dengan tenan selama perekaman gambar sehingga suara dapat direkam tanpa adanya bunyi dari kamera.
Splice, Splicing :
Penggabungan akhir dari 2 buah film sehingga terbentuk sebuah kesatuan yang berkesinambungan. Proses ini disebut splicing, hubungannya disebut splice.
Sprocket :
Roda dengan gerigi teratur yang mencengkeram bagian pinggir film untuk menggerakkannya didalam kamera.
Still man, Photographer :
Bertanggungjawab atas publiitas dan pembuatan foto set serta lokasi. Dapat juga digunakan pada kesempatan tertentu.
Stop Frame :
Pengulangan sebuah frame film untuk memberikan efek diam pada aksi. Juga disebut dengan freeze frame.
Story Board :
Sketsa yang menggambarkan adegan dalam film. Digunakan untuk mempemudah pengambilan gambar.

Sunshade (Lens Shade) :

Kotak persegi panjang untuk meningkatkan ukuran lensa keluar, dipasangkan pada kamera diabgian lensa depan untuk mencegah masuknya cahaya kedalam lensa.
Super, Superimposure :
Penempatan sebuah gambar diatas gambar lainnya, misalnya title atau subtitle terjemahan bahasa.
Swish Pan :
Gerakan panning ketika kamera digerakkan secara cepat dari sebuah sisi ke sisi lainnya, menyebabkan gambar menjadi kabur untuk memunculkan kesan gerakan mata secara cepat.
Simply Shot :
Gambar yang diambil dari sudut yang mudah
Script Format :
Format penulisan naskah acara
Script Marking :
Penandaan pada naskah untuk menjadi catatan bagi sutradara maupun
pendukung produksi lainnya
Stock Shot :
Berbagai bentuk gambar yang diciptakan untuk menjadi pilihan pada
saat gambar-gambar tersebut memasuki proses editing
Suspense :
Istilah yang digunakan untuk menunjukkan adegan yang menegangkan
dan mengundang rasa was-was bagi penonton
Steady Shot :
Gambar sempurna dan tidak terlalu banyak bergerak dan dapat dinikmati
dengan posisi diam
Slow Motion :
Pergerakan gambar yang diperlambat sesuai dengan kebutuhan cerita

Tag, Tag Line :

Kalimat atau tindakan dalam sebuah adegan terakhir dari sebuah film yang diharapkan dapat menjadi puncak dari apa yang telah disuguhkan sebelumnya.

Teaser :

Adegan pertama dari keseluruhan gambar dari cerita. Biasanya adegan yang menarik, digunakan di televisi.
Tele-Photo Lens :
Lensa dengan panjang fokus lebih besar dari normal yang digunakan untuk membuat obyek jauh menjadi dekat.
That’s a Hold :
Perintah dari sutradara pada script supervidor dan asisten kamera bahwa pengambilan gambar yang baru saja selesai tidak akan dikirim ke lab untuk dicetak tapi diberi label “hold” sampai pengambilan gambar lainnya telah selesai dan sutradara memutuskan gambar mana yang akan dicetak.
Tilt :
Menggerakan kamera secara vertikal (naik-turun)
Tone Track :
Soundtrack yang memunculkan bunyi latar yang diasosiasikan dengan lokasi interor atau eksterior. Suara ini biasanya tidak disadari namun memberikan sentuhan realitas yang dibutuhkan oleh sebuah film.
Top Lighting :
Cahaya dari sumber yang diletakkan diatas subyek sehingga turun menyinari.
Transportation Departement :
Bertanggungjawab terhadap semua kendaraan yang digunakan oleh kru dan pemain selama syuting berlangsung. Dalam hal ini termasuk antar dan jemput kru atau pemain.

Treatment :

Presentasi detail dari cerita sebuah film namun belum berbentuk naskah.

Triangle :

Alat yang digunakan untuk menahan kaki-kaki tripod agar tidak bergerak jika diletakkan di lantai yang licin.
Two/Three Shot :
Perintah yang seringkali digunakan oleh sutradara untuk mengarahkan kamera pada dua/tiga obyek yang dituju.
Unit Manager :
Bertanggungjawab atas kelancaran operasi perusahaan film di lokasi.
Variable Speed Motor :
Variasi kecepatan film di kamera untuk keperluan efek khusus.
Viewfinder :
Instrumen optik yang diletakkan samping kiri blimp yang memungkinkan operator kamera untuk mengikuti aksi sementara kamera sedang berputar.
Voice Cue :
Sinyal vokal dari sutradara atau aktor/aktris dalam adegan bahwa sudah waktunya aktor/aktris lain masuk.
VTR :
Video Tape Recording

Very Long Shot :

Gambar yang diambil dari jarak yang sangat jauh
Voice Over :
Suara dari announcer atau penyiar untuk mendukung isi cerita (narasi)

Wardrobe Box :

Kotak penyimpanan kostum.
Wardrobe Departement :
Bertanggungjawab atas pemilihan kostum yang akan dipergunakan untuk produksi.

Wild Line :

Kalimat yang biasanya direkam setelah pengambilan gambar atau diakhir syuting pada hari itu. Dipergunakan untuk mengulang kalimat dari suatu adegan yang telah diambil karena tidak jelas.

White Balance :

Prosedur untuk mengoreksi warna gambar dari kamera dengan
mengubah sensitivitas CCD ke dalam spektrum warna.
Umumnya prosedur ini menggunakan warna putih sebagai dasar
Wild Recording :
Perekaman yang tidak dilakukan selama proses fotografi. efek suara dan bunyi acak biasanya direkam dengan cara ini, kadang untuk narasi dan musik juga. Seringkali disebut Non-Sync.

Wind Machine :

Kipas angin besar yang ditutup dengan kawat pengaman. Digunakan untuk menciptakan efek angin.
Wipe :
Efek optik antara 2 gambar dimana gambar ke-2 mulai di bagian luar layar dan menghapus gambar pertama sampai dengan garis yang masih terlihat dan pada akhirnya menutupi gambar pertama.
Wrap :
Perintah yang digunakan untuk memberitahukan pada semua orang bahwa syuting pada hari itu sudah selesai.

Riset Dalam Film Dokumenter

Posted by dutabayu on , under | komentar (0)



Film dokumenter merupakan penemuan baru untuk mengatasi kegelisahan orang atas hilangnya pengalaman visual. Karena peristiwa berlalu dengan cepat maka orang sering membuat ikon atau tiruan dari kenangan tersebut, misalnya foto kekasih di dompet, meja, dsb.
Dalam kenyataannya selalu ada kesenjangan antar visual yang dibuat kamera dengan kondisi nyata. Sekarang menjadi bertambah kompleks, karena ada suara, warna, dll sehingga semakin tdak sesuai dengan realita. Kita melihat realita dengan sepotong-sepotong, misal melihat seseorang tdak bisa menyeluruh.
Dengan demikian imej visual sangat dibutuhkan . Foto dan film bisa membantu, tapi juga bisa mengganggu. Tampilan bisa melampaui kebutuhan kita. Kamera menampilkan apa yang tidak bisa kita tangkap. Mata biologis hanya melihat apa yg ingin kita lihat. Maka imej visual yang kemudian kita anggap sebagai dokumen -karena diperlakukan sebagai arsip dan disimpan sebagai data- melampui kebutuhan orang yang membuat film. Maka pertanyaan yang kemudian muncul adalah : Apakah film dokumenter memenuhi kebutuhan obyektif suatu riset?
Bisa dikategorikan sebagai obyektif karena secara mekanik, digital dan sebagian chemic. Mata biologis pun mengambil obyek yang memang benar-benar kita butuhkan. Peristiwa ini kemudian diubah menjadi obyek penelitian. Penelitian itu sendiri tidak ada yang benar-benar obyektif. Lalu untuk apa riset ini?
Kalau hanya untuk kebutuhan filing system, maka penelitian hanya berhenti di lemari, tapi riset ini adalah riset transformasi. Riset perfilman menjadi bagian dari transformasi itu sendiri. Dari tayangan film orang dapat merefleksi dirinya sendiri sehingga ia dapat merubah dirinya sendiri. Jadi film bisa membentuk kenyataan. Ada dialektika antara film dengan kehidupan sehari-hari. Dalam konteks besar orang menyebutnya sebagai proses mediasi, dari citra visual, menjadi mediasi untuk membentuk realita.
Untuk membuat film dibutuhkan riset yg reflektif, tentang polah obyek, isu-isu yang berkembang, dsb. Riset dalam Film Dokumenter dianggap penting dalam penciptaan film dokumenter. Di Indonesia sendiri, pendanaan untuk riset film-film dokumenter dinilai masih sangat kurang. Dalam proses produksi film dokumenter, riset yang efektif dilakukan selama dua bulan. Hal ini berhubungan dengan pengalaman Garin Nugroho saat bekerjasama dengan NHK Jepang.
Dalam analisis terhadap hasil riset, banyak orang menganalisanya tanpa tahu jenis dokumenter apa yang akan dibuatnya. Riset sendiri bersifat kompleks karena harus mampu mengorganisir manajemen teknik, ide, lokasi dan lain-lain.
Untuk itu tim riset yang dibentuk harus komprehensif, bisa memadukan sebuah bentuk organisasi yang struktural dengan organisasi yang non struktural. Hal ini bisa menciptakan ide-ide yang �gila� dan tidak terduga. Dalam riset lapangan juga diperlukan orang yang memang benar-benar paham lokasi shooting. Seorang sutradara tidak mencari periset yang dekat dengan dirinya tetapi seorang periset yang mengerti kondisi lokasi. Dengan kata lain, baik periset maupun tim produksi sepenuhnya mengabdi pada film yang akan diproduksi.
Kelemahan dari pencipta film adalah mencari tim periset dengan ego pribadi. Ambisi pencipta fim adalah ambisi terhadap fim itu sendiri. Misal untuk membuat film yang berhubungan dengan kehidupan anak jalanan dibutuhkan pendamping-pendamping anak jalanan yang benar-benar mengerti kehidupan mereka. Pendamping pun ternyata berbeda-beda. Ada pendamping yang mengerti masalah psikologi anak, masalah penampilan, dsb. Jadi langkah awal yang perlu diperhatikan dalam membentuk tim riset adalah mengerti benar kegunaan atau jenis film tersebut sehingga tim yang terbentuk adalah tim yang tahu kegunaan film tersebut. Seringkali yang terjadi di langkah awal pembentukan tim riset ini adalah seorang pencipta film lebih mengutamakan egoismenya sehingga film itu sendiri tidak lagi menjadi masalah yang penting.
Riset itu sendiri memiliki bidang kerja yang berbeda-beda. Untuk melakukan riset terhadap subjek dan wilayah memerlukan berbagai macam disiplin ilmu, sosial, politik, sosiologi, dll. Misalnya membuat film tentang Papua, pencipta film harus tahu dimana saja wilayah konflik, suku apa saja yang mendiami tempat tersebut, bagaimana hubungan antar suku atau penduduknya, dsb. Sedangkan untuk riset yang berhubungan dengan administratif kerja harus tahu tempat-tempat yang dibutuhkan untuk mendukung tim kerja, misalnya jadwal buka POM Bensin, informasi tentang hotel, jarak dan waktu, transportasi, dsb. Tim periset juga harus bisa bekerjasama dengan kru-kru lokal yang mengerti persis keadaan lokasi, misal saat shooting di Aceh akan lebih baik merengkrut sopir yang tahu atau kenal dengan GAM sehingga memudahkan transportasi, dsb. Saat melakukan pembuatan film di daerah-daerah konflik, mutlak dibutuhkan regu pengaman, aparat desa, ketua agama. dll. Di daerah konflik juga dibutuhkan kemampuan berdiplomasi.
Riset tentang SDM dan hal-hal lain mutlak penting bahkan untuk hal-hal sekecil apapun sehingga tidak ada pertanyan-pertanyaan yang menghambat kelancaran pembuatan film.
Pembuat film harus tahu SDM yang terlibat secara personal. Ia juga mengetahui dan mengerti kelemahan dan kelebihan setiap anggota tim, bila perlu tes langsung. Hal yang harus diperhatikan juga pada riset SDM adalah watak tiap kru sehingga dapat saling melengkapi. Fokus dan pengembangan ide film akan lebih mudah apabila masalah-masalah teknis di sekitar lokasi shooting telah teratasi dengan baik.
Dari segi teknis kamera, riset yang baik bisa sekaligus memenuhi kebutuhan dalam pengambilan-pengambilan gambar. Periset yang baik juga harus memperhatikan bagaimana posisi atau penempatan kamera yang baik , semisal pembuat film menginginkan gambar yang dramatis di pagi hari. Posisi kamera sudah mengerti tempat atau angle yang baik untuk men-shoot matahari, bagaimana komposisi yang baik, dari segi suara dan sebagainya sehingga hasil gambar sesuai dengan yang diinginkan. Terkadang periset juga harus membuat peta wilayah tersebut sampai pada tingkat bagaimana curah hujan (kemungkinan longsor, misal), dan sebagainya.
Riset juga berhubungan dengan tema film. Riset tema film berhubungan dengan penguasaan pada wacana yang menyangkut disiplin ilmu dan kebutuhan mendiskripsikannya ke bentuk visual. Periset harus tahu alasan suatu wacana, dan dapat menuangkan ke dalam bentuk visual. Pendampingan kepustakaan dan ahli lokal juga penting dan harus dilakukan.
Seluruh point-point riset ini dikumpulkan dan dibuat point-point detail, dari jenis huruf, peta daerah, hingga pemotretan secara detail. Bila unsur-unsur periset terpenuhi, sutradara atau filmaker akan enak sekali dalam pembuatan film lebih lanjut. Segalanya bisa dilakukan dengan cepat, tepat dan pasti.
Metode riset yang akan digunakan berkaitan dengan pengembangan ide. Seringkali para pembuat film tidak tahu harus berangkat darimana saat akan menentukan tema film yang akan diangkat. Oleh karena itu dilakukan klasifikasi terhadap subyek, misal tentang Kalimantan. Kalimantan bisa dikategorikan menjadi hutan, sungai atau faktor-faktor sosial lainnya. Kemudian menentukan keterkaitan antara klasifikasi tersebut dengan kehidupan sosial, seni, dll yang diperinci lagi, misalnya jenis perahu yang digunakan, hewan-hewan yang ada di sekitarnya, dsb sehingga tema bisa berkembang dari temuan-temuan seperti itu.
(Dikutip dari berbagai sumber)

10 minute Film School by Robert Rodriguez

Posted by dutabayu on , under | komentar (0)



Good Morning Class!
Now a famous film-maker a while back said something about ‘Everything you need to know about film you can learn in a week.’ He was being generous. You can learn it in 10 minutes.
Set your watches we will be out of here in ten kids.
Okay, so you wanna be a film-maker?
(Class choruses ‘YES’)
Wrong! You ARE a film-maker. The moment you think about that you want to be a film-maker you’re that. Make yourself a business card that says you’re a film-maker, pass them out to your friends, soon as you get that over with and you’ve got it in your mind that you’re one you’ll be one, you’ll start thinking like one. Don’t dream about being a film-maker, you are a film-maker. Now let’s get down to business.
Let’s Play!!
What you need to learn is that being creative is not enough in this business. You have to become technical. Creative people are born creative – you’re lucky. Technical people however can never be creative. Its something they’ll never get. You can’t buy it, find it, study it – you’re born with it. Too many creative people don’t want to learn how to be technical, so what happens? they become dependent on technical people. Become technical, you can learn that. If you’re creative and technical, you’re unstoppable.
Experience – Do you have experience in movies? You do, right – you WATCH movies. Now you need to have movie experience – you’re not going to learn from just watching movies, you’re learn some things, you’ll learn more picking up a camera, making your own films, your own mistakes – mistakes don’t have to be mistakes, everything is subjective – a mistake to one person is actually a piece of art to someone else. Hide behind that, tell everyone its art, you can get away a lot.
Start with a screenplay. Does anybody here know how to write? No – good. Everyone else writes the same way. Start writing your way. That makes you unique. You can take writing classes, that’s good, but don’t bother to go to film school or you’ll be making films like everybody else. We want to see your film.
How do you write a script? Well, you obviously don’t have a lot of money or you wouldn’t be in my class. So you wanna make a movie but you don’t want to spend a lot. You’re gonna come up with problems everyday on your set. You can get rid of the problem one of two ways – you can do it creatively or you can wash it away with the money hose. You got no money, you got no hose. So let’s make a screenplay for a movie you can actually make without having to make your parents poor. Let’s make a cheap movie.
How do you make a cheap movie? – Look around you, what do you have around you? Take stock in what you have. Your father owns a liquor store – make a movie about a liquor store. Do you have a dog? Make a movie about your dog. Your mom works in a nursing home, make a movie about a nursing home. When I did El Mariachi I had a turtle, I had a guitar case, I had a small town and I said I’ll make a movie around that.
How do you visualise a movie? With storyboards, you can do that. You can previsualise your movie and draw them out, but what you should really do is make a blank screen for yourself and watch your movie. Close your eyes and stare at this. Imagine a screen, imagine your movie. Shot for shot, cut for cut. Sit there, close your eyes and get rid of everybody, get rid of all your thoughts in your head except your movie and watch your movie. Is it too slow? Is it too fast? Is it funny? Does it make sense? Watch it and then write down what you see. Write down the shots that you see. And then just go get those shots.
Equipment. OK let’s go over the equipment. The worse the better. You don’t want anything too fancy, remember this is your first movie – you’re not Spielberg yet. I used this one for El Mariachi, almost the same one, I used a 16M this is a 16S, this is exactly what I had. It helped me move fast because it was light, it was very noisy so I could do the sound in a wacky way, but this thing here would cost you about $2000. Don’t spend that kind of money, find some monkey that own’s one. I found someone who had one of these sitting around, he wasn’t using it. I borrowed it from him, I shot my movie.
(Points at what look’s like a damn heavy tripod) Look at it, this is a nice stand, its a very solid stand, y’know what’s gonna happen? The camera is gonna stay on the stand, you’re just gonna keep it there, ‘cos its so nice, meaning your movie’s gonna look…stiff. Take it off of there, sit in a wheelchair, push yourself around, get some energy in your film. That’s the great thing about first films is that they have so much life and so much energy. Big productions can’t even duplicate that energy, because they’ve got too good a stand and too much crew and everything is really smooth and polished and its lifeless. Add life to your film by getting rid of the fancy stuff. (Points at the tripods) Too good, too heavy, too good – just use your hands.
Here’s a lightmeter, this isn’t the write one, I broke my other one. This is a spotmeter, that’s OK but it’s too fancy. You just need one with a little white dome on it, point it to your subject, read the light, look at the number on your lightmeter – remember your lightmeter is your friend – feed that into lens and the iris, and then you’re set. Start shooting.
Don’t overlight. On Mariachi I had two lights, regular lightbulbs, they were balanced for indoor film, so look fine. In fact everyone said the lighting looked moody because there was very little light . Your mistakes, your shortcomings suddenly becomes artistic expression.
Finally, postproduction. When you’ve finished shooting your movie what do you do? (Picks up video mixer) These are your friends my friends. Video editing systems, computer editing systems, anything like that, its immediate, its easy, its cheap. Do not cut on film. Film is your enemy. You may be shooting on film but don’t cut on film. If any of you want to cut on film get out of my class right now. Go spend $20,000 on a real film school and do that. You’ll never get a job though – believe me.
Everything is on computers or video these days. Film is slow, film is expensive, film is not creative – film take’s too long. Cut on tape that’s what I do. I shot Mariachi for nothing. I edited on video. I had a three-quarter inch master that looked beautiful because the negative was transferred right to tape. There was no middleman so it looked like 35mm – clean, pristine. I made VHS copies of this, sent them out all over Hollywood. I never made a film print. (Picks up film strip) Waste of money. You have to string them up, they get worn out. They’re expensive. They’re copies of your negative. You don’t want that, you don’t want copies of your negative, you want your negative…on tape. Where people can duplicate it and watch it and get you work.
OK so you’ve made your movie, you’ve cut it, you’ve got it out, people want you. What do you do? The first thing you want to do is get an agent – right away. Hollywood is full of sharks, you need a shark working for you. These guys go and get you the best deals, they get you the best prices, they get you the best movies.
What you’ve learn is what no one else has. How to make a movie dirt cheap. No one else in Hollywood knows how to do that. You guys can make them cheap, you guys can make them better, don’t get swallowed in the system, take advantage of your position.
Now I make movies that are still low budget but they look like big budget movies because I learn the techniques that I just showed you today.
All right I’ve got to go back and do my own films so I hope you guys learnt something today, I hope you grab some of these cameras and go shoot something of your own, I hope you write down the ideas that you have, the dreams that you have.
Stop aspiring, start doing.
See you in Hollywood – be scary!
Robert Rodriguez known as director of El Mariachi/Desperado and newest is Once Upon a Time in Mexico
http://www.friendster.com/group-discussion/index.php?t=msg&th=167481&start=0&

The History of Video Tape and Camera

Posted by dutabayu on , under | komentar (0)



Charles Ginsburg led the research team at Ampex Corporation in developing the first practical videotape recorder (VTR). In 1951, the first video tape recorder (VTR) captured live images from television cameras by converting the information into electrical impulses and saving the information onto magnetic tape. Ampex sold the first VTR for $50,000 in 1956.The first VCassetteR or VCR were sold by Sony in 1971.


Charles Ginsburg led the Ampex research team that developed a new machine that could run the tape at a much slower rate because the recording heads rotated at high speed, allowing the necessary high-frequency response.
Charles Paulson Ginsburg known as the “father of the video cassette recorder
Video Recording
In the early days, film was the only medium available for recording television programmes. Thoughts turned to magnetic tape, which was already being used for sound, but the greater quantity of information carried by the television signal demanded new studies. During the 1950s, a number of American companies began investigating the problem.

Image Dissector television camera tube and television receiver
Philo T. Farnsworth – 1929

Television Cameras
In the 1920s, American engineer, Philo Taylor Farnsworth devised the television camera, an image dissector, which converted the image captured into an electrical signal.
Television Cameras
The pick-up tube is the main element governing the technical quality of the picture obtained by the camera. The first electronic cameras using iconoscope tubes were characterised by very large lenses, necessary to ensure enough light reached the pick-up tube.

Iconoscope Television Camera Tube
Conceived in 1923 by V.K. Zworykin, the iconoscope was used in the Radio Corporation of America’s first public television broadcasts in 1939. The scene to be televised was focused on a light-sensitive mosaic of tiny globules of treated silver, which assumed an electric charge proportional to the strength of the illumination. A narrow scanning beam, shot from an electron gun and traced across the mosaic by magnetic deflection coils, caused a succession of voltages to pass to a signal plate. The picture signal then passed to an amplifier for transmission to a television receiver.
Video Stills
The still video or digital camera (the Sony Mavica single-lens reflex) was first demonstrated in 1981. It used a fast-rotating magnetic disc, two inches in diameter, recording on it up to 50 images formed in a solid-state device in the camera. The images were played back through a television receiver or monitor, or printed out.
Formats
VHS – Video tape in a large cassette format introduced by both JVC and Panasonic around 1976. This has been the most popular format for home use and video store rentals, however, it will be replaced by mini dv tapes and dvds. VHS stands for Video Home System.

Sejarah Televisi

Posted by dutabayu on , under | komentar (0)




Pada tahun 1873 seorang operator telegram asal Valentia, Irlandia yang bernama Joseph May menemukan bahwa cahaya mempengaruhi resistansi elektris selenium. Ia menyadari itu bisa digunakan untuk mengubah cahaya kedalam arus listrik dengan menggunakan fotosel silenium (selenium photocell). Joseph May bersama Willoughby Smith (teknisi dari Telegraph Construction Maintenance Company) melakukan beberapa percobaan yang selanjutnya dilaporkan pada Journal of The Society of Telegraph Engineers. Hal ini merupakan embrio dari teknologi perekaman gambar.
Setelah beberapa kurun waktu lamanya kemudian diciptakan sebuah piringan metal kecil yang bisa berputar dengan lubang-lubang didalamnya oleh seorang mahasiswa yang bernama Julius Paul Gottlieb Nipkow (1860-1940) atau lebih dikenal Paul Nipkow di Berlin, Jerman pada tahun 1884 dan disebut sebagai cikal bakal lahirnya televisi. Sekitar tahun 1920 John Logie Baird (1888-1946) dan Charles Francis Jenkins (1867- 1934) menggunakan piringan karya Paul Nipkow untuk menciptakan suatu sistem dalam penangkapan gambar, transmisi, serta penerimaannya. Mereka membuat seluruh sistem televisi ini berdasarkan sistem gerakan mekanik, baik dalam penyiaran maupun penerimaannya. Pada waktu itu belum ditemukan komponen listrik tabung hampa (Cathode Ray Tube)



Televisi elektronik agak tersendat perkembangannya pada tahun-tahun itu, lebih banyak disebabkan karena televisi mekanik lebih murah dan tahan banting. Bukan itu saja, tetapi juga sangat susah untuk mendapatkan dukungan finansial bagi riset TV elektronik ketika TV mekanik dianggap sudah mampu bekerja dengan sangat baiknya pada masa itu. Sampai akhirnya Vladimir Kosmo Zworykin (1889-1982) dan Philo T. Farnsworth (1906-1971) berhasil dengan TV elektroniknya. Dengan biaya yang murah dan hasilnya berjalan baik, maka orang-orang pada waktu itu berangsur-angsur mulai meninggalkan tv mekanik dan menggantinya dengan tv elektronik.
Vladimir Zworykin, yang merupakan salah satu dari beberapa pakar pada masa itu, mendapat bantuan dari David Sarnoff (1891-1971), Senior Vice President dari RCA (Radio Corporation of America). Sarnoff sudah banyak mencurahkan perhatian pada perkembangan TV mekanik, dan meramalkan TV elektronik akan mempunyai masa depan komersial yang lebih baik. Selain itu, Philo Farnsworth juga berhasil mendapatkan sponsor untuk mendukung idenya dan ikut berkompetisi dengan Vladimir.

TV ELEKTRONIK
Baik Farnsworth, maupun Zworykin, bekerja terpisah, dan keduanya berhasil dalam membuat kemajuan bagi TV secara komersial dengan biaya yang sangat terjangkau. Di tahun 1935, keduanya mulai memancarkan siaran dengan menggunakan sistem yang sepenuhnya elektronik. Kompetitor utama mereka adalah Baird Television, yang sudah terlebih dahulu melakukan siaran sejak 1928, dengan menggunakan sistem mekanik seluruhnya. Pada saat itu sangat sedikit orang yang mempunyai televisi, dan yang mereka punyai umumnya berkualitas seadanya. Pada masa itu ukuran layar TV hanya sekitar tiga sampai delapan inchi saja sehingga persaingan mekanik dan elektronik tidak begitu nyata, tetapi kompetisi itu ada disana.

TV RCA, Tipe TT5 1939, RCA dan Zworykin siap untuk program reguler televisinya, dan mereka mendemonstrasikan secara besar-besaran pada World Fair di New York. Antusias masyarakat yang begitu besar terhadap sistem elektronik ini, menyebabkan the National Television Standards Committee [NTSC], 1941, memutuskan sudah saatnya untuk menstandarisasikan sistem transmisi siaran televisi di Amerika. Lima bulan kemudian, seluruh stasiun televisi Amerika yang berjumlah 22 buah itu, sudah mengkonversikan sistemnya kedalam standard elektronik baru.
Pada tahun-tahun pertama, ketika sedang resesi ekonomi dunia, harga satu set televisi sangat mahal. Ketika harganya mulai turun, Amerika terlibat perang dunia ke dua. Setelah perang usai, televisi masuk dalam era emasnya. Sayangnya pada masa itu semua orang hanya dapat menyaksikannya dalam format warna hitam putih.

TV BERWARNA

Sebenarnya CBS sudah lebih dahulu membangun sistem warnanya beberapa tahun sebelum rivalnya RCA. Tetapi sistem mereka tidak kompatibel dengan kebanyakan TV hitam putih diseluruh negara. CBS yang sudah mengeluarkan banyak sekali biaya untuk sistem warna mereka harus menyadari kenyataan bahwa pekerjaan mereka berakhir sia-sia. Belajar dari pengalaman CBS, RCA mulai membangun sistem warna menurut formatnya sendiri. Mereka dengan cepat membuat sistem warna yang mampu untuk diterima pada sistem warna maupun hitam putih. Setelah RCA memperlihatkan kemampuan sistem mereka, format NTSC kemudian dijadikan acuan standart untuk siaran komersial pada tahun 1953.
Seiring dengan berjalannya waktu serta perkembangan teknologi, televisi dari waktu ke waktu mulai banyak perbaikan dan penambahan dari sisi teknologinya. Untuk waktu kedepan televisi perlahan mulai meninggalkan teknologi analog dan menginjak ke era yang disebut televisi digital dengan kemampuan dan kualitas yang lebih baik dari generasi sebelumnya yang lazim disebut dengan teknologi IPTV [Internet Protocol Television].

Sekilas Tentang Sejarah Sinema

Posted by dutabayu on , under | komentar (0)



cinematographe.jpglumiere.jpg
Sejarah awal sinema diawali dengan digunakannya Cinematographe milik Lumiere bersaudara yang merupakan modifikasi dari alat Kinetoscope ciptaaan Thomas Alfa Edison.
Kalau sebelum nya menonton film dilakukan dengan cara mengintip gambar bergerak dari satu lobang secara bergantian, maka Cinematographe menandai dimulainya era pertunjukan film yang bisa dilihat untuk orang banyak. Pada tahun 1895 tepatnya tanggal 28 Desember untuk pertama kalinya puluhan orang berada didalam satu ruangan menonton film yang diproyeksikan ke sebuah layar lebar. Lumiere bersaudara menyewa sebuah ruang bilyard tua di bawah tanah di Boulevard des Capucines – Paris yang kemudian dikenal sebagai ruang bioskop pertama didunia. Tempat itu kemudian dinamakan Grand Cafe yang tiba-tiba menjadi begitu populer di Eropa. Ribuan orang berbondong-bondong ingin menonton film buatan Auguste dan Louis Lumiere. Saat itu pengalaman menonton film dalam sebuah ruangan adalah suatu hal yang sama sekali baru bagi orang-orang pada waktu itu.
pic_kinetoscope.gifpic_edison-1847-1931.gif
Thomas Alfa Edison (1847 – 1931)
jazz-the-singer-1927.jpg
jazz3.gif
Setelah itu ada banyak upaya untuk membuat film, tetapi masih kategori film bisu. Pada masa film bisu, pertunjukan film umumnya diiringi dengan musik secara langsung sebagai ilustrasi musiknya.
Kemudian seiring dengan berjalannya waktu, pada tahun 1927 seorang sutradara bernama Alan Crosland untuk pertama kalinya membuat film The Jazz Singer dengan menyajikan secara lengkap musik, nyanyian, serta dialog. Walau masih dalam format warna hitam putih.


Perkembangan film di Indonesia yang menyajikan unsur gambar dan suara yang menjadi satu sendiri diawali dengan diproduksinya film berjudul Terpaksa Menika, dengan sutradara, Penata Fotografi, dan Suara oleh G. Krugers pada tahun 1932.
Pada waktu itu promosi film tersebut adalah “100% bicara, musik, dan nyanyi. Lebih terang, bagus, kocak, dan ramai dari Njai Dasima…”
Tahun 1952 adalah awal sebuah produksi film berwarna pertama Indonesia yang berjudul Rodrigo de Villa (sutradara Gregorio Fernandez & Rempo Urip), Director Of Photography E. ROSALES, Composer Q. VELASCO.
Dengan para pemain RD Mochtar, Netty Herawati, Rendra Karno, Darussalam, Sukarsih, Nana Mayo, Astaman, Awaludin, Djuriah, A. Hadi, H. Asby, dan Pete Elfonso.
Seluruh produksi film tersebut dikerjakan di Studio LVN Manila – Filipina.
Setelah itu mulai dari tahun 1968 barulah muncul film-film format warna dalam produksi perfilman Indonesia.

Era Video

Lebih dari seratus tahun kemudian teknologi perfilman telah berkembang pesat. Dengan ditemukannya Video yang unggul dari segi kemudahan. Video dapat merekam suara dan gambar dalam satu medium pada saat yang sama. Kelebihan lainnya bobot dari kamera video itu sendiri lebih ringan dan mudah dioperasikan.
Jenis
Ada beberapa jenis film (genre) yaitu fiksi dan non fiksi. Yang termasuk dalam jenis film non fiksi adalah film dokumenter. Film dokumenter bisa berisi tentang alam dan manusia dengan cara hidupnya yang beragam.
Sedangkan untuk jenis film fiksi mencakup drama, suspense atau action, science fiction, horo, dan film musikal.
Dari segi durasi film bisa dikelompokkan menjadi film panjang dan pendek. Film panjang biasanya berdurasi 60 menit atau lebih. Sedangkan film pendek durasinya kurang dari 60 menit.
Bagi para pemula di bidang perfilman tentunya akan lebih mudah untuk berlatih dalam membuat sebuah film pendek terlebih dahulu. Sebagai contoh Rudi Soedjarwo dan timnya mengawali debutnya dengan membuat film pendek berjudul Bintang Jatuh dan Tragedi.

Source :
super8site.com
cinematographers
vfcpug.org
fmcomputers
tiburonfilmfestival
victorian-cinema
hsb.iitm
history.sandiego
citwf
indosinema

Multimedia Acronyms

Posted by dutabayu on , under | komentar (0)



ACR            Absolute category rating
ANSI         American National Standards Institute
ATM           Asynchronous transfer mode
CIE           Commission Internationale de l’Eclairage
cpd             Cycles per degree
CRT           Cathode ray tube
CSF             Contrast sensitivity function
dB             Decibel
DCR           Degradation category rating
DCT           Discrete cosine transform
DMOS         Differential mean opinion score
DSCQS       Double stimulus continuous quality scale
DSIS           Double stimulus impairment scale
DVD          Digital versatile disk
DWT           Discrete wavelete transform
EBU           European Broadcasting Union
FIR             Finite impulse response
HDTV         High-definition television
HLS            Hue, lightness, saturation
HSV           Hue, saturation, value
HVS            Human visual system
IEC           International Electrotechnical Commission
IIR             Infinite impulse response
ISO           International Organization for Standardization
ITU             International Telecommunication Union
JND           Just noticeable difference
JPEG          Joint Picture Experts Group
kb/s          Kilobit per second
LGN            Lateral geniculate nucleus
Mb/s          Megabit per second
MC              Motion compensation
MOS          Mean opinion score
MPEG         Moving Picture Experts Group
MSE           Mean squared error
MSSG         MPEG Software Simulation Group
NTSC         National Television Systems Committee
NVFM         Normalization video fidelity metric
PAL           Phase Alternating Line
PDM           Perceptual distortion metric
PBDM        Perceptual blocking distortion metric
PSNR         Peak signal-to-noise ratio
RGB          Red, green, blue
RMSE         Root mean squared error
SID           Society for Information Display
SSCQE       Single stimulus continuous quality evaluation
SNR           Signal-to-noise ratio
TCP/IP      Transmission control protocol/internet protocol
VCD          Video compact disk
VHS            Video home system
VQEG        Video Quality Experts Groupv

Sutradara

Posted by dutabayu on , under | komentar (0)



Pra Produksi
Sebagai sutradara ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dikerjakan, yaitu :
- Director’s treatment
- Shotlist
- Storyboard
- Casting
- Reading
- Rehearsal
- Continuity

Director’s treatment
Merupakan gaya penyutradaraan yang akan diterapkan dalam pembuatan sebuah film. Dengan contoh untuk skenario yang sama bisa dihasilkan 4 film dengan gaya yang berbeda.
Tiap sutradara bisa memperlakukan sebuah skenario dengan cara yan g berbeda-beda.
Hal inilah yang menyebabkan adanya berbagai macam gaya penyutradaraan.
Hal-hal yang mempengaruhi director’s treatment adalah
Warna bisa mempengaruhi gaya, misalnya sutradara menampilkan warna (colour tone) yang berbeda untuk setiap pemunculan karakter. Umumnya hanya tokoh kunci yang ditonjolkan karakternya. Bisa juga tidak diberlakukan pembedaan warna berdasarkan karakter tetapi menurut suasana dalam tiap adegan film tersebut. Dengan mengelompokkan adegan-adegan dalam beberapa kelompok yang masing-masing diberi penekanan warna yang berbeda.
Gerakan kamera memberikan efek besar bagi penonton. Untuk itu kelompok adegan yang telah dibuat sebelumnya sebaiknya diperlakukan berbeda pula lewat gerakan kamera.
misalnya untuk adegan sebuah pengharapan lebih banyak ditampilkan dengan gerakan kamera yang dinamis dan variatif, sedangkan untuk adegan yang menggambarkan tentang kesedihan diberi gerakan kamera statis atau lambat sekali.
Penyampaian cerita bisa dilakukan dengan cara memadukan antara narasi dan dialog. Bisa saja film tersebut dibuat narasi menjadi lebih dominan atau tanpa narasi sama sekali.
Tiap paduan menghasilkan efek berbeda terhadap penonton. Untuk menentukan paduan yang pas dalam skenario serta jika memerlukan perubahan mendasar yang disebabkan penerapan suatu gaya penyampaian cerita harus didiskusikan dengan penulis skenario.
Gaya editing harus sejak awal sudah didiskusikan sejak awal dengan editor, agar penonton dapat menikmati alur cerita dengan nyaman. Penulis skenario juga bisa dilibatkan dalam diskusi tentang pemilihan gaya editing.
Shotlist
Shot adalah bagian dari sebuah adegan. satu adegan bisa terdiri dari satu atau lebih shot.
Perencanaan yang cermat harus dilakukan dalam menentukan sudut mana saja dalam sebuah adegan yang akan di shot. Kumpulan dari urutan shot tiap adegan dalam film disebut shotlist. Tanpa shotlist sebenarnya pembuatan film bisa selesai dikerjakan, namun jika mempergunakan shotlist maka proses sebuah pengambilan gambar akan jauh lebih mudah untuk dilaksanakan. Keuntungannya semua kru yang terlibat dalam sebuah penggarapan fulm tersebut akan mengetahui dengan jelas apa saja yang harus mereka lakukan.
Cara termudah untuk mengurai adegan dalam bentuk shot adalah dengan membuat script breakdown, untuk topik tersebut nanti akan dijelaskan pada posting berikutnya.
Produksi
Dalam tahap produksi sutradara harus memastikan beberapa hal yang telah diuraikan dalam script breakdown sheet.
1. Menentukan titik kamera.
2. Membuat floor plan
3. Mengarahkan pemeran
4. Menjaga continuity
5. Menentukan bagus dan tidaknya sebuah shot

Menentukan titik kamera sesuai script breakdown dan shotlist. yang perlu diperhatikan dalam urutan perekaman shot letak kamera jangan dipindah sebelum seluruh shot yang akan diambil telah selesai semuanya. Jika kamera dipindah-pindah akan memperpanjang waktu pengambilan gambar, belum lagi harus setting ulang segala peralatan jika sering berpindah tempat/lokasi.
Membuat Floor Plan
Adalah gambar/sketsa sederhana tentang pergerakan pemeran dan posisi kamera. Dalam hal ini kamera juga bisa bergerak, untuk itu perlu digambarkan juga pergerakan kamera tersebut.

floor-plan.jpg
Contoh Floor Plan
Penata fotografi dan penata artistik perlu diarahkan agar sesuai dengan floor plan yang telah dibuat. Jika terbiasa dengan pembuatan floor plan maka komunikasi dengan seluruh tim akan jauh lebih mudah dan lancar.
Mengarahkan Pemain
Sesuai arahan waktu latihan (rehearsal), seorang sutradara perlu membimbing para pemain untuk melakukan tugasnya. Mengupayakan dengan membuat suasana waktu pengambilan gambar menjadi senyaman mungkin agar para pemain tidak terlalu tegang.
Ketegangan yang berlebihan seringkali mengakibatkan para pemain tidak bisa maksimal dalam memerankan karakter, kadangkala penampilannya menjadi lebih buruk dibanding saat rehearsal.
Menjaga Continuity
Hal-hal yang penting berkaitan dengan kesinambungan (continuity) saat gambar dan suara direkam adalah screen direction, properti, waktu, dan suara.
Screen direction adalah arah hadap para pemain sebelum, saat, dan sesudah tiap shot direkam. Harus diperhatikan dengan teliti tentang posisi dan pergerakan pemain.
Properti, harus dipersiapkan dengan teliti untuk kebutuhan tiap shot yang akan direkam.
Umumnya karakter dibangun dengan bantuan properti yang tampil secara bersamaan dalam satu layar. Jika properti dari tiap tokoh tidak dipersiapkan dengan baik, penonton akan kesulitan mengidentifikasi tokoh-tokoh dan informasi yang hendak disampaikan oleh sutradara.
Waktu disini pengartiannya digunakan untuk menjelaskan kronologi sebuah cerita. Segala sesuatu yang berkaitan dengan elemen waktu dalam skenario harus diperhatikan dengan cermat, termasuk sumber cahaya yang masuk akal untuk waktu yang tertera dalam skenario.
Suara, unsur ini akan membantu menciptakan suasana yang diinginkan sutradara. Selain dialog yang wajib direkam dengan baik, suara lain yang mendukung seperti kereta api, peluit, suara penumpang, dan suara para pedagang juga mesti direkam. Intensitas suara pendukung atau atmosfir umumnya lebih rendah ketika dialog terjadi agar tidak terjadi tumpang tindih informasi yang disampaikan lewat suara.
continuity-worksheet.JPG
Menentukan Bagus dan tidaknya sebuah shot (OK or NG)
Mencatat semua keputusan yang diambil pada saat perekaman gambar dan suara pada kolom-kolom yang terdapat dalam script continuity report. Jika puas dengan yang tampil dilayar maka dituliskan OK pada kolom OK/NG. Bila ada pengulangan shot kolom tersebut ditulis NG. Bisa juga memberi beberapa catatan pada kolom notes, misalnya suara OK gambar NG. Dengan asumsi sutradara mempunyai pilihan untuk suara sedangkan gambar akan diambil dari take yang berikutnya.
Catatan waktu yang tampak pada layar kamera (viewfinder) dituliskan pada kolom TC In/Out
(Time Code). TC In menunjukan waktu saat “action”, sedangkan TC Out menunjukan waktu setelah “Cut”
script-continuity-report.JPG
Contoh Script Continuity Report

Pasca Produksi
Usai pengambilan gambar, semua lembar script continuity report harus dirapikan agar tidak ada informasi yang tercecer. Setelah itu menyerahkan script continuity report kepada editor untuk dijadikan panduan dalam menyeleksi gambar.
Setelah editor mengerjakan seluruh adegan menjadi suatu rangkaian, kemudian mempresentasikan hasil tersebut kepada sutradara untuk tahap koreksi sesuai dengan acuan dari skenario dan script continuity report. Dalam hal keputusan ada ditangan sutradara dan produser

Senjata Andalan untuk Video Editing

Posted by dutabayu on , under | komentar (0)



Udah dari 2004 saya pakai Sony Vegas sebagai “senjata andalan” untuk editing. Sebelumnya udah beberapa jenis aplikasi video editing saya coba, mulai yang berbasis sistem windows ampe sistem linux. Tapi akhirnya pilihan jatuh pada Vegas, sebab menurut saya aplikasi yang paling mudah untuk “ngoprek” gambar dan hasilnya juga bisa sejajar dengan aplikasi video editing jenis lainnya :D
Tapi yang susah nyari plugin untuk Vegas yang bagus, harus ngubek-ngubek internet ampe lama baru dapat. Terus terang sih nyari yang bajakan, kalau asli sih duitnya yang ampun-ampun deh saking mahalnya hehehehehe…

Koleksi Plugin Vegas yang numpuk disini antara lain:
- ProDAD Adorage
- ProDAD Mercalli
- Boris Pack
- Pixelan CreativEase
- Pixelan SpiceMaster
- Pixelan SpiceFilter
- NewBlue
- Zenote
- RedGiant Magic Bullet
- RedGiant MovieLook + library pack
- Spice Library
- AutoLevels
- Sony Noise Reduction
- Bias Sound Soap (Noise Reduction)
Yang masih belum kesampaian nyoba ProDAD Vitascene, soalnya tiap kali download putus ditengah jalan
Untuk teman pendamping Vegas saya pakai Maxon Cinema 4D (3D), SonicFire Pro (music score), 3D Album CS, TmpgEnc, dan beberapa aplikasi tambahan lainnya sesuai kebutuhan.

Istilah-istilah dalam Produksi Film dan Acara TV (Glossary)

Posted by dutabayu on , under | komentar (0)



Acting :
Sebuah proses pemahaman dan penciptaan tentang perilaku dan karakter pribadi dari seseorang yang diperankan
Addes Scenes :
Adegan yang ditambahkan kedalam konsep asli, biasanya diambil setelah film diselesaikan
Agent (Agent Model) :
Seseorang yang dipekerjakan oleh satu atau lebih talent agency atau serikat pekerja untuk mewakili keanggotaan mereka dalam berbegosiasi kontrak individual yang termasuk gaji, kondisi kerja, dan keuntungan khusus yangtidak termasuk dalam standard guilds atau kontrak serikat kerja. Orang ini diharapkan oleh para aktor/aktris untuk mencarikan mereka pekerjaan dan membangun karir mereka
Anamorphic :
Lensa yang digunakan dalam fotografi untuk memperkecil gambar widescreen ke ukuran 35mm. Proses ini dibalik ketika memproyeksikan hasil akhir film, memunculkan gambar kembali ke ukuran normal pada layarlebar.
Answer Print :
Married Print pertama dari film yang dibuat oleh lab pemroses film, dan kemudian akan digunakan untuk menetapkan standar kualitas film yang akan diedarkan kepada publik.
Apple Box :
Digunakan untuk meninggikan seorang aktor/aktris serta suatu obyek sesuai dengan ketinggian yang tepat untuk pengambilan gambar.
Art Departement :
Bagian artistik. Bertanggung jawab terhadap perancang set film. Seringkali bertanggung jawab untuk keseluruhan desain priduksi. Tugasnya biasanya dilaksanakan dengan kerjasama yang erat dengan sutradara.
Ascpect Ratio :
Perbandingan antara lebar dan tinggi bingkai gambar (frame)
Rasio untuk tayangan televisi adalah 1,33:1 yang artinya lebar frame yang muncul di televisi adalah 1,33 kali dari tinggi.
Art Director :
Seorang asisten sutradara film yang memperhatikan administrasi, hal yang penting sehingga departemen produksi selalumengetahui perkembangan terbaru proses pengambilan film. Ia bertanggung jawab akan kehadiran aktor/aktris pada saat dan tempat yang tepat, dan juga untuk melaksanakan instruksi sutradara.
Available Lighting :
Pengambilan gambar tanpa tambahan cahaya buatan manusia
Audio Visual :
Sebutan untuk perangkat yang menggunakan unsur suara dan gambar
Art Director :
Pengarah artistik dari sebuah produksi
Asisten Produser :
Seorang yang membantu produser dalam menjalankan tugasnya
Audio Mixing :
Proses penyatuan dan penyelarasan suara dari berbagai macam jenis dan bentuk suara.
Angle :
Sudut pengambilan gambar
Animator :
Sebutan bagi seorang yang berprofesi sebagai pembuat animasi
Audio Effect :
Efek suara
Ambience :
Suara natural dari obyek gambar
Broadcaster :
Sebutan untuk seseorang yang bekerja dalam industri penyiaran
Background :
Latar belakang
Barn Doors :
Pintu berengsel yang dipasangkan di depan lampu studio yang dapat dibuka atau ditutup untuk memunculkan cahaya pada area tertentu di set.
Barney :
Bungkus kain pada pelindung yang dapat dipakaikan pada kamera film atau blimped kamera film, untuk mengurangi siara mekanisme. Ada juga heated barney yang digunakan dalam suhu dingin.
Best Boy :
Asisten Gaffer atau asisten Key Grip.
Blank :
Selongsong senapan atau pistol yang berisi peluru buatan untuk menggantikan peluru yang sesungguhnya. Blank dipergunakan dalam film untuk mencegah terjadinya kecelakaan, walaupun sesungguhnya peluru kosong itu sendiri masih berbahaya jika ditembakan dan mengenai orang dalam jarak dekat.
Blimp :
Ruangan kedap suara yang mengelilingi kamera film untuk mencekah ikutn terekamnya bunyi mekanisme kamera kedalam alat perekam suara.
Blow Up :
Perbesaran ukuran film dari 16mm ke 35mm yang dilakukan di laboratorium untuk diputar di bioskop. Istilah ini juga dipergunakan dalam fotografi untuk memperbesar foto guna keperluan display atau promosi.
Body Frame, Body Pod :
Digunakan untuk menunjang hand held camera di lapangan.
Boom Man :
Individu yang mengoperasikan mikrofon boom.
Booth Man :
Operator proyektor film. Orang yang bekerja dalam ruang proyeksi.
Breakaway :
Sebuah set atau hand property, misalnya botol atau kursi yang dirancang untuk rusak dengan cara-cara tertentu sesuai aba-aba.
Breakdown :
Biasanya merujuk pada jumlah spesifik rincian pengeluaran dalam sebuah produksi film. Dapat juga berarti pengaturan atau perencanaan berbagai adegan beserta urutan pengambilannya.
Budget :
Pengeluaran keseluruhan dari produksi film.
Blocking :
Penempatan obyek yang sesuai dengan kebutuhan gambar
Bridging Scene :
Adegan perantara di antara adegan-adegan lainnya
Back Light :
Penempatan lampu dasar dari sudut belakang obyek
Breakdown Shot :
Penentuan gambar yang sesuai dengan naskah atau urutan acara
Bumper In :
Penanda bahwa program acara tv dimulai kembali setelah iklan
Bumper Out :
Penanda bahwa program acara tv akan berhenti sejenak untuk iklan
Call :
Waktu yang diharapkan dari seorang individu anggota staf perusahaan, pemain, atau kru untuk berada di set. Jadwal biasanya didaftarkan pada call sheet yang menjadi tanggung jawab asisten sutradara dan manajer produksi.
Camera :
Sistem perangkat mekanik atau elektronik yang mengontrol pergerakan dari film yang belum diekspos di belakang lensa dan shutter dan yang menentukan gambar serta tingkatan cahaya yang masuk kedalam film. Mekanisme ini mungkin memiliki kontrol kecepatan.
Camera Boom :
Tempat kamera yang dapat berpindah, biasanya berukuran besar, tempat kamera dapat diproyeksikan keluar set dan atau dinaikan di atasnya.
Camera Departement :
Bertanggung jawab untuk memperoleh dan merawat semua peralatan kamera yang dibutuhkan untuk memfilmkan sebuah motion picture. Juga bertanggung jawab untuk penanganan film, pengisian film, dan berhubungan dengan laboratorium pemrosesan.
Cameraman :
- First Cameraman sering disebut sebagai Penata Fotografi (Director of Photography) atau kepala kameramen, bertanggung jawab terhadap pergerakan dan penempatan kamera dan juga pencahayaan dalam suatu adegan. Kecuali dalam unit produksi yang kecil, Penata Fotografi tidak melakukan pengoperasian kamera selama syuting yang sesungguhnya.
- Second Cameraman sering disebut sebagai asisten kameramen atau operator kamera, bertindak sesuai instruksi dari kameramen utama dan melakukan penyesuaian pada kamera atau mengoperasikan kamera selama syuting.
- First Assistant Cameramen sering disebut Kepala Asisten untuk pada operator kamera. Seringkali bertanggung jawab untuk mengatur fokus kamera (untuk kamera film)
- Second Assistant Cameraman, menjadi asisten operator kamera.
Camera Noise :
Bunyi Kamera. panggilan dari bagian tata suara (Sound Departement) di set untuk mereangkan bahwa ia menerima bunyi dari kamera sehingga harus digunakan kamera lain, melakukan perbaikan kamera atau diperlukan penghalusan tambahan terhadap kamera dengan menggunakan barney atau selimut.
Camera Report :
Salinan yang disimpan dalam tiap magazine film tempat asisten kameramen mencatat panjang pengambilan tiap adegan, nomer adegan, dan perintah untuk mencetak atau tidak. Laporan kamera diberikan ke laboratorium proses, bagian kamera, dan bagian produksi.
“Camera Right”, “Camera Left” :
Petunjuk bagi seorang aktor/aktris untuk berputar atau bergerak. Petunjuk ini berdasarkan sudut pandang sutradara atau kamera dan dibalik sesuai dengan keadaan aktor. Ketika menghadap lensa maka bagian kanan aktor adalah bagian kiri kamera dan juga sebaliknya.
Camera Tracks :
Lintasan Kamera yang terbuat dari metal atau lembaran kayu lapis ukuran 4 x 8 yang diletakkan dilantai untuk membawa dolly atau camera boom. Lintasan digunakan untuk menjamin kehalusan gerakan kamera.
Can :
Tempat/wadah untuk film.
Canned Music :
Musik yang belum ditulis untuk film tertentu namun telah direkam dan dikatalogkan menurut gayanya dalam perpustakaan sehingga dapat dibeli dan dipergunakan.
Casting Director :
Orang yang memimpin pemilihan dan pengontrakan aktor/aktris untuk memenuhi bagian yang dibutuhkan dalam sebuah naskah.
Century Stand :
Digunakan untuk menahan berbagai jenis bendera yang diperlukan untuk mengurangi intensitas cahaya atau untuk menghalangi sejumlah cahaya tertentu. Juga digunakan untuk menahan atau mendukung ranting daun atau efek lain yang berhubungan dengan pencahayaan.
Changing Bag :
Tas kedap cahaya dengan ritsleting ganda tempat magazines film dapat diletakkan untuk memindahkan film yang telah diekspose dan mengisi ulang magazine. Juga dibuat sehingga memungkinkan asisten kamera memasukkan tangan dan lengannya tanpa membiarkan film terkena cahaya. Biasanya digunakan jauh dari studio kaerna di studio, magazine diisi ulang diruang gelap di bagian kamera.
Character Man or Woman :
Pada saat-saat tertentu seorang aktor/aktris bermain karakter, biasanya istilah ini merujuk pada aktor/aktris yang paling sesuai secara fisik untuk peran-peran selain pemain utama romantis, peran remaja atau peran sederhana.
Cinema :
Merujuk pada Motion Picture. Berasal dari kata Yunani Kinema yang berarti gambar.
Cinema Scope :
Nama dagang untuk tujuan pemrosesan fotografi dan proyeksi yang mengikutsertakan kamera dengan lensa anamorfik atau proyektor dan ayar berlekuk ekstra panjang. Memungkinkan proyeksi dari gambar yang jauh lebih besar dari ukuran biasanya. Banyak film epic dibuat dalam Cinema Scope karena pengaruh dari ukuran terhadap penonton.

Cinematographer (Sinematografer) :

Penata Fotografi. Orang yang melaksanakan aspek teknis dari pencahayaan dan fotografi adegan. Sinematografer yang kreatif juga akan membantu sutradara dalam memilih sudut, penyusunan, dan rasa dari pencahayaan dan kamera.
Cinemobile :
Nama dagang untuk unit lokasi pembuatan film yang lengkap dan dapt berpindah-pindah, membawa peralatan dan petugasnya dan memiliki banyak ukuran mulai dari van peralatan kecil sampai dengan bus besar.
Clapper Boards :
Sepasang papan berengsel yang diketukkan saat syuting dialog ketika kamera gambar dan alat rekam suara berputar dalam kecepatan yang sinkron. frame pertama ketika papan bersentuhan kemudian disinkronkan dalam ruang pemotongan dengan bunyi “bang”, memantapkan sync antara alur suara dan alur gambar. Pada banyak tipe sistem penanda elektronik dipasangkan sisi kamera.

Commercial :

Iklan. Film pendek yang umumnya berdurasi 60, 30, atau 15 detik yang dibuat khusus untuk menjual suatu produk.
Composite Print :
Film yang telah diedit termasuk semua gambar, suara, dan musik yang telah dicetak ke dalam sebuah film.
Contact Glass :
Alat bantu penglihatan terbuat dari kaca berwarna gelap berbentuk seperti monacle yang dipakaikan ke salah satu mata Penata Fotografi selama pencahayaan set untuk memeriksa tingkatan kontras dari pencahayaan tersebut.
Cook, Cookie :
Dapat berupa kain dengan bingkai kawat atau lembaran kayu lapis atau plastik yang diberi pola daun ranting atau bunga untukmemunculkan bayangan pada permukaan datar. kadang buram atau tembus cahaya seperi sebuah scrim. berasal dari bahasa Yunani kukaloris yang berarti memecah cahaya.
Copter Mount :
Copter kamera untuk penggunaan dalam pengambilan gambar aerial helikopter yang berfungsi menjaga kamera dari vibrasi helikopter. Nama dagangnya adalah Tyler Mount.
Costume Designer :
Orang yang merancang dan memastikan produksi kostum secara sementara maupun permanen untuk sebuah film.
Coverage :
Keseluruhan koleksi hasil pengambilan gambar individual, sudut, dan set yang terdiri dari segala kebutuhan film untuk membuat sebuah cerita lengkap.
Cover Set :
Set yang digunakan untuk syuting bila adegan eksterior yang diusahakan ternyata terganggu oleh kondisi cuaca yang tidak mendukung.
Cover Shot :
Bagian dari pengambilan film untuk menyediakan materi transisi dari satu bagian adegan ke bagian adegan lain dalam sebuah adegan yang sama. Bisa juga digunakan sebagai gamabr tambahan atau cadangan kalau perekaman pertama tidak berhasil. Juga disebut sebagai “insurance”.
Cue :
Tanda bagi aktor/aktris dalam film untuk memunculkan bagiannya dalam dialog atau tindakan. Isyarat ini dapat berupa tindakan aktor/aktris lainnya, bagian akhir dari sebuah dialog, tanda dari sutradara atau isyarat cahaya.
Cue Light :
Bola lampu kecil yang dapat dinyalakan atau dimatikan oleh sutradara atau asisten sutradara dan diletakkan diluar jangkauan pandang kamera tetapi dalam jangkauan pandang aktor untuk memberi isyarat. Isyarat cahaya ini menghindari isyarat secara verbal yang dimunculkan oleh aktor.
Cut and Hold :
Perintah dari sutadara agar adegan diberhentikan namun aktor/aktris tetap berada dalam posisinya. Sutradara mungkin ingin memeriksa pencahayaan, posisi, atau mengatur adegan lain yang saling bersinggungan.
Cut Back :
Mengubah gambar dalam film secara cepat dari adegan saat ini ke adegan lain yang telah dilihat sebelumnya. Pemotongan ini Dilakukan tanpa ada transisi.
Cutting on The Action :
Menggunakan sebuah tindakan besar dari seorang aktor/aktris sebagai titik untuk masuk lebih dekat atau lebih jauh dari orang tersebut.
Cutting Room :
Tempat peralatan seorang editor film berada, misalnya moviola dan lain sebagainya dan tempat film akan digabungkan sesuai cerita yang berkesinambungan. Ruang ini biasanya ada dalam sebuah studio namun dapat saja berada pada lokasi tersendiri dan terpisah dari daerah studio.
Cut to :
Secara cepat mengubah gambar dalam film dari adegan masa kini ke adegan lainnya tanpa adanya transisi.
Credit Title :
Urutan nama-nama tim produksi dan pendukung acara
Chroma Key :
Sebuah metode elektronis yang melakukan penggabungan antara
gambar video yang satu dengan gambar video lainnya dimana dalam
prosesnya digunakan teknik Key Colour yang dapat diubah sesuai
kebutuhan foreground dan background
Cutting on Beat :
Teknik pemotongan gambar berdasarkan tempo
Clip Hanger :
Sebutan bagi adegan atau gambar yang akan mengundang rasa ingin
tahu penonton tentang kelanjutan acara, namun harus ditunda karena
ada jeda iklan komersial
Cut :
Pemotongan gambar
Cutting :
Proses pemotongan gambar
Camera Blocking :
Penempatan posisi kamera yang sesuai dengan kebutuhan gambar
Clear-Com :
Sebutan bagi penggunaan headset audio yang dihubungkan dengan
Master Control
Channel :
Saluran
Crazy Shot :
Gambar yang direkam melalui kamera yang tidak beraturan
Composition :
Komposisi
Continuity :
Kesinambungan
Cross Blocking :
Penempatan posisi obyek secara silang sesuai dengan kebutuhan
Crane :
Alat khusus/katrol untuk kamera dan penata kamera yang dapat
bergerak keatas dan kebawah
Clip On :
Mikrofon khusus yang dipasang pada obyek tanpa terlihat
Casting :
Proses pemilihan pemain sesuai dengan karakter dan peran yang
akan diberikan
Close Up :
Pengambilan gambar dari jarak dekat
Dailies :
Hasil cetakan positif, dikirimkan setiap hari dari laboratorium berasal dari negatif film yang dipergunakan di hari sebelumnya.
Depth of Focus :
Area tempat berbagai benda yang diletakkan dengan berbagai ukuran jarak di depan lensa akan tetap memperoleh fokus yang tajam.
Dialogue Coach or Dialogue Director :
Orang dalam set yang bertanggung jawab membantu para aktor/aktris dalam mempelajari kalimat mereka selama pembuatan film. Mungkin juga membantu pengaturan dialog saat pre-syuting.
Diffusers :
Potongan materi difusi diletakkan di depan lampu studio untuk memperhalus.
Director :
Orang yang mengontrol tindakan dan dialog di depan kamera dan bertanggung jawab untuk merealisasikan apa yang dimaksud oleh naskah dan produser.
Documentary :
Film yang menyajikan cerita nyata, dilakukan pada lokasi yang sesungguhnya. Juga sebuah gaya dalam memfilmkan dengan efek realitas yang diciptakan dengan cara penggunaan kamera, sound, dan lokasi.
Dolly :
Kendaraan/alat beroda untuk membawa kamera dan operator kamera selama pengambilan gambar. Dolly biasanya dapat didorong dan diarahkan oleh satu orang yang disebut Dolly Grip.
Dollying :
Pergerakan kamera selama pengambilan gambar dengan menggunakan kendaraan/alat beroda yang mengakomodasikan kamera dan operator kamera. Kadang disebut juga tracking atau trucking.
Double :
Bisa diartikan pemain tambahan yang menggantikan aktor/aktris selama pengaturan cahaya atau dapat berarti stunt yang menggantikan aktor/aktris dalam adegan berbahaya.
Dress The Set :
Perintah untuk menempatkan banyak benda (misal lampu, asbak, bunga, atau lukisan) di set untuk memunculkan realitas.
Drift :
Ketika seorang aktor/aktris hampir tidak disadari bergerak keluar dari posisinya. Dapat juga berupa petunjuk untuk menghilang dengan suatu cara tertentu, dengan arti melakukan perlahan dan bertahap.
Dual Role :
Pemutaran lebih dari satu bagian peran seorang aktor/aktris dalam sebuah film yang sama.
Dubbing :
Perekaman suara manusia secara sinkron dengan gambar film. Suaranya mungkin atau mungkin tidak berasal dari aktor/aktris yang sesungguhnya serta bisa juga bahasa yang digunakan ketika film tersebut dibuat.
Dubbing biasanya diselesaikan dengan menggunakan Film Loops – bagian pendek dari sebuah gambar beserta dialognya dalam bentuk married print. Aktor/aktris menggunakan gambar dan soundtrack playback sebagai panduan untuk mensinkronkan gerakan bibir dalam gambar dengan perekaman suara terbaru. Umumnya digunakan untuk memperbaiki perekaman asli yang buruk., performa artistik yang tidak dapat diterima atau kemungkinan kesalahan dalam dialognya. Juga digunakan untuk perekaman lagu dan versi bahasa lain setelah proses pemfilman.
Dulling Spray :
Sebuah penyemprot aerosol yang menyisakan lapisan yang tidak mengkilat pada permukaan apapun dan tidak mengakibatkan penyilauan pada lensa kamera.
Durasi :
Waktu yang diberikan atau dijalankan
Dimmer :
Digunakan untuk mengontrol naik turunnya intensitas cahaya
Dissolve :
Teknik penumpukan gambar pada editing maupun syuting multi kamera
Depth of Field :
Area dimana seluruh obyek yang duterima oleh lensa dan kamera
muncul dengan fokus yang tepat. Biasanya hal ini dipengaruhi oleh
jarak antara obyek dan kamera, focal length dari lensa dan f-stop
Dramatic Emotion :
Emosi gambar secara dramatis
Editing :
Proses pemotongan gambar
Editor :
Sebutan bagi seseorang yang berprofesi sebagai ahli pemotongan
gambar video dan audio.
Editorial Departement :
Divisi dimana semua potongan film yang telah dihasilkan digabungkan sehingga membentuk urutan yang koheren, kadang dengan bantuan asisten sutradara atau produser.
Electric Departement :
Bertanggung jawab terhadap penjagaan dan penyediaan segala alat elektrik. (misalnya: lampu, kabel, dan lain sebagainya) untuk kebutuhan film.
Electrician :
Orang yang bertanggung jawab terhadap penempatan dan penyesuaian cahaya serta menyediakan listrik sesuai kebutuhan tiap alat.
Exclusive Contract :
Kontrak yang menyatakan bahwa seseorang dapat bekerja hanya untuk orang atau perusahaan tertentu yang mengontraknya.
Exhibitor :
- Orang atau perusahaan yang memiliki bioskop atau drive-in atau rantai lain yang memungkinkan ditontonnya sebuah film.
- Teater atau drive-in yang mempertunjukkan sebuah film.
Exposed :
Bahan baku film yang telah dipakai untuk merekam gambar. Kata “exposed” wajib dicantumkan pada setiap can film yang telah dipakai.
Ext. :
Eksterior. Bagian manapun dari film yang direkam di luar ruangan; jalanan kota, stadium, gurun, hutan, atau puncak gunung, beberapa lokasi dapat dibuat ulang di sounstage studio namun tetap dinamakan eksterior dalam naskah.
Extra :
Orang yang dipekerjakan sebagai pemain latar, misalnya sebagai salah satu orang dalam kerumunan dalam adegan di jalan.
Engineering :
Sebutan dalam pengerjaan dan pembagian kerja dalam masalah
teknis penyiaran
Establish Shot :
Gambar yang natural dan wajar

Extreme Close Up :

Pengambilan gambar dari jarak dekat
Fade Out, Fade In :
Efek berupa gamabr yang perlahan hilang dan menjadi gelap (fade out) atau gambar yang muncul dari kegelapan (fade in). Digunakan untuk menekankan berlalunya waktu atau akhir dari adegan atau cerita.
False Move :
Gerakan yang tidak terencana oleh aktor/aktris sebelum melakukan gerakan yang telah direncanakan. False Move yang dilakukan aktor dapat memunculkan masalah dengan mengatur Dolly Grip untuk bergerak bersama dolly dan kamera karena ia berpikir bahwa gerakan aktor adalah isyarat untuk menggerakan kamera.
Fast Motion :
Melakukan pemfilman dengan kecepatan dibawah standar kemudian memproyeksikan dengan kecepatan standar untuk membuat tindakan terlihat lebih cepat dari normal. Juga menciptakan efek masa lalu dan film bisu.
Feature Part :
Peran yang tidak terlalu penting untuk seorang bintang, tapi cukup besar untuk memunculkan perhatian khusus. Biasanya dilakukan oleh aktor/aktris yang telah dikenal baik oleh penonton. Saat ini lebih dikenal dengan Cameo.
Fifty-fifty :
Biasanya sudut kamera atau pengambilan gamabr ketika dua orang aktor/aktris saling berhadapan, berbagi lensa dengan adil. Juga disebut sebagai a two shot atau a two.
Fill Light :
Set pencahayaan umum yang digunakan untuk memperhalus kontras dari key lighting.
Film :
Media untuk merekam gambar yang menggunakan selluloid sebagai bahan dasarnya. Memiliki berbagai macam ukuran lebar pita seperti 16mm dan 35mm.
Film Clip :
Bagian pendek dari sebuah film.
Film Loader :
Pengisi Film. Anggota tim kamera kadang adalah asisten kameramen yang mengisi film yang belum diekspose ke dalam magazine dan mengeluarkan film yang telah diekspose ke dalam can.
First Run :
Pertama kali sebuah film dilepas ke bioskop untuk ditonton. Saat ini lebih dikenal dengan premiere.
Fishpole Boom :
Sebuah tiang ringan yang dapat digenggam dan dapat dipindahkan untuk digunakan meletakkan mikrofon di lokasi yang sulit selama pemfilman.
Flag :
Miniatur Gobo dari kayu lapis atau kain pada bingkai metal yang diletakkan pada century stand.
Flare :
Ketika suatu obyek atau cahaya dari set memantulkan cahaya yang tidak diinginkan scara langsung pada lensa.
Flashback :
Bagian dari cerita film yang mengisahkan waktu periode awal, tergantung dari cerita.
Flub :
Ketika aktor/aktris melakukan kesalahan dalam pengucapan dialog – flubbed his line
Fluid Head :
Landasan pada tripod kamera yang memberikan gerakan halus untuk kamera melalui penggunaan flywheel yang diletakkan dalam wadah berisi minyak dalam landasan itu sendiri.
Focus :
Penyelarasan gambar secara detail, tajam, dan jernih hingga mendekati
obyek aslinya
Fog Maker :
Menggunakan cairan khusus sehingga fog maker dapat memunculkan efek kabut, asap, efek kabur (blur), dan kelembaban. Dengan menggunakan cairan jenis lain maka dapat digunakan untuk menghilangkan kabur yang tidak diinginkan. Alat ini dapat berukuran kecil, mesin yang dapat digenggam atau mesin besar yang diletakkan di kereta.
Follow Focus :
Perubahan fokus kamera selama adegan untuk mempertahankan fokus pada aktor/aktris yang bergerak mendekati atau menjahui kamera. Biasanya menjadi tugas first assistant cameraman.

Follow Shots :

Pengambilan gambar dengan kamera bergerak memutar untuk mengikuti pergerakan pemeran dalam adegan.
Final Editing :
Proses pemotongan gambar secara menyeluruh
Floor Director :
Seseorang yang bertanggungjawab membantu mengkomunikasikan
keinginan sutradara dari master control ke studio produksi
Footage :
Gambar-gambar yang tersedia dan dapat digunakan
Footage Counter :
Alat penghitung yang berada pada kamera untuk tetap dapat mengikuti jumlah film yang telah diekspose.
Four Walled Set :
Sebuah set yang memiliki 4 dinding bukan 3 seperti biasanya. Keempat dinding menutup area aksi secara sempurna namun mungkin dapat dipindahkan untuk memungkinkan pergerakan cahaya dan kamera selama melakukan pengambilan gambar.
Frame :
- Suatu gambar dari banyak gambar pada gulungan film yang telah diekspose, ukuran frame bervariasi sesuai format yang akan diambil gambarnya.
- Menyesuaikan kamera dan lensa sehingga gambar yang akan diambil memiliki batasan yang diinginkan.
Frame per Second (fps) :
Sebuah film 35mm berputar dalam kamera dengan kecepatan normal menghasilkan 24 frame perdetiknya sehingga bila banyak frame yang diputar tiap detiknya aksi dari subyek akan diperlambat ketika diproyeksikan dalam kecepatan normal. Bila lebih sedikit dari 24 frame yang diputar maka aksi tampat dipercepat bila diproyeksikan dengan kecepatan normal.
Freelancer :
Orang yang tidak terikat kontrak dengan produser atau perusahaan manapun.
Freeze :
Perintah bagi aktor/aktris untuk menghentikan aksi namun mempertahankan posisinya. Dalam film yang aktor/aktris atau obyek lain muncul dengan tiba-tiba misalnya “pop in” pada layar maka aktor/aktris dalam adegan akan diminta untuk diam. Orang atau obyek kemudian ditempatkan di posisinya kemudian perintah untuk “action” diberikan dan adegan dilanjutkan. Dalam pemotongan film di bagian tengah dari masuknya aktor/aktris atau penempatan obyek akan dihilangkan.
Gaffer :
Pemimpin electrician yang bertanggung jawab di bawah Director of Photography mengenai pencahayaan set.
Geared Head :
Unit dimana kamera dipasangkan yang dapat dihubungkan pada dolly atau crane dan panned (gerakan secara horisontal) atau tilted (gerakan secara vertikal) memungkinkan kamera untuk mengikuti gerakan.
Gen :
Truk generator yang digunakan untuk menyediakan tenaga listrik ketika unit film berada di lokasi atau tambahan penyediaan tenaga di studio. Juga disebut sebagai genset.
Gobo :
Layar kayu yang dicat hitam. Digunakan untuk menghalangi cahaya dari sati atau lebih pencahayaan lampu studio, suatu set peralatan yang digunakan untuk mecegah jatuhnya cahaya yang tidak diinginkan ke lensa kamera atau area set. Biasanya diletakkan pada sanggahan yang dapat disesuaikan. Gobo tersedia dalam berbagai bentuk dan ukuran.
Green Departement :
Bertanggungjawab untuk menyediakan pepohonan, semak, bunga, rumput, dan benda-benda hidup lainnya baik yang asli maupun buatan.
Grip :
Orang yang berwenang memindahkan dan mengatur trek atau jalannya kamera – apapun yang membutuhkan cengkeraman yang kuat – di set.
Grip Chain :
Rantai ringan yang digunakan untuk berbagai keperluan yang dilakukan oleh bagian grip. pada set biasanya digunakan pada sekitar kaki kursi atau sofa yang ditempati pemain untuk mencegahnya bergerak.

Hairdresser :

Spesialis penata rambut untuk film. Seorang hairdresser mungkin bekerja dengan penata rambut laki-laki maupun perempuan.
Hairdresser Departement :
Bertanggungjawab atas kebutuhan rambut asli maupun wig untuk para aktor dan aktris.
Hand Cue :
biasanya diberikan oleh sutradara atau asistennya untuk menunjukan waktu masuk seorang aktor/aktris atau bagian khusus dari suatu adegan.
Hand Held :
Mengambil gambar dengan kamera ringan seperti handycam, jenis yang dapat ditahan oleh operator kamera dengan tangannya selagi mengambil gambar, berlawanan dengan meletakkannya pada gear head atau tripod. Memberikan fleksibilitas yang lebih. Teknik penggunaan kamera dengan tangan tanpa tripod
Headroom :
Ruangan bagian atas suatu obyek dalam gambar dengan bagian atas frame.
High Head :
Tripod logam kecil dengan ketinggian tertentu yang dapat dipasangkan ke lantai untuk mempertahankan posisinya. Digunakan untuk menahan kamera saat pengambilan gambar dengan sudut rendah.

Hot Set :

Suatu set yang telah diisi barang dan dekor untuk syuting. Penggambaran ini biasanya mengindikasikan bahwa set tersebut tidak boleh dimasuki atau digunakan.

Hot Spot :

Area dalam set yang memiliki pencahayaan yang sangat terang.

Hunting Location :

Proses pencarian dan penggunaan lokasi yang tepat dan terbaik
untuk syuting.
Idiot Cards :
Kartu besar tempat dialog dituliskan untuk aktor yang tidak dapat mengingat kalimatnya. Dapat juga berarti sebuah bagian mesin elektronik yang mahal disebut Tele-Prompter, dimana sebuah gulungan kertas ditempatkan di depan atau dekat dengan kamera dan dituliskan dialognya dengan huruf yang besar sehingga mudah untuk dibaca. Bisa juga disebut dengan Cue cards.
Independent :
Seseorang yang membuat film tanpa dipekerjakan oleh sebuah studio besar.
Insert Shot :
Suatu obyek biasanya yang dicetak seperti surat kabar atau sebuah jam, dan dimasukkan ke dalam rangkaian untuk menjelaskan tindakan.
Int. :
Interior. Bagian dari film yang diambil didalam ruangan. Interior dapat berupa set yang dibentuk di studio atau diluar studio. Lebih dikenal sekarang ini sebagai location interiors.
Intercut :
Mengubah urutan tindakan dari belakang ke depan dari sebuah adegan ke adegan lain, biasanya dilakukan dengan kecepatan cukup tinggi.

Iris :

bagian yang terbuka dari sebuah lensa atau bagian belakang yang mengatur masuknya cahaya kdalam film. ukuran Iris dapat dikontrol oleh operator kamera.
Jell :
Gelatin atau materi plastik berwarna yang digunakan di depan sebuah lampu untuk mengubah warna cahaya dari lampu tersebut. Bisa juga disebut dengan Gel.
Jumping Shot :
Proses pengambilan gambar secara tidak berurutan
Jimmy Jib :
Katrol kamera otomatis yang digerakan dengan remote

Key Grip :

Orang yang memimpin para pekerja grip.
Key Light :
Cahaya utama yang digunakan untuk menerangi subyek tertentu.
Lab :
Secara umum disebut sebagai suatu tempat untuk memproses exposed film pada tahap akhir.
Lens (Lensa) :
Konstruksi dari berbagai macam potongan kaca yang dipasang sesuai kebutuhan dan dimasukkan kedalam tube metal. Beberapa jenis lensa bersifat tetap dalam arti tidak dapat diubah-ubah panjangnya.

Light Meter :

Instrumen kecil dan dapat dipegang dengan tangan yang digunakan untuk mengukur intensitas cahaya.
Lining Up :
Membatasi adegan. Operator kamera atau sutradara mengatur penempatan kamera sehingga mencakup ruang pengelihatan yang diinginkan. Dapat juga berarti framing.
Limbo :
Melakukan pengambilan gambar pada area atau set yang tidak dapat dijelaskan sebagai suatu lokasi khusus. Dapat digunakan untuk adegan close-up, insert, dan lain sebagainya.
Lip-Sync :
Sesi perekaman saat seoarang aktor/aktris menyesuaikan suaranya dengan gerakan bibir dari gambar.
Location Departement :
Bertanggung jawab untuk mendapatkan lokasi khusus yang dibutuhkan untuk syuting film serta membuat penagturan agar seluruh kru dan peralatan dapat mencapai lokasi tersebut.
Long Focus Lens :
Istilah yang relatif digunakan untuk menggambarkan lensa yang lebih panjang dari ukuran fokus normal (telephoto) dan memberikan perbesaran image.
Looks :
Arah khusus yang diminta pada aktor/aktris untuk menagrahkan matanya dengan tujuan untuk menyesuaikan tindakan pada gambar sebelumnya. Bisa juga untuk mengindikasikan lokasi seseorang atau benda yang tidak ada dalam gambar, misalnya diluar kamera.
Long Shot :
Gambar direkam dari jarak jauh. Biasanya digunakan dengan cara
pengambilan gambar dari sudut panjang dan lebar.
Magazine :
Wadah film yang membentuk bagian dari suatu kamera atau proyektor. Magazine bersifat tahan cahaya serta tidak memungkinkan cahaya untuk masuk ke film yang belum atau sudah exposed didalam magazine.
Magnetic Recorder :
Alat perekam pita magnetik.
Make-Up Call :
Waktu untuk aktor/aktris berada pada bagian make-up atau ruang rias sebelum dimulainya syuting.
Make-Up Departement :
bagian yang bertanggung jawab terhadap penampilan aktor/aktris agar sesuai dengan kebutuhan skenario pada saat syuting.
Mark It :
Perintah terhadap asisten kamera untuk melepaskan clapper stick pada slate board untuk memberikan tanda suara pada adegan ketika kamera sedang berjalan pada kecepatan fotografi.
Marks :
Digunakan untuk memberikan referensi pada aktor/aktris atau dolly mengenai posisi tertentu dalam suatu adegan. Tanda ini dapat dibuat ditanah atau lantai dengan menggunakan kapur, kertas perekat, tees atau segitiga dari kayu serta metal.
Married Print :
Gabungan antara track gambar dan suara setelah film tersebut selesai diedit. Istilah ini tidak dikenal dalam produksi dengan menggunakan format video.
Match :
Menghasilkan ulang suatu tindakan yang dilakukan dalam adegan lain sehingga keduanya dapat dipotong sehingga menghasilkan posisi yg dapat disesuaikan.
Matching Directions :
Penyesuaian adegan dalam film seperi masuk dari kiri ke kanan sehingga orang atau alat transportasi dalam film tidak memiliki arah yang terbalik ketika pengambilan gambar lain dimasukkan.
Matte :
Sebuah cut-out atau penutup sebagian yang diletakkan didepan lensa untuk mencegah ekspose dari bagian film. Misalnya sepasang kembar identik sedang berbicara, padahal hanya satu aktor/aktris yang memerankan peran tersebut.
Matte Box :
Sebuah frame yang dipasang didepan lensa kamera dan didesain untuk menahan matte kamera yang digunakan pada suatu efek khusus. Matte Box biasanya dikombinasikan dengan sunshade.

Measuring Tape :

Alat ukur yang digunakan untuk mengukur jarak dari lensa ke subyek dengan tujuan untuk menentukan fokus secara tepat.
Microphone Shadow :
Munculnya bayangan dari mikrofon pada bagian set yang masuk pada area pandang kamera. Bila muncul pada gambar maka it’s a no-no (gambar tidak terpakai)
Mock-Up :
Tiruan suatu benda yang dibuat seperti asli tapi hanya berupa bagian tertentu saja menurut kebutuhan.

Montage :

Urutan gambar yang mengalir, menyatu, atau kadang dipotong dari yang satu ke yang lainnya. Digunakan untuk memperlihatkan peningkatan atau pembalikan waktu terhadap perubahan lokasi.
M.O.S. :
Porsi gamabr dari sebuah adegan yang diambil tanpa merekam suaranya. Inisial ini awalnya muncul dari sutradara Eropa yang tidak dapat mengucapkan WS dan mengatakan Mit Out Sound.
Moving Shot :
Teknik pengambilan gambar dari obyek yang bergerak.
Music Departement :
Bertanggungjawab dalam pengaturan atau menyediakan musik yang akan digunakan dalam film.
Master Control :
Perangkat teknis utama penyiaran untuk mengontrol proses distribusi audio dan video dari berbagai input pada suatu produksi acara
Medium Close Up :
Pengambilan gambar dari jarak yang cukup dekat
Medium Shot :
Gambar diambil dari jarak dekat
Medium Long Shot :
Gambar diambil dari jarak yang panjang dan jauh
Middle Close Up :
Pengambilan gambar dari jarak sedang
Master Shot :
Gambar pilihan utama dari sebuah adegan yang kemudian dijadikan referensi atau rujukan pada saat melakukan proses editing.
N.G. :
No Good (tidak baik) Istilah ini dipakai sebagai komentar terhadap pengambilan gambar yang tidak baik pada laporan kamera dan suara, misalnya N.G. Sound, N.G. Action
NTSC (National Television Standards Committee)
Sistem warna televisi yang dipergunakan di negara Amerika Serikat dan beberapa negara lainnya, NTSC terdiri dari 525 garis pemindaian yang berada pada rate 30 frame perdetiknya.
Non-Exclusive Contract :
Kesepakatan dimana sesorang dijamin untuk ikut dalam sejumlah produksi namun diperbolehkan untuk bekerja pada produksi lainnya.
Non-Theatrical Film :
Film yang tidak dipertontonkan di bioskop melainkan untuk film pelatihan.
O.S. :
Off Screen (tidak tampak pada layar)

Outs, Out Takes :

Bagian gambar yang tidak masuk pada versi lengkap dari sebuah film.
Overlap :
Perintah untuk aktor/aktris agar memulai dialog tanpa harus menunggu pemeran lainnya menyelesaikan dialognya.
Opening Scene :
Adegan yang dirancang khusus untuk membuka acara atau cerita.
Biasanya adegan ini dikemas secara kreatif dan menarik untuk
mendapatkan perhatian dari penonton
PAL (Phase Alternation by Line) :
Sistem warna televisi yang pertama kali dibuat di Jerman, dan digunakan di Eropa dan beberapa negara lain termasuk Indonesia. PAL terdiri dari 625 garis pemindaian berada pada rate 25 frame perdetiknya.
Plot :
Alur cerita dari sebuah naskah.
P.O.V. :
Point of View (Sudut Pandang).
Practical :
Deskripsi dari sesuatu dalam sebuah set film seperti pada kehidupan nyata. Misalnya kompor gas, bak cuci, pintu terbuka, pencahayaan lampu.
Print :
Perintah ketika pengambilan gambar telah lengkap dan dikirim ke laboratorium untuk dikembangkan.
Producer :
Sebutan ini untuk orang yang memproduksi sebuah film tetapi bukan dalam arti membiayai atau menanamkan investasi dalam sebuah produksi. Tugas seorang produser adalah memimpin seluruh tim produksi agar sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan bersama, baik dalam aspek kreatif maupun manajemen produksi dengan anggaran yang telah disetujui oleh executive producer.
Production Departement :
Bagian yang menentukan batasan biaya dan menangani persiapan dan pelaksanaan atas segala keperluan dalam sebuah produksi.
Production Assistant :
Bertanggung jawab atas segala hal yang terjadi dilapangan selama proses produksi.

Production Manager :

Orang yang bertanggung jawab atas detail produksi dari awal sampai produksi itu selesai.
Production Unit :
Terdiri dari sutradara, kru kamera, kru tata suara, bagian listrik dan semua orang yang diperlukan dalam suatu produksi.
Prop Box (Kotak Properti) :
Tersedia dalam berbagai bentuk dan ukuran serta memiliki roda yang gunanya sebagai tempat penyimpanan barang-barang kebutuhan suatu produksi.
Prop Man :
Bertugas untuk memastikan bahwa properti ada ditempat yang seharusnya pada saat dibutuhkan untuk suatu produksi.

Power Pack :

Tempat khusus untuk pembagian arus listrik
Panning :
Pergerakan horisontal kamera dari kiri kekanan maupun sebaliknya
Rain Cluster :
Sebuah perangkat sprinkler yang dapat digantung diatas kepala untuk memberikan simulasi efek dari hujan. Di sini sering memakai semburan dari mobil pemadam kebakaran.
Raw Stock :
Film yang belum diekspose.
Reaction Shot :
Pengambilan gambar yang dimasukkan dalam sebuah adegan untuk menunjukkan efek kalimat atau tindakan terhadap partisipan lain dalam adegan tersebut.
Reel of Film :
Jumlah film yang akan diproyeksikan dalam waktu 10 menit. 900 feet untuk ukuran 35mm atau 360 feet untuk ukuran 16mm. Gulungan standar dapat menampung film sepanjang 1000 feet untuk 35mm dan 400 feet untuk 16mm.
Reflector :
Pemantul yang permukaannya berlapis perak digunakan untuk memantulkan cahaya. Untuk pengambilan film eksterior reflektor sering digunakan untuk mengarahkan sinar matahari ke bagian dalam suatu adegan.
Release Print :
Married Print yang dibuat untuk didistribusikan ke bioskop setelah answer print (telah disetujui)

Re-Load :

Penanda dari departemen kamera atau tata suara ketika mereka telah kehabisan persediaan untuk merekam.
Remake :
Produksi suatu film yang sebelumnya telah diproduksi.
Re-Run :
Memutar ulang suatu film atau acara televisi.
Research Departement :
bagian riset yang terdiri dari orang-orang yang menilai otentisitas artikel, benda, kostum, dan peristiwa dalam sebuah film sebelum produksi film tersebut dijalankan.
Resolution, Resolving Power :
Kemampuan lensa atau film untuk menangkap serta menunjukkan detail yang halus.

Re-Take :

Pengulangan sebuah adegan dalam syuting.

Reverse, Reverse Angle :

Lawan dari sudut kamera dari adegan yang baru saja diselsaikan untuk memperlihatkan sisi lain dari gambar.

Rigging :

Sebuah rangka pondasi untuk penyangga lampu penerangan pada suatu set. Sering disebut juga dengan Scaffolding.

Roll, Rool ‘em :

Perintah yang biasanya diberikan oleh asisten sutradara ketika sutradara merasa adegan telah siap untuk pengambilan gambar dengan memfungsikan kamera film dan peralatan rekam lainnya.

Rough Cut :

Penggabungan dari berbagai adegan film menurut suatu cerita yang komprehensip, biasanya sudah dengan dialog dan soundtrack.
Running Shot :
Menggerakkan kamera untuk menyesuaikan dengan aktor/aktris ketika mereka menyeberangi set atau lokasi.
Rushes :
Cetakan dari hasil pengambilan gambar hari itu yang diproses pada hari yang sama sehingga dapat dilihat pada besoknya.
Rundown :
Susunan isi dan alur cerita dari program acara yang dibatasi oleh
durasi, segmentasi, dan bahasa naskah
Run Through :
Latihan akhir bagi seluruh pendukung acara yang disesuaikan dengan
urutan acara dalam rundown
Retake :
Pengambilan ulang suatu gambar/adegan

Sandbag :

Tas/bungkusan berisi pasir untuk pemberat.
Scouting :
Mencari lokasi untuk produksi atau bisa juga mencari orang yang berbakat.
Screen Play :
Naskah lengkap yang menjadi bahan untuk melakukan produksi film.
Screen Test :
Sebuah adegan yang memberikan kesempatan bagi aktor/aktris untuk memperlihatkan kemampuannya. Adegan ini biasanya diambil dari film untuk mempertimbangkan seorang aktor/aktris diambil lengkap dengan menggunakan kostum, set, dan riasan.
Scrim :
Sebuah bendera yang dibuat dari materi tembus cahaya. Kegunaannya adalah sebagian untuk mengurangi dan mendifusikan sumber cahaya. Berada ditengah antara sebuah gobo dan sebuah diffuser.
Script Supervisor, Script Clerk :
Bertanggungjawab untuk mencatat seluruh adegan dan pengambilan gambar yang diproduksi. termasuk semua informasi yang diperlukan seperti durasi, arah gerakan, penagrahan mimik wajah, penempatan aktor/aktris dan properti, serta gerakan fisik yang harus disesuaikan aktor/aktris dalam semua cakupan yang berurutan untuk kemungkinan pengambilan gamabr ulang. Semua informasi ini dimasukkan dalam salinan naskah milik supervisi naskah dan digunakan oleh editor ketika tahap editing. Dalam salinan ini juga dimasukkan catatan dari sutradara untuk editor.
Sequence :
Sebuah rangkaian adegan.
Shutter :
Mekanisme kamera yang mencegah cahaya masuk ke film diantara pengukuran frame segingga serial foto yang terpisah memiliki jarak walaupun gulungan film tetap diputar dalam kamera.
Sneak, Sneak Preview :
Pemutaran film di bioskop tanpa pemberitahuan sehingga pembuat film dapat memperoleh tanggapan dari penonton sebelum didistribusikan secara umum. Seringkali tanggapan dari penonton untuk membuat perubahan dalam film yang menurut produser akan membuat film tersebut lebih berhasil dipasaran.
Soft Focus :
pengambilan gambar dengan lensa yang diatur sedikit out of focus sehingga subyek tampak agak buram. seringkali digunakan ketika memfoto seorang aktor.aktris yang mulai terlihat berkerut.
Soft Light :
Pencahayaan lampu yang memungkinkan tidak menghasilkan bayangan dan berpendar secara keseluruhan.

Sound Camera :

Kamera yang beroperasi dengan tenan selama perekaman gambar sehingga suara dapat direkam tanpa adanya bunyi dari kamera.
Splice, Splicing :
Penggabungan akhir dari 2 buah film sehingga terbentuk sebuah kesatuan yang berkesinambungan. Proses ini disebut splicing, hubungannya disebut splice.
Sprocket :
Roda dengan gerigi teratur yang mencengkeram bagian pinggir film untuk menggerakkannya didalam kamera.
Still man, Photographer :
Bertanggungjawab atas publiitas dan pembuatan foto set serta lokasi. Dapat juga digunakan pada kesempatan tertentu.
Stop Frame :
Pengulangan sebuah frame film untuk memberikan efek diam pada aksi. Juga disebut dengan freeze frame.
Story Board :
Sketsa yang menggambarkan adegan dalam film. Digunakan untuk mempemudah pengambilan gambar.

Sunshade (Lens Shade) :

Kotak persegi panjang untuk meningkatkan ukuran lensa keluar, dipasangkan pada kamera diabgian lensa depan untuk mencegah masuknya cahaya kedalam lensa.
Super, Superimposure :
Penempatan sebuah gambar diatas gambar lainnya, misalnya title atau subtitle terjemahan bahasa.
Swish Pan :
Gerakan panning ketika kamera digerakkan secara cepat dari sebuah sisi ke sisi lainnya, menyebabkan gambar menjadi kabur untuk memunculkan kesan gerakan mata secara cepat.
Simply Shot :
Gambar yang diambil dari sudut yang mudah
Script Format :
Format penulisan naskah acara
Script Marking :
Penandaan pada naskah untuk menjadi catatan bagi sutradara maupun
pendukung produksi lainnya
Stock Shot :
Berbagai bentuk gambar yang diciptakan untuk menjadi pilihan pada
saat gambar-gambar tersebut memasuki proses editing
Suspense :
Istilah yang digunakan untuk menunjukkan adegan yang menegangkan
dan mengundang rasa was-was bagi penonton
Steady Shot :
Gambar sempurna dan tidak terlalu banyak bergerak dan dapat dinikmati
dengan posisi diam
Slow Motion :
Pergerakan gambar yang diperlambat sesuai dengan kebutuhan cerita

Tag, Tag Line :

Kalimat atau tindakan dalam sebuah adegan terakhir dari sebuah film yang diharapkan dapat menjadi puncak dari apa yang telah disuguhkan sebelumnya.

Teaser :

Adegan pertama dari keseluruhan gambar dari cerita. Biasanya adegan yang menarik, digunakan di televisi.
Tele-Photo Lens :
Lensa dengan panjang fokus lebih besar dari normal yang digunakan untuk membuat obyek jauh menjadi dekat.
That’s a Hold :
Perintah dari sutradara pada script supervidor dan asisten kamera bahwa pengambilan gambar yang baru saja selesai tidak akan dikirim ke lab untuk dicetak tapi diberi label “hold” sampai pengambilan gambar lainnya telah selesai dan sutradara memutuskan gambar mana yang akan dicetak.
Tilt :
Menggerakan kamera secara vertikal (naik-turun)
Tone Track :
Soundtrack yang memunculkan bunyi latar yang diasosiasikan dengan lokasi interor atau eksterior. Suara ini biasanya tidak disadari namun memberikan sentuhan realitas yang dibutuhkan oleh sebuah film.
Top Lighting :
Cahaya dari sumber yang diletakkan diatas subyek sehingga turun menyinari.
Transportation Departement :
Bertanggungjawab terhadap semua kendaraan yang digunakan oleh kru dan pemain selama syuting berlangsung. Dalam hal ini termasuk antar dan jemput kru atau pemain.

Treatment :

Presentasi detail dari cerita sebuah film namun belum berbentuk naskah.

Triangle :

Alat yang digunakan untuk menahan kaki-kaki tripod agar tidak bergerak jika diletakkan di lantai yang licin.
Two/Three Shot :
Perintah yang seringkali digunakan oleh sutradara untuk mengarahkan kamera pada dua/tiga obyek yang dituju.
Unit Manager :
Bertanggungjawab atas kelancaran operasi perusahaan film di lokasi.
Variable Speed Motor :
Variasi kecepatan film di kamera untuk keperluan efek khusus.
Viewfinder :
Instrumen optik yang diletakkan samping kiri blimp yang memungkinkan operator kamera untuk mengikuti aksi sementara kamera sedang berputar.
Voice Cue :
Sinyal vokal dari sutradara atau aktor/aktris dalam adegan bahwa sudah waktunya aktor/aktris lain masuk.
VTR :
Video Tape Recording

Very Long Shot :

Gambar yang diambil dari jarak yang sangat jauh
Voice Over :
Suara dari announcer atau penyiar untuk mendukung isi cerita (narasi)

Wardrobe Box :

Kotak penyimpanan kostum.
Wardrobe Departement :
Bertanggungjawab atas pemilihan kostum yang akan dipergunakan untuk produksi.

Wild Line :

Kalimat yang biasanya direkam setelah pengambilan gambar atau diakhir syuting pada hari itu. Dipergunakan untuk mengulang kalimat dari suatu adegan yang telah diambil karena tidak jelas.

White Balance :

Prosedur untuk mengoreksi warna gambar dari kamera dengan
mengubah sensitivitas CCD ke dalam spektrum warna.
Umumnya prosedur ini menggunakan warna putih sebagai dasar
Wild Recording :
Perekaman yang tidak dilakukan selama proses fotografi. efek suara dan bunyi acak biasanya direkam dengan cara ini, kadang untuk narasi dan musik juga. Seringkali disebut Non-Sync.

Wind Machine :

Kipas angin besar yang ditutup dengan kawat pengaman. Digunakan untuk menciptakan efek angin.
Wipe :
Efek optik antara 2 gambar dimana gambar ke-2 mulai di bagian luar layar dan menghapus gambar pertama sampai dengan garis yang masih terlihat dan pada akhirnya menutupi gambar pertama.
Wrap :
Perintah yang digunakan untuk memberitahukan pada semua orang bahwa syuting pada hari itu sudah selesai.

Sript Andhe-Andhe Lumut

Posted by dutabayu on , under | komentar (0)



SCENE 1 (di sekitar jln Smea)
Di siang hari itu Klenting Kuning bertemu dengan seorang pengemis tua. Pengemis itu kelihatannya kehausan. Klenting Kuning itu meresa tidak tega melihatnya. Akhirnya dia memberi minum pada pengemis tua itu.
Klenting Kuning : Nek, sepertinya nenek kehausan. Berhentilah sebentar. Aku akan ambilkan minum untuk nenek.
Pengemis tua : Terima kasih cah ayu, aku akan menunggumu disini.
Klenting Kuning : Ini nek, minumnya. Nenek minum dulu!.
Pengemis tua : terima kasih nak, ini aku punya imbalan buat kamu. Karena kamu udah mempunyai hati yang baik. Terimalah pemberianku ini.
Klenting Kuning : Terima kasih nek, tapi ……? bukankah ini sebuah entong? Untuk apa entong ini nek? Nek….nek….nek…. dimana nenek itu ? kenapa dia cepat sekali menghilang. Padahal aku belum tau buat apa beliau memberi aku sebuah entong ini


SCENE 2 ( di sekitar jln Smea )

Tiba – tiba Klenting Kening mendengar suara pengemis tua itu. ” Anak manis…..simpan benda itu sebaik-baiknya, karena suatu saat kamu akan membutuhkan benda itu untuk membantumu dalam perjalanan menmukan Pangeran pujaan hatimu ”. Laulu suara itu menghilang.
Klenting Kuning : Terima kasih nek ? aku akn menjaga baik – baik benda pemberian nenek itu.

SCENE 3 ( depan Studio )

Di sore hari klenting kuning menyendiri di depan pintu rumahnya.
Klenting kuning : Ya Allah, apakah selamanya aku akan slalu hidup dalam kesengsaraan ini ya Allah?? Aku menyayangi ibu dan kakakku. Tetapi mengapa mereka begitu jahat padaku. Adakah suatu hari ku temukan kebahagiaan??.
SCENE 4 ( Studio )

Disaat klenting kuning merenungi nasibnya datanglah klenting biru, hijaudan klenting merah, dengan raut muka merah.
Klenting merah : He…! klenting kuning, kamu ko’ enak-enakan bengong disini sich? Kita tuch dari tadi nyari’in kamu tau ?!!.
Klenting biru : iya nech, kamu tuch dasar dekil….!!
Mana bau banget lagi….! ih…… jijik bgt dech!!!!
Klenting hijau : Udah ka’, kita ga’ usah lama-lama dekat dia, bau’ banget!!!
Klenting merah : Ya udah! Eh…… klenting kuning aku tugasin sama kamubuat kerjain tugas – tugas sekolah kita.
Klenting hijau : Iya awas lho, kerjain yang benar……!
Klenitng biru : Kalau sampai ada yang salah, kita akan memberi hukuman sama kamu tau?!!! Ya udah kita cepat pergi ga’ tahan deh lama-lama dekat si dekil nich!!
Klenting merah : Ya udah, aku juga ga’ tahan. Inget ya klenting kuning tugas ini harus selesai nanti malam. Awas kalau telat! Ya udah, ayo adik-adik kita pergi!.
Klenting hijau, merah, biru : Awas lho, kerjain yang benar!.
Klenting kuning : Iya kak, akan aku selesaikan malam ini juga.

Malam harinya klenting kuning dapat menyelesaikan semua tugas itu dan diberikan langsung kepada kakak-kakaknya. Keesokan harinya berjalan seperti biasa semua tugas rumah dibebankan kepada klenting kuning. Suasana rumah yang tadinya hening menjadi ramai dikarenakan informasi yang dibawakan Mbok’ Rondho kepada anak-anaknya.
Mbok’ Rondho : Hay anak-anakku, klenting merah, klenting kuning, klenting biru. Sini sayang…! ada kabar untuk kalian.” seorang Pangeran dari kerajaan sebrang sedang mencari permaisuri”.
Klenting merah : Wah…..! berarti kita harus cepat-cepat melamar Pangeran itu donk ma?!.
Mbok’ Rondho : Tepat sekali anakku.
Kelnting hijau : Pasti aku yang terpilih. Aku kan cantik gitu??!.
Klenting Biru : Pasti aku yang terpilih. Aku kan lebih cantik dari kamu?.
Klenting merah : Eh….jangan salah kakakmu yang satu ini masih jauh lebih cantik tau?!.
Mbok’ Rondho : Udah-udah hentikan! Jangan bertengkar donk anak-anakku! Lebih adil lagi gimana kalau kalian bertiga ikut melamar sang Pangeran tampan itu. Gimana????.
Klenting Biru : Iya kak’, itu lebih adil. Kita harus bersaing secara sportif. Daripada kita bertengkar mending kita ikut melamar sama-sama. Gimana??.
Klenting Hijau : Iya aku setuju…….!!!!.
Klenting Merah : Ya udalah, daripada kita bertengkar. Aku juga setuju dech!!!.
Mbok’ Rondho : Nah….gitu donk anak-anakku sayang. Jadi ga’ akan ada yang bertengkar. Sekarang kita harus pikirin kostum apa yang akan kita pakai untuk melamar ketempat Pangeran! Ayo coba pikirkan sekarang…..!.

SCENE 5 ( Studio )
Tiba-tiba klenting kuning mendengar percakapan mereka, akhirnya ikut berkata.
Klenting Kuning : Maaf kalau saya ikut campur. Ma, bolehkah saay ikut melamar sang Pangeran dari negeri sebrang itu?? Maaf, Ma tanpa sengaja tadi saya mendengarkan percakapan antara mama sama kakak.
Mbok’ Rondho : Ya tidak apa-apa. Oh kamu juga mau ikut melamar sang Pangeran?!.
Klenting Merah : Apa ……??!! Si dekil mau ikut melamar sang Pangeran yang tampan itu??
Mendengar kata-kata klenting merah. Klenting hiaju dan klenting biru tertawa terbahak-bahak menertawakan klenting kuning.
Mbok’ Rondho : Sudah-sudah jangan ramai. Klenting kuning kamu boleh ikut melamar Pangeran.
Klenting Merah : Mama….! Kenapa kok’ dibolehi sich?!! Dia Cuma malu-maluin keluarga kita aja!. Lihat dech mukanya yang dekil itu, bau’ lagi……! Ih…..!.
Klenting Biru : biarin aja dech kak’! lagian dia ga’ akan mungkin terpilih, liat dari penampilannya yang dekil itu dan badannya yang sangat menyengat.
Klenting Hijau : Iya kak’! Ga’ mungkinlah Pangeran tampan itu memilih gadis sedikil dia. Kalau dibandingkan sama kita-kita sich! Jauh……yaw..!!.
Klenting Merah : Ya udah kamu boleh ikut. Tapi lihat aja siapa yang bakalan dipilih oleh sang Pangeran.
Mbok’ Rondho : Ya udah, kalian sudah sepakat kan? Semuanya harus sportif! Ga’ boleh ada yang curang. Sekarang kita pikirkan pakaian yang akan kalian pakai dalam melamar sang Pangeran.
Klenting Kuning : Jadi saya boleh ikut melamar sang Pangeran ma?
Mbok’ Rondho :Iya, kamu boleh ikut klenting kuning.
Klenting kuning : Terima kasih ma.
Mbok’ Rondho : Ya udah sana, terusin kerjaanmu!.
Klenting Kuning : Baik ma, terima kasih semuanya. Permisi…..

SCENE 6 ( Studio )
Klenting Kuning meneruskan pekerjaannya. Sedangkan Mbok’ Rondho dan para klenting-klenting yang lain membicarakan kostum yang akan dipakai.
Mbok’ Rondho : Gimana anak-anak ku ? apa kalian sudah daapt ide baju apa yang akan kalian pakai nanti ?.
Klenting Biru : Bagaimana kalau kita memakai baju kebaya yang sesuai dengan warna nama kita ?.
Klenting Merah dan Hijau : Iya kita setuju !.
Mbok’ Rondho : Ya udah, sekarang kostum udah kalian tentukan. Sekarang kalian semua istirahat biar besok pagi wajah kalian kelihatan segar.
Klenting Merah, Hijau, Biru : Ya udah ma, kita istirahat dulu ya ? Da……mama…….
Mbok’ Rondho : Klenting kuning……..!
Klenting Kuning : Iya ma ada apa ??.
Mbok’ Rondho : Sekarang juga kamu istirahat, kamu pasti capek kan ?.
Klenting Kuning : Terima kasih ma, kalau gitu saya permisi dulu.
SCENE 7 ( Studio & kenjeran )
Keesokan paginya para klenting-klenting ribut dengan dandanannya. Karena hari ini mereka akan pergi melamar sang Pangeran. Wajah-wajah klenting Mera, klenting Biru dan klenting Hijau kelihatan gembira, karena mereka merasa cantik. Dan mereak yakin, salah satu diantara mereka pasti terpilih. Tapi klenting kuning beda, dia kelihatan sedih karena dia sebenarnya malu dengan keadaannya. Tapi dia tetap yakin ikut melamar sang Pangeran. Berangkatlah para klenting-klenting itu menuju rumah Pangeran. Tapi ditengah jalan para klenting itu mendapat masalah. Mereka harus menyebrangi lautan jika ke rumah sang Pangeran. Di sana tak terdapat kapal ataupun rakit. Akhirnya, para klenting bingung bagaimana caranya agar dapat menyebrangi lautan itu ?. tiba-tiba munculah seorang Yuyu besar yang terkenal dengn nama ”Yuyu Kangkang”.

Yuyu Kangkang : Hay, gadis-gadis cantik. Mengapa kalian disini ?
Klenting merah : Yuyu kangkang, sebenarnya kita mau menyebrangi lautan ini. Agar kita dapat menuju rumah Pangeran yang ada disebrang sana. Tapi kita bingung dengan apa kita harus menyebranginya ? sedangkan disini tidak ada apa-apa.
Yuyu Kangkang : Itu masalah mudah. Aku bisa membantu kalian. Tapi dengan satu syarat. Setelah aku sebrangkan di ujung sana, satu persatu dari kalian harus mau aku cium sebagai imbalannya. Gimana ? Mau tidak ???.
Klenting Hijau : Mau ajalah kak’ ?!.
Klenting Biru : Iya kak’, daripada kita tidak sampai ke rumah Pangeran. Lagian kan Cuma dicium aja !.
Klenting Merah : Ya udalah Yuyu Kangkang, kita setujutapi kita beneran akan kamu sebrangkan kan ?.
Yuyu Kangkang : Ya pastilah, ya udah sekarang naiklah disini. Pegangan kalau tidak kalian akan terjatuh ka lautan.
SCENE 8 ( kenjeran )
Setelah samapai di ujung. Sesuai janji sebagai imbalannya mereka harus mau di cium Yuyu Kangkang. Dan para klenting itu melanjutkan perjalanannya menuju rumah Pangeran. Sedangkan, Yuyu Kangkang kembali ketempat semula. Lalu datanglah klenting kuning. Dia juga sama seperti klenting-klenting yang lain. Dia bingung naik apa untuk mengarungi lautan ini.
Yuyu Kangkang : Hay gadis…..? Apakah kamu juga akan menyebrang lautan ini?
Klenting Kuning : Ya, tapi aku bingung bagaimana caranya agar kita bisa sampai ke ujung sana karena aku harus secepatnya menuju rumah Pangeran.
Yuyu Kangkang : Tenang, aku bisa membantumu untuk menyebrang lautan ini. Tapi dengan satu syarat. Setelah sampai di ujung kamu harus mau aku cium sebagai imbalannya. Karena kamu aku antar. Gimana mau tidak ?.
Klenting Kuning : Baiklah Yuyu Kangkang, aku terima tawaranmu. Sekarang cepat antarkan aku.
Yuyu Kangkang : Sekarang peganglah tanganku. Kita akan terbang urutan menyebrangi lautan ini.

SCENE 10 ( kenjeran )
Sesampai di ujung Yuyu Kangkang menagih janji Klenting Kuning. Ketika hendak menciumnya, Klenting Kuning mengeluarkan entong dari sela bajunya lalu Klenting Kuning memukul kepala yuyu Kangkang dengan entong tersebut. Akhirnya yuyu kangkang pergi menjauh dari Klenting Kuning. Sesampai dirumah Pangeran, klenting kuning bertemu dengan kakaknya. Ternyata syaimbara itu akan segera dimulai.
Andhe – andhe lumut : Selamat siang para klenting – klenting ? Saya sengaja mengadakan syaimbara ini untuk mencari permaisuri yang akan saya nikahi. Syaimbaranya mudah, siapa saja yang bisa mencabut lidi ini dari tempatnya, maka dailah yang terpilih menjadi permaisuriku. Sudah paham peraturannya ?.
Para Klenting : kita paham Pangeran…..
Klenting Merah : Bolehkah saay dulu yang mencabut lidi itu dari tempatnya ??
Andhe – andhe lumut : Silahkan….? nanti bergantian, setelah ini silahkan Klenting hijau, lalu Klenting biru menyusul. Dan Klenting Kuning kamu terakhir, karena kamu datangnya terakhir. Ya sudah sekarang silahkan dimulai.
Klenting Merah : Terima kasih Pangeran !!.
( Klenting Merah mencoba mencabut lidi itu keluarkan seluruh kekuatannya dan dia capek, dia akhirnya mengaku tidak sanggup).
Andhe – andhe lumut : Klenting merah kamu gagal. Silahkan kelnting Hijau giliranmu.
Klenting Hijau : Terima kasih Pangeran…..
( Klenting Hijau pun berusaah mencabut lidi itu tapi dia juga tidak sanggup ).
Andhe – andhe lumut : Kamu juga gagal Klenting Hijau. Sekarang giliranmu Klenting Biru.
Kelnting Biru : Terima kasih Pangearn tampan. Aku pasti bisa mencabut lidi ini. ( Klenting Biru berusaha sekuat tenaga tetapi dia juga gagal seperti kakaknya ).
Andhe – andhe lumut : Ternyata kamu juga gagal Klenitng Biru. Kini yang terakhir giliranmu Klenting kuning.
Klenting Kuning : Sebelum Klenting Kuning mencoba mencabut lidi itu, dia berdoa agar diberi kemudaahn daalm mencabut lidi itu. Akhirnya Klenting Kuning pun mencabut lidi itu ( dengan sekejap lidi itupun terlepas. Klenting Kuning berhasil, kakaknya pun terheranmelihat Klenting Kuning dengan mudah mencabut lidi itu.
Andhe – andhe lumut : Kamu berhasil Klenting Kuning. Berarti kamulah yang terpilih menjadi permaisuriku. Aku akan segera melamarmu. Maukah kamu menikah denganku Klenting Kuning ?
Klenting Kuning : Tentu saja mau Pangeran. Saya mau menjadi Permaisuri Pangeran.
( karena merasa kalah para Klenting yang lain pergi meninggalkan rumah Pangeran. Lalu Pangeran melamar Klenting Kuning. Dan menikahlah mereka dan hidup mereka hingga akhir hayat mereka berdua).

SCENE 11 ( kenjeran & wukir )
Sesampai di ujung Yuyu Kangkang menagih janji Klenting Kuning. Ketika hendak menciumnya, Klenting Kuning mengeluarkan entong dari sela bajunya lalu Klenting Kuning memukul kepala yuyu Kangkang dengan entong tersebut. Akhirnya yuyu kangkang pergi menjauh dari Klenting Kuning. Sesampai dirumah Pangeran, klenting kuning bertemu dengan kakaknya. Ternyata syaimbara itu akan segera dimulai.
Andhe – andhe lumut : Selamat siang para klenting – klenting ? Saya sengaja mengadakan syaimbara ini untuk mencari permaisuri yang akan saya nikahi. Syaimbaranya mudah, siapa saja yang bisa mencabut lidi ini dari tempatnya, maka dailah yang terpilih menjadi permaisuriku. Sudah paham peraturannya ?.
Para Klenting : kita paham Pangeran…..
Klenting Merah : Bolehkah saay dulu yang mencabut lidi itu dari tempatnya ??
Andhe – andhe lumut : Silahkan….? nanti bergantian, setelah ini silahkan Klenting hijau, lalu Klenting biru menyusul. Dan Klenting Kuning kamu terakhir, karena kamu datangnya terakhir. Ya sudah sekarang silahkan dimulai.
Klenting Merah : Terima kasih Pangeran !!.
( Klenting Merah mencoba mencabut lidi itu keluarkan seluruh kekuatannya dan dia capek, dia akhirnya mengaku tidak sanggup).
Andhe – andhe lumut : Klenting merah kamu gagal. Silahkan kelnting Hijau giliranmu.
Klenting Hijau : Terima kasih Pangeran…..
( Klenting Hijau pun berusaah mencabut lidi itu tapi dia juga tidak sanggup ).
Andhe – andhe lumut : Kamu juga gagal Klenting Hijau. Sekarang giliranmu Klenting Biru.
Kelnting Biru : Terima kasih Pangearn tampan. Aku pasti bisa mencabut lidi ini. ( Klenting Biru berusaha sekuat tenaga tetapi dia juga gagal seperti kakaknya ).
Andhe – andhe lumut : Ternyata kamu juga gagal Klenitng Biru. Kini yang terakhir giliranmu Klenting kuning.
Klenting Kuning : Sebelum Klenting Kuning mencoba mencabut lidi itu, dia berdoa agar diberi kemudaahn daalm mencabut lidi itu. Akhirnya Klenting Kuning pun mencabut lidi itu ( dengan sekejap lidi itupun terlepas. Klenting Kuning berhasil, kakaknya pun terheranmelihat Klenting Kuning dengan mudah mencabut lidi itu.
Andhe – andhe lumut : Kamu berhasil Klenting Kuning. Berarti kamulah yang terpilih menjadi permaisuriku. Aku akan segera melamarmu. Maukah kamu menikah denganku Klenting Kuning ???
Klenting Kuning : Tentu saja mau Pangeran. Saya mau menjadi Permaisuri Pangeran.
( karena merasa kalah para Klenting yang lain pergi meninggalkan rumah Pangeran. Lalu Pangeran melamar Klenting Kuning. Dan menikahlah mereka dan hidup mereka hingga akhir hayat mereka berdua.

Cerita dalam sebuah Skenario

Posted by dutabayu on , under | komentar (0)



Berdasarkan definisi bahwa film adalah CERITA yang dituturkan pada penonton melalui rangkaian gambar bergerak, setelah kita memahami media yang akan kita gunakan untuk menuturkan suatu cerita, maka tentu kita harus mempunyai CERITA yang akan kita tuturkan.


A. IDE POKOK DAN TEMA
Banyak istilah dan definisi yang diajukan dalam berbagai referensi mengenai Ide Pokok dan Tema. Daripada meributkan istilah dan definisi, di sini istilah dan pemahaman mengenai Ide Pokok dan Tema dipilih semata-mata karena pertimbangan praktis bagi kepentingan penulisan skenario film.
IDE POKOK adalah satu kalimat perenungan yang ingin disampaikan pembuat film pada penontonnya. Bobot ide pokok ini akan menentukan bobot suatu film. BOBOT FILM ditentukan oleh BOBOT IDE POKOK dan CARA PENYAJIAN. BOBOT IDE POKOK ditentukan oleh KEDALAMAN PEMIKIRAN dan KELUASAN JANGKAUANNYA, artinya semakin mendalam pemikiran dan semakin luas jangkauan pemikiran (semakin universal) maka semakin berbobot ide pokoknya. Ide Pokok dirumuskan dalam SATU KALIMAT PERNYATAAN.
Setelah kita menemukan ide pokok, maka langkah selanjutnya adalah menetapkan TEMA. Tema menjawab pertanyaan, cerita ini bertutur tentang SIAPA yang BAGAIMANA? Tema dirumuskan dalam bentuk:
Tentang…………. (protagonis), yang……….. (action).
Berdasar rumusan di atas, sejak penetapan tema kita sudah harus menentukan siapa yang menjadi protagonisnya. Tentusaja kita tidak hanya menetapkan tokoh protagonis saja, tetapi tokoh protagonis ini harus melakukan aksi (action). Setiap cerita film adalah tentang karakter (atau beberapa karakter) yang melakukan suatu aksi (action).
Sebenarnya tidak menjadi masalah kita menemukan ide pokok lebih dahulu atau tema lebih dahulu. Tetapi hubungan antara ide pokok dan tema harus terlihat jernih. Tema harus mencerminkan Ide Pokok yang ingin disampaikan, misalnya:
Ide Pokok : Cinta tidak mengenal perbedaan status sosial.
Tema : Tentang seorang milyuner yang jatuh cinta pada pelacur.
Dari contoh tersebut, terlihat hubungan yang jelas antara ide pokok dan tema. Hubungan menjadi TIDAK JELAS jika misalnya dengan ide pokok yang sama dirumuskan tema “tentang seorang remaja yang jatuh cinta pada nenek-nenek”. Remaja jatuh cinta pada nenek-nenek tidak ada hubungannya dengan “perbedaan status sosial” tetapi mungkin rumusan ide pokoknya menjadi, “cinta tidak mengenal perbedaan usia”.
Sebagaimana yang telah diuraikan, tema dirumuskan dengan: “Tentang……… (protagonis) yang………. (action)”. Berdasarkan rumusan ini, kita mempunyai dua unsur penting dari tema, yaitu PROTAGONIS dan ACTION.

B. PROTAGONIS
Tokoh protagonis adalah tokoh yang sanggup menimbulkan PROSES IDENTIFIKASI pada penonton. Penonton menyamakan dirinya dengan tokoh protagonis sehingga penonton ikut merasakan suka dukanya. Proses identifikasi terjadi bila penonton SIMPATI pada tokoh protagonis. Penonton bersimpati pada protagonis bila tokoh protagonis melakukan suatu “KEBAIKAN”.
“Kebaikan” dalam hal ini dituliskan dalam tanda kutip, karena yang dimaksud kebaikan ini relatif sifatnya. Tidak harus tokoh protagonis itu seorang alim ulama atau seorang pendeta, tapi bisa saja sosok penjahat kita jadikan sebagai protagonis. Caranya adalah dengan menutup-nutupi kejahatannya dan menonjolkan kebaikannya. Robin Hood adalah perampok, tetapi sebagai protagonis yang ditonjolkan dia merampok orang kaya untuk menolong orang-orang miskin. Atau sering kita melihat film tentang kehidupan narapidana. Yang namanya napi tentunya tokoh penjahat, tapi yang ditonjolkan misalnya rasa setia kawan atau kesediaan melindungi napi-napi yang lemah.

C. ACTION
Setelah kita mempunyai tokoh protagonis, maka tokoh protagonis ini harus melakukan suatu aksi (action). Action terjadi bukannya tanpa sebab. Tak ada action tanpa sebab, baik action dari benda mati atau manusia. Proses terjadinya action mengikuti hukum alamiah tertentu.
Secara gramatikal setiap kata kerja dituliskan dalam kalimat fundamental: masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Kata kerja memperlihatkan action. Dengan demikian action dapat dinyatakan dalam tiga dimensi waktu: masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Selain berhubungan dengan bentuk; masa lalu, masa sekarang dan masa depan juga merupakan bagian penting dalam cerita.
Waktu yang berbeda memiliki efek yang berbeda dan membangkitkan emosi yang berbeda: mengantisipasi suatu kejadian mengerikan yang akan berlangsung membuat kita takut, ketika kejadian itu berlangsung kita merasa terteror, dan ketika peristiwa sudah berlangsung kita merasa sedih. Atau sebaliknya, jika suatu peristiwa baik akan terjadi kita berharap, saat terjadi kita gembira, setelah terjadi kita merasa nyaman.
Waktu berkembang dari masa lalu ke masa sekarang dan kemudian ke masa depan. Demikian pula action bergerak dari masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Aku mau membunuh, aku membunuh, aku telah membunuh. Tiga hal dihubungkan: sebelum melakukan sesuatu, kita mempun- yai tujuan untuk melakukannya, tujuan menghasilkan pelaksa-naan —– inilah action —– dan setelah dilaksanakan, tercapailah hasilnya.
Terdapat dua hal yang membuat tidak menentunya masa yang akan datang: Pertama, perkembangan masa depan tak terbatas, kita tidak mengetahui peristiwa di masa mendatang, dan kedua, pada kenyataannya tujuan tidak selalu berhasil dicapai, boleh jadi kita ingin membunuh tetapi ternyata orang yang mau kita bunuh terlalu kuat untuk dibunuh.
Masa sekarang membaur ke dalam ketidakpastian ini pula. Jika kita melihat suatu peristiwa —– pelaksanaan tujuan —– kita secara otomatis akan mengetahui sesuatu peristiwa pada masa depan tengah bergerak ke masa sekarang. Pada dasarnya, masa sekarang bergerak pergi dengan cepat sehingga kita tak punya waktu untuk memahami atau mengerti action dalam pelaksanaan aktual. Kita harus mengeta-hui informasi sebelumnya dari apa yang diinginkan untuk mengetahui apa yang dilakukannya.
Seperti juga masa depan, masa lalu adalah tak terbatas. Peritiwa bergerak terus dan terus ke dalam masa lalu, dan konsekuensinya terus menerus menjauh dari kita yang berada pada masa sekarang. Kemudian menjadi semakin dan semakin tidak menarik. Perbedaan funda-mental antara masa lalu dan masa depan terletak pada kenyataan bahwa peristiwa, yang berubah menjadi masa lalu, tak pernah kembali ke masa sekarang sedangkan kejadian pada masa depan yang bebas dapat bergerak ke masa sekarang.
Oleh alasan ini masa lalu dalam cerita film tidak menarik, ini bernilai hanya sebagai motivasi terhadap tujuan masa depan. Masa sekarang terlalu singkat yang tidak memberikan peluang untuk mengetahui atau memahami suatu peristiwa. Konsekuensinya, masa depan dalam cerita film muncul sebagai waktu yang penting secara fundamental.

Karakterisasi Skenario

Posted by dutabayu on , under | komentar (0)



Karakter adalah sarana untuk membawa penonton kedalam perjalanan emosinya. Adalah “melalui” karakter penonton mengalami emosi-emosinya sepanjang perjalanan cerita. Cerita yang relatif sederhana, menjadi kompleks melalui pengaruh dari karakter. Karakter yang dilukiskan dengan baik mendapatkan sesuatu dalam partisipasinya dalam cerita, dan cerita mendapatkan sesuatu dari keterlibatan karakter. Adalah karakter yang memberi dimensi cerita dan menggerakkan cerita dalam arah yang baru dan menentukan alur cerita atau plot, sehingga dapat dikatakan karakter adalah sebab dan plot adalah efek.
Cerita (story) mengisahkan tentang manusia (karakter) dan yang mereka lakukan (action). Action pada dirinya sendiri tidaklah eksis. Seseorang harus melakukan action. Sebaliknya, tidak mungkin mengetahui manusia tanpa action-nya. Film memperlihatkan karakter dalam action-nya. Kita melihat mereka sebagai manusia di dalam alam film. Karakter efektif memperlihatkan suatu kesan bahwa mereka adalah “orang yang sebenarnya”.
Perilaku manusia, meskipun kelihatannya tak terduga, tak pernah terjadi secara kebetulan. Karakterisasi mencakup semua fakta-fakta tentang kemanusiaan, yang membentuk karakter menjadi unik dan individual.
Untuk mengetahui fakta-fakta kemanusiaan, kita harus memiliki pengetahuan yang mencukupi tentang dirinya. Kita harus mengetahui umurnya, misalnya, karena umur berbeda memberikan perilaku yang berbeda. Juga apakah dia laki-laki atau perempuan. Kita harus tahu profesi dan jabatannya. Juga hubungannya dengan orang lain. Kita akan menemukan dari sekian banyak pekerja, karakter individual membedakan antara pekerja yang satu dengan pekerja lainnya. Maka karakter seseorang merupakan perbedaan akhir yang membedakannya dengan yang lain. Karakter efektif adalah karakter yang unik dengan karakteristik mereka yang individual (a unique human being).
Tentusaja karakter tidak hanya menunjukkan satu karakteristik semacam pemarah atau bodoh misalnya. Orang bisa jahat tapi juga pintar dan teguh pendirian. Beberapa action sepanjang cerita bisa memperlihatkan beberapa karakteristik dari karakter, yang dapat dibangun dari tiga dimensi kemanusiaan (a human being) seseorang yang dihasilkan dari pengalaman-pengalaman masa lalunya, yaitu:
1. fisik (fisionomi)
2. psikis, dan
3. sosiologis.

Produksi Film

Posted by dutabayu on , under | komentar (0)




Sebelum membuat cerita film, kita harus menentukan tujuan pembuatan film. Hanya sebagai hiburan, mengangkat fenomena, pembelajaran/pendidikan, dokumenter, ataukah menyampaikan pesan moral tertentu. Hal ini sangat perlu agar pembuatan film lebih terfokus, terarah dan sesuai. Mengembangkan naskah ke dalam program video siap pakai melalui tahapan-tahapannya : Tahap Pra Produksi, Tahap Produksi, Tahap Pasca Produksi
Dalam produksi film sangat erat kaitannya dengan kerabat kerja atau tim atau crue pelaksana pembuatan film dan deskripsi kerjanya masing-masing. Adapun tim tersebut dapat terdiri atas :
1. Sutradara (Director), Bertugas memimpin dan mengarahkan keseluruhan proses pembuatan film.
2. Ide cerita, Pencetus atau pemilik ide cerita pada naskah film yang diproduksi.
3. Penulis skenario/Script Writer, Bertugas menterjemahkan ide cerita ke dalam bahasa visual gambar atau skenario.
4.
Kameramen, Bertugas mengambil gambar atau mengoperasikan kamera saat shooting.
5. Tata cahaya (lighting), Bertugas mengatur pencahayan dalam produksi film.
6.Tata musik (music director), Bertugas membuat atau memilih musik yang sesuai dengan nuansa cerita dalam produksi film.
7. Tata kostum (costume designer), Bertugas membuat atau memilih dan menyediakan kostum atau pakaian yang sesuai dengan nuansa cerita dalam produksi film.
8. Tata Rias (Make up Artist), Bertugas mengatur make up yang sesuai dengan nuansa cerita dalam produksi film.
9. Tata suara dan sound effect (sound recorder), Bertugas membuat atau memilih atau merekam suara dan efek suara yang sesuai dengan nuansa cerita dalam produksi film.
10. Tata artistik (artistic director), Bertugas membuat dan mengatur latar dan setting yang sesuai dengan nuansa cerita dalam produksi film.
11. Editor, Bertugas melakukan editing pada hasil pengambilan gambar dalam produksi film.
12. Kliper, Bertugas memberi tanda pengambilan shot dalam produksi film.
13. Pencatat adegan, Bertugas mencatat adegan atau shot yang diambil serta kostum yang dipakai dalam produksi film.
14. Casting, Bertugas mencari dan memilih pemain yang sesuai ide cerita dalam produksi film.

TAHAP PRA PRODUKSI ANALISIS IDE CERITA.
Sebelum membuat cerita film, kita harus menentukan tujuan pembuatan film. Hanya sebagai hiburan, mengangkat fenomena, pembelajaran/pendidikan, dokumenter, ataukah menyampaikan pesan moral tertentu. Hal ini sangat perlu agar pembuatan film lebih terfokus, terarah dan sesuai. Jika tujuan telah ditentukan maka semua detail cerita dan pembuatan film akan terlihat dan lebih mudah. Jika perlu diadakan observasi dan pengumpulan data dan faktanya. Bisa dengan membaca buku, artikel atau bertanya langsung kepada sumbernya.
Ide film dapat diperoleh dari berbagai macam sumber antara lain:
• Pengalaman pribadi penulis yang menghebohkan.
• Percakapan atau aktifitas sehari-hari yang menarik untuk difilmkan.
• Cerita rakyat atau dongeng.
• Biografi seorang terkenal atau berjasa.
• Adaptasi dari cerita di komik, cerpen, atau novel.
• Dari kajian musik, dll

MENYIAPKAN NASKAH
Jika penulis naskah sulit mengarang suatu cerita, maka dapat mengambil cerita dari cerpen, novel ataupun film yang sudah ada dengan diberi adaptasi yang lain. Setelah naskah disusun maka perlu diadakan Breakdown naskah. Breakdown naskah dilakukan untuk mempelajari rincian cerita yang akan dibuat film.

MENYUSUN JADWAL DAN BUDGETING
Jadwal atau working schedule disusun secara rinci dan detail, kapan, siapa saja , biaya dan peralatan apa saja yang diperlukan, dimana serta batas waktunya. Termasuk jadwal pengambilan gambar juga, scene dan shot keberapa yang harus diambil kapan dan dimana serta artisnya siapa. Lokasi sangat menentukan jadwal pengambilan gambar.
Hal-hal yang perlu diperhatikan saat menyusun alokasi biaya:
• Penggandaan naskah skenario film untuk kru dan pemain.
• Penyediaan kaset video.
• Penyediaan CD blank sejumlah yang diinginkan.
• Penyediaan property, kostum, make-up.
• Honor untuk pemain, konsumsi.
• Akomodasi dan transportasi.
• Menyewa alat jika tidak tersedia.

HUNTING LOKASI
Memilih dan mencari lokasi/setting pengambilan gambar sesuai naskah. Untuk pengambilan gambar di tempat umum biasanya memerlukan surat ijin tertentu. Akan sangat mengganggu jalannya shooting jika tiba-tiba diusir dipertengahan pengambilan gambar karena tidak memiliki ijin (dan saya mengalaminya.. hehe).
Dalam hunting lokasi perlu diperhatikan berbagai resiko seperti akomodasi, transportasi, keamanan saat shooting, tersedianya sumber listrik, dll. Setting yang telah ditentukan skenario harus betul-betul layak dan tidak menyulitkan pada saat produksi. Jika biaya produksi kecil, maka tidak perlu tempat yang jauh dan memakan banyak biaya.

MENYIAPKAN KOSTUM DAN PROPERTY.
Memilih dan mencari pakaian yang akan dikenakan tokoh cerita beserta propertinya. Kostum dapat diperoleh dengan mendatangkan desainer khusus ataupun cukup membeli atau menyewa namun disesuaikan dengan cerita skenario. Kelengkapan produksi menjadi tanggung jawab tim property dan artistik.

MENYIAPKAN PERALATAN
Untuk mendapatkan hasil film/video yang baik maka diperlukan peralatan yang lengkap dan berkualitas. Peralatan yang diperlukan (dalam film minimalis) :
• Clipboard.
• Proyektor.
• Lampu.
• Kabel Roll.
• TV Monitor.
• Kamera video S-VHS atau Handycam.
• Pita/Tape.
• Mikrophone clip-on wireless.
• Tripod Kamera.
• Tripod Lampu.

CASTING PEMAIN
Memilih dan mencari pemain yang memerankan tokoh dalam cerita film. Dapat dipilih langsung ataupun dicasting terlebih dahulu. Casting dapat diumumkan secara luas atau cukup diberitahu lewat rekan-rekan saja. Pemilihan pemain selain diperhatikan dari segi kemampuannya juga dari segi budget/pembiayaan yang dimiliki.

TAHAP PRODUKSI TATA SETTING
Set construction merupakan bagunan latar belakang untuk keperluan pengambilan gambar. Setting tidak selalu berbentuk bangunan dekorasi tetapi lebih menekankan bagaimana membuat suasana ruang mendukung dan mempertegas latar peristiwa sehingga mengantarkan alur cerita secara menarik.

TATA SUARA
Untuk menghasilkan suara yang baik maka diperlukan jenis mikrofon yang tepat dan berkualitas. Jenis mirofon yang digunakan adalah yang mudah dibawa, peka terhadap sumber suara, dan mampu meredam noise (gangguan suara) di dalam dan di luar ruangan.

TATA CAHAYA
Penataan cahaya dalam produksi film sangat menentukan bagus tidaknya keualitas teknik film tersebut. Seperti fotografi, film juga dapat diibaratkan melukis dengan menggunakan cahaya. Jika tidak ada cahaya sedikitpun maka kamera tidak akan dapat merekam objek.
Penataan cahaya dengan menggunakan kamera video cukup memperhatikan perbandingan Hi light (bagian ruang yang paling terang) dan shade (bagian yang tergelap) agar tidak terlalu tinggi atau biasa disebut hight contrast. Sebagai contoh jika pengambilan gambar dengan latar belakang lebih terang dibandingkan dengan artist yang sedang melakukan acting, kita dapat gunakan reflektor untuk menambah cahaya.
Reflektor dapat dibuat sendiri dengan menggunakan styrofoam atau aluminium foil yang ditempelkan di karton tebal atau triplek, dan ukurannya disesuaikan dengan kebutuhan.
Perlu diperhatikan karakteristik tata cahaya dalam kaitannya dengan kamera yang digunakan. Lebih baik sesuai ketentuan buku petunjuk kamera minimal lighting yang disarankan. Jika melebihi batasan atau dipaksakan maka gambar akan terihat seperti pecah dan tampak titik-titik yang menandakan cahaya under.
Perlu diperhatikan juga tentang standart warna pencahayaan film yang dibuat yang disebut white balance. Disebut white balance karena memang untuk mencari standar warna putih di dalam atau di luar ruangan, karena warna putih mengandung semua unsur warna cahaya.

TATA KOSTUM (WARDROBE)
Pakaian yang dikenakan pemain disesuaikan dengan isi cerita. Pengambilan gambar dapat dilakukan tidak sesuai nomor urut adegan, dapat meloncat dari scene satu ke yang lain. Hal ini dilakukan agar lebih mudah, yaitu dengan mengambil seluruh shot yang terjadi pada lokasi yang sama. Oleh karenanya sangat erlu mengidentifikasi kostum pemain. Jangan sampai adegan yang terjadi berurutan mengalami pergantian kostum. Untuk mengantisipasinya maka sebelum pengambilan gambar dimulai para pemain difoto dengan kamera digital terlebih dahulu atau dicatat kostum apa yang dipakai. Tatanan rambut, riasan, kostum dan asesoris yang dikenakan dapat dilihat pada hasil foto dan berguna untuk shot selanjutnya.

TATA RIAS
Tata rias pada produksi film berpatokan pada skenario. Tidak hanya pada wajah tetapi juga pada seluruh anggota badan. Tidak membuat untuk lebih cantik atau tampan tetapi lebih ditekankan pada karakter tokoh. Jadi unsur manipulasi sangat berperan pada teknik tata rias, disesuaikan pula bagaimana efeknya pada saat pengambilan gambar dengan kamera. Membuat tampak tua, tampak sakit, tampak jahat/baik, dll.

TAHAP PASCA PRODUKSI PROSES EDITING
Secara sederhana, proses editing merupakan usaha merapikan dan membuat sebuah tayangan film menjadi lebih berguna dan enak ditonton. Dalam kegiatan ini seorang editor akan merekonstruksi potongan-potongan gambar yang diambil oleh juru kamera.
Tugas editor antara lain sebagai berikut:
• Menganalisis skenario bersama sutradara dan juru kamera mengenai kontruksi dramatinya.
• Melakukan pemilihan shot yang terpakai (OK) dan yang tidak (NG) sesuai shooting report.
• Menyiapkan bahan gambar dan menyusun daftar gambar yang memerlukan efek suara.
• Berkonsultasi dengan sutradara atas hasil editingnya.
• Bertanggung jawab sepenuhnya atas keselamatan semua materi gambar dan suara yang diserahkan kepadanya untuk keperluan editing.

REVIEW HASIL EDITING
Setelah film selesai diproduksi maka kegiatan selanjutnya adalah pemutaran film tersebut secara intern. Alat untuk pemutaran film dapat bermacam-macam, dapat menggunakan VCD/DVD player dengan monitor TV, ataupun dengan PC (CD-ROM) yang diproyeksikan dengan menggunakan LCD (Light Computer Display). Pemutaran intern ini berguna untuk review hasil editing. Jika ternyata terdapat kekurangan atau penyimpangan dari skenario maka dapat segera diperbaiki. Bagaimanapun juga editor juga manusia biasa yang pasti tidak luput dari kelalaian. Maka kegiatan review ini sangat membantu tercapainya kesempurnaan hasil akhir suatu film.

PRESENTASI DAN EVALUASI

Setelah pemutaran film secara intern dan hasilnya dirasa telah menarik dan sesuai dengan gambaran skenario, maka film dievaluasi bersama-sama dengan kalangan yang lebih luas. Kegiatan evaluasi ini dapat melibatkan :
• Ahli Sinematografi.
• Untuk mengupas film dari segi atau unsur dramatikalnya.
• Ahli Produksi Film.
• Untuk mengupas film dari segi teknik, baik pengambilan gambar, angle, teknik lighting, dll.
• Ahli Editing Film (Editor).
• Untuk mengupas dari segi teknik editingnya.
• Penonton/penikmat film.
• Penonton biasanya dapat lebih kritis dari para ahli atau pekerja film. Hal ini dikarenakan mereka mengupas dari sudut pandang seorang penikmat film yang mungkin masih awam dalam pembuatan film.

Amankah Penggunaan Abate?

Posted by dutabayu on 13 November 2009 , under | komentar (0)




Bulan November hingga bulan yang berakhiran-ber merupakan musim pancaroba. Di musim ini nyamuk terutama nyamuk demam berdarah sangat menyukai air tergenang untuk berkembang biak. Agar nyamuk tersebut tidak berkembang biak serta tidak timbul jatuh korban yang banyak maka dapat dilakukan pencegahan yang dimulai dari lingkungan sekitar kita.

Selama ini langkah-langkah pencegahan dikenal dengan nama 3M, menguras, menutup dan menguburkan barang-barang bekas. Juga kerap dilaksanakan pengasapan atau yang lebih dikenal dengan fogging, penaburan bubuk abate di dalam bak mandi juga dilakukan untuk membunuh jentik-jentik nyamuk merupakan langkah-langkah preventif untuk nyamuk demam berdarah. Selain itu juga bila anda memiliki hobi memelihara ikan cupang atau ikan lele yang pakannya jentik nyamuk sangat membantu membasmi berkembang biaknya nyamuk tersebut.

Penggunaan bubuk abate sangat baik dilakukan untuk mematikan jentik-jentik nyamuk tersebut. Namun apakah air yang tercampur oleh bubuk abate tersebut layak untuk diminum oleh manusia? Sebuah riset sederhana dapat dilihat bahwa ikan yang berenang di dalam air yang bersih kemudian kita campurkan bubuk abate di dalam ikan tersebut maka dapat dipastikan ikan tersebut akan mabuk lantas mati. Oleh karena itu ikan yang menjadi 'kelinci percobaan' tidak layak diminum oleh manusia bila telah tercampur bubuk abate.

Anda akan bersedih bila si buah hati jatuh sakit lantaran terkena nyamuk demam berdarah. Jadi sebelum itu terjadi maka anda harus senantiasa memperhatikan lingkungan sekitar dengan melakukan langkah-langkah preventif di atas. Jika anda peduli maka korban demam berdarah dimana sering disebut kejadian luar biasa (KLB) akibat nyamuk tersebut dapat ditekan seminimal mungkin.

Memindahkan Blog Feed Ke FeedBurner

Posted by dutabayu on 07 November 2009 , under , , | komentar (0)




Ok. seperti yang saya katakn sebelumnya, bahwa saat kita mendaftrakan ke feedburner pada dasarnya kita belum mengalihkan atau memindahkan  blog feed kita ke feedburner. Agar semua feed-nya terbaca dan di urus oleh feedburner kita perlu melakukan beberapa settingan dalam halaman Edit Layout blog kita.
1. buka  tab Pengaturan -> Feed situs.
gam 03
2. Dalam Dropdown pilih sindikasinya ke Penuh.
3. Kemudian isikan alamat feedburner yang kita miliki ke dalam kotak  di samping tulisan Posting URL Pengubahan Arah Feed. - setelah beres  klik tulisan Simpan Pengaturan.
gam 04

Feed Auto Detektion
4. Pada halaman depan ( muka )  blog kita klik kanan mouse kemudian klik  View Page Source ( atau untuk browser IE  pilih menu Edit - Source ).
copy paste kode seperti di bawah ini  ke dalam Notepad. ( ingat kode seperti di bawah ini !! karena masing-masing blog mempunyai informasi yang berbeda-beda. )

<meta content='text/html; charset=UTF-8' http-equiv='Content-Type'/>
<meta content='true' name='MSSmartTagsPreventParsing'/>
<meta content='blogger' name='generator'/>
<link rel="alternate"  type="application/atom+xml"
title="Muqaddimah Online - Atom"
href="http://namablogkamu/feeds/posts/default" />
<link rel="alternate" type="application/rss+xml"
title="namablogkamu - RSS"
href="http://namablogkamu/feeds/posts/default?alt=rss" />
<link rel="service.post"
type="application/atom+xml"  title="judulblog - Atom"
href="http://www.blogger.com/feeds/597620046253070844/posts/default" />
<link rel="EditURI"
type="application/rsd+xml" title="RSD"
href="http://www.blogger.com/rsd.g?blogID=597620046253070844" />
<link rel="openid.server"
href="http://www.blogger.com/openid-server.g" />

kemudian ganti tulisan yang berwarna merah di atas dengan kode ini.



<link rel="alternate" type="application/atom+xml"
title="judul blog - Atom"
href="http://feeds.feedburner.com/YourFeedburnerFeed" />
<link rel="alternate" type="application/rss+xml"
title="judul blog - RSS"
href="http://feeds.feedburner.com/YourFeedburnerFeed" />

* ganti namafeedkamu



hasilnya kira-kira  menjadi seperti ini.



<meta content='text/html; charset=UTF-8' http-equiv='Content-Type'/>
<meta content='true' name='MSSmartTagsPreventParsing'/>
<meta content='blogger' name='generator'/>
<link rel="alternate" type="application/atom+xml"
title="judulblog - Atom"
href="http://feeds.feedburner.com/feedkamu" />
<link rel="alternate" type="application/rss+xml"
title="Minima Theme Switch Demo - RSS"
href="http://feeds.feedburner.com/feedkamu" />
<link rel="service.post" type="application/atom+xml"
title="judulblog - Atom"
href="http://www.blogger.com/feeds/8301582465326140745/posts/default" />
<link rel="EditURI" type="application/rsd+xml" title="RSD"
href="http://www2.blogger.com/rsd.g?blogID=8301582465326140745" />

 *ganti namafeedkamu

Setelah itu dalam Edit layout  klik tab Tata Letak -> Edit Html.
kemudian cari dan ganti baris kode ini dengan kode di atas.

<b:include data='blog' name='all-head-content'/>

 Setelah beres klik tulisan Simpan Perubahan.
 Sekarang blog feed kita sudah di alihkan dan di urus oleh feedburner.

Memperbaharui Judul Blog Untuk Search Engine

Posted by dutabayu on , under , | komentar (0)



Dulu waktu pertama ngeblog saya terkadang  heran melihat sebuah blog  yang di status browser atasnya selalu berubah-rubah sesuai dengan judul postingan yang saya klik ( baca ).
Contoh. jika pada halaman utamanya menampilkan nama Judul blog-nya.
SHOTOSHOP SATU
gam-01
Maka saat saya membaca salah satu artikelnya, yang terlihat pada status browser atas,  bukan menampilkan Judul Blog  berikut Judul Postingan . seperti ini.
SHOTOSHOP SATU -  Mengabungkan dua buah photo. ( judul postingan )
gam-02
Tapi yang terlihat hanya menampilan Judul Postingan saja . seperti ini.
Mengabungkan dua buah photo ( judul postingan ).
gam-03
Konon yang menampilkan hanya judul postingannya saja ketika seseorang membaca salah satu artikel,  merupakan settingan yang  benar untuk keperluan mesin pencari seperti google dll.
nah bagaimana agar blogspot kita dapat  membaca  dan membedakan antara judul blog dan  judul postingan seperti itu ?
Dalam dasboard ( halaman template ) buka tab Edit Html - kemudian cari judul blog ( title tags ) ini.

<title><data:blog.title/></title>

Kemudian ganti dengan kode ini.

<b:if cond='data:blog.pageType == &quot;index&quot;'>
<title><data:blog.title/></title>
<b:else/>
<title><data:blog.pageName/></title>
</b:if>

Setelah beres klik Simpan Perubahan. dan coba sekarang kita cek perubahannya dengan menekan salah satu judul postingan pada blog kita.
yuu selamat mencoba.

Update :

Jika kode di atas tidak berpengaruh coba gunakan kode di bawah ini.

<b:if cond='data:blog.pageType != "item"'>
<title><data:blog.title/></title>
<b:else/>
<title><data:blog.pageTitle/></title>
</b:if>

Dan jika ingin meta descriptionnya di perbahurui juga masukan kode ini.

<b:if cond='data:blog.pageType != "item"'>
<meta name="Description" content="Add here a short description of your site" />
</b:if>

Selamat mencoba


Menganti tag judul postingan dari H3 menjadi H1

Posted by dutabayu on , under , | komentar (0)



Trik ini sebagian orang sudah tahu dan sebagian-nya lagi belum . dan saya tulis ini untuk yang belum mengetahuinya.

Konon menurut orang pintar “seo”, tag Heading 1 [ H1 ] merupakan tag ajib yang membuat blog kita bisa nongkrong di list google. Makanya sebagian orang mengantikan Judul Postingan [ title post ] –nya dengan tag H1 ini.








Tampa berkomentar tentang mitos H1 ini, jika kita ingin menganti judul postingan menjadi Heading 1 [ H1 ] caranya mudah and gampang.
Pertama :
centang/tandai Expand Template Widget.
Kedua :
Cari dan ganti tag css untuk judul postingan [ title post ] dari H3 menjadi H1. seperti ini. ( mungkin sebagian template mengunakan tag h2.h4 dll  .red)

.post h3 { …. kode }

    .post h3 a, .post h3 a:visited, .post h3 strong { … kode }

    .post h3 strong, .post h3 a:hover { … kode }
menjadi
.post h1 { …. kode }
.post h1 a, .post h1 a:visited, .post h1 strong { … kode }
.post h1 strong, .post h1 a:hover { … kode }
Ketiga :
Kemudian dalam kode Html –nya cari dan ganti H3 ( atau h2, h4 dll ) tersebut dengan H1.

<h3 class='post-title entry-title'>
    <b:if cond='data:post.link'>
      <a expr:href='data:post.link'><data:post.title/></a>
    <b:else/>
       <b:if cond='data:post.url'>
         <a expr:href='data:post.url'><data:post.title/></a>
       <b:else/>
         <data:post.title/>
       </b:if>
    </b:if>
     </h3>

Menjadi

    <h1 class='post-title entry-title'>
        <b:if cond='data:post.link'>
          <a expr:href='data:post.link'><data:post.title/></a>
        <b:else/>
           <b:if cond='data:post.url'>
             <a expr:href='data:post.url'><data:post.title/></a>
           <b:else/>
             <data:post.title/>
           </b:if>
        </b:if>
         </h1>

Permalink di blogger

Posted by dutabayu on , under | komentar (0)



Yup boogle lanjut. soalnya mungpung masih bersemangat.. heuehueu… kalau di endapkan nanti idenya takut hilang :D. apalagi untuk nulisnya jika menunggu waktu mungkin sudah tidak bersemangat lagi.. heuehueu
Kali ini boogle akan curhat tentang Permalink.

Apaaaan tuh Permalink

Permalink merupakan singkatan dari Permanent Link.Yaitu alamat url yang merujuk ke halaman postingan.Dengan adanya permalink maka browser bisa menavigasi kepada postingan kita, begitu juga mesin pencari seperti google dan nyahoo menggunakan permalink untuk mengkategorikan postingan.
Blogger yang kita gunakan secara otomatis menghasilkan permalink berdasarkan judul postingan.
Namun pembahasan permalink vesi blogger ini tidak seheboh seperti di wordpress. karena di wordpress permalink bisa di customisasi, sedang di blogger permalink –nya tetap saja sesuai dengan judul postingan waktu pertama kali di terbitkan, walapun judulnya kita ganti beberapa kali pun.
Contoh Judul artikel ini adalah

Bermain-main Permalink di Blogger Yuk


Sedangkan Permalink nya.

Permalink Versi Blogger


http://catalog-tutorial.blogspot.com/2009/10/permalink-versi-blogger.html

Mau bukti !. coba lihat pada status addres bar
permalink
( bandingkan dengan judul sekarang )

Kita pun bisa bermain-main permalink seperti ini.
Judul pertama ( permalink )

Inul dan Dewi Persik Saling Caci

Setelah kita terbitkan ( publish ), kemudian kita ganti judulnya sesuai dengan tema artikel kita misalkan.

Merawat Gigi Yang Benar Sesuai Rekomendasi Dokter

.
wkwkwkw.. apa ini termasuk nyepam sama Om google yach ?
Note : Agar ngefek permalink –nya mungkin butuh interval waktu, setelah googlebot berkunjung misalnya, atau satu bulan ( itu juga kemungkinan sih.. red ).

Kesimpulan Boogle

Benarkah yang di list dalam search google, yahoo dll adalah permalink?
Walaupun di luaran banyak yang berbicara seperti itu , namun boogle sendiri belum mencoba untuk membuktikanya.
Namun intinya menurut boogle, rencanakanlah yang lebih mendalam dan hati-hati untuk membuat judul artikel sebelum di terbitkan, jika banyak waktu luang lakukan survei melalui kotak serach engine . Dan usahakan judul artikel sebagai permalink tidak lebih dari 35 atau 40 karakter. Karena judul yang ringkas dan padat menurut gosip sangat Seo Frendly.
Contoh Permalink yang Buruk ( tulisan boogle sendiri red ).

Bagaimana Menambah Avatar Comment Bagi Template Non Standar

di address bar-nya tulisanya menjadi terputus. ( lihat terpotong sampai “ Bagi”.)
http://catalog-tutorial.blogspot.com/2009/09/bagaimana-menambah-avatar-comment-bagi.html
Seharusnya untuk permalink

Menambah Avatar Comment

 

fun-and-happy

Update kode verifikasi di webmaster tool

Posted by dutabayu on , under | komentar (0)



Hehehe.. kalau ngomongin google dance ( update rank ) seru sekali euy. Boogle baca pada beberapa postingan teman-teman banyak yang gembira dengan update sekarang ini. Walaupun ada beberapa yang nangis karena page rank na jatuh.
Awalnya PR3 kemudian bulan kemarin terpeleset ke PR0, namun update sekarang dancing ke PR2. pada hal selama satu bulan ini blog tersebut cuman update tiga postingan, itu pun dua postingan isinya iklan doank. – aneh sampai sekarang boogle belum menggerti hitungan algoritmanya.

Update kode Verifikasi

Aniway, ngomong-ngomong tentang update sebenarnya kode verifkasi untuk blog kita di webmaster tool telah lama di update atau berubah. kalau dulu kita menerima kode verifikasi-nya seperti ini.
contoh code verifikasi lama

<meta content='71K2F4EWJR+9cYh022glOhsOikaRCbcDFXmBi2jaU2w=' name='verify-v1'/>

Sekarang kode verifikasi-nya seperti ini
contoh code verifikasi sekarang

<meta content='CoJiN2yNDcUYTdlbK-iOBhhyjSjKdWuCMmVu3D4viwc' name='google-site-verification


Apakah perubahan ini berpengaruh terhadap search index, seo atau feed ?
Sampai saat ini saya belum mendapatkan informasi detail tentang perubahan kode verifikasi ini. Namun biasanya pada sebuah software dst, update di adakan selain menutup bug pada versi sebelumnya, biasanya update merupakan penambahan tool dan fungsi.
Saya sendiri sih untuk blog-blog yang baru sudah menggunakan new kode verikasi, tapi untuk yang sudah berkarat seperti blog ini saya masih menggunakan verifikasi yang lama, – mungkin sambil lihat-lihat secara trial and error atau sampai ada informasi yang detail tentang fungsi update verifikasi ini. Atau ente punya informasi update ini ??

 

Upload Foto Dapat Uang

Posted by dutabayu on , under , | komentar (0)




Bagi anda yang belum mengerti apa itu upload, upload foto adalah proses mengirimkan dan mengtrasfer foto dari komputer kita ke internet sehingga dapat dilihat oleh semua orang maupun orang tertentu yang kita kehendaki.
Bagi anda yang mempunyai koleksi foto yang menarik, lucu, aneh, dan unik anda berpeluang untuk mendapatkan uang banyak dari koleksi anda tersebut. Jadi jangan biarkan foto-foto anda hanya menjadi wallpaper di desktop anda, promosikan dan dapatkan uang sebagai imbalannya.
Kenapa saya bilang promosikan? Karena semakin banyak orang melihat gambar atau foto anda maka akan banyak uang yang akan anda terima. Anda dapat mempromosikannya ke keluarga, teman, saudara, rekan, maupun orang terdekat anda lainnya. Anda juga dapat mempromosikannya di internet malalui blog, forum, maupun website lain seperti facebook maupun friendster.
Jika anda siap untuk berpartisipasi anda dapat mengunjungi shareapic. Kenapa shareapic? Shareapic adalah website yang memberikan komisi kepada anda untuk upload foto dan setiap gambar yang dilihat pengunjung gallery anda. semakin banyak yang melihat semakin banyak uang yang anda dapat.
Selain itu di shareapic memungkinkan anda untuk menambah income dengan mengabungkannya dengan program paid perclick yaitu bidvertiser. Jadi selain dapat uang dari foto anda juga berpeluang dapat uang

Digital Art Full 15 Vol

Posted by dutabayu on 05 November 2009 , under | komentar (0)


Virtual Hypnosis v5.7 + Upgrade v5.8

Posted by dutabayu on , under | komentar (0)



Dr pd nti da DL tapi sia2 mending aq kasih kabar dr sekarang ....
klo pengen software nya berjalan dengan audio di situ aq sedia in Microsoft Speech System SDK v4.0
tapi harus compatible dengan SC nya, SC harus 16bit.

tapi klo ga pake audio ni software juga masih isa di gunain kok

Download Link